
Berulang kali Ayu mengucapkan kata maaf karena sudah berani pergi tanpa izin Angga. Ia merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa nya saat ini. Berdosa pada suami yang menjadi imamnya.
''Aku berjanji tidak akan keluar tanpa kamu dan ridho mu,'' ucapnya serius.
Angga tersenyum. Untuk saat ini melihat Ayu saja sudah menjadi obat kecemasannya. Tidak ada yang ia pikirkan selain kesehatan wanita tersebut.
''Kamu jangan banyak bicara, aku yakin ini masih sakit,'' ucap Angga mencium kening Ayu dengan lembut, sedangkan satu tangannya mengusap perutnya.
Dokter datang dan berdiri di belakang Angga.
''Alhamdulilah anak Anda juga selamat, Tuan. Semoga ini kejadian yang pertama dan terakhir.''
Angga mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Kembali fokus pada wajah Ayu yang sedikit pucat.
''Maafkan aku,'' ucap Ayu lirih.
Angga kembali tersenyum. Melepaskan sepatunya lalu naik ke ranjang. Ikut berbaring di samping sang istri yang nampak masih bersalah.
''Gak papa, Sayang. Tadi aku juga salah karena sudah mematikan hp. Seandainya aku selalu menyalakan. Gak mungkin ada kejadian seperti ini.'' Angga mencium pipi Ayu dengan lembut. Menunjukkan kasih sayangnya yang memang sangat berlebihan.
''Jangan katakan ini pada mama, aku takut dia cemas,'' pinta Ayu penuh harap.
Angga mengangguk setuju, karena semua selamat dan baik-baik saja, ia akan merahasiakannya dari siapapun termasuk anak-anak.
Ayu membenamkan wajahnya di dada bidang Angga. Memejamkan matanya karena terlalu lelah menangis.
Angga memanggil suster dengan lambaian tangan dan menyuruhnya untuk memanggil Wendi yang ada di luar.
''Saya, Pak,'' Wendi membungkuk ramah, menyapa.
''Kamu cari orang yang mencopet istriku. Aku ingin dia mendapat balasan yang setimpal. Jangan biarkan dia tenang, paling tidak bawa ke kantor polisi,'' suruh Angga dengan suara lirih, takut membangunkan Ayu yang sudah terlelap.
''Baik, Pak.'' Wendi meninggalkan ruangan itu dan langsung bertanya di mana tempat Ayu ditabrak dan dicopet.
Setelah mendapatkan alamat, Wendi langsung meluncur ke lokasi. Ditemani seorang wanita yang jelas menjadi saksi dari kejadian yang menimpa Ayu.
''Itu si Memet memang pencopet. Dia sangat meresahkan. Tidak ada yang berani melapor karena sering mengancam,'' ujar wanita yang duduk di samping Wendi.
__ADS_1
''Apa ibu tahu ciri-cirinya?'' tanya Wendi meminta penjelasan.
''Rambutnya gondrong selalu memakai celana robek-robek dan baju kotak. Telinganya banyak tindiknya.'' Wanita itu pun menyebutkan beberapa ciri-ciri dari orang yang saat ini menjadi incaran Angga.
''Baiklah terima kasih. Jika Anda takut gak usah temani saya, silahkan nanti Anda pergi.'' Wendi tidak hanya bertanya pada satu orang, namun menanyakan tentang pria yang bernama Memet itu pada beberapa orang yang memang berada di sekitar pasar itu.
''Apa Memet berkuasa di tempat ini?'' tanya Wendi memastikan.
''Iya, Pak. Dia sering ngamuk-ngamuk pada penjual yang gak mau setor. Sering juga mencopet pengunjung asing.''
''Gak ada yang lapor ke polisi?'' Wendi menatap beberapa orang yang menggeleng. Seolah mereka berada dalam tekanan yang ia sendiri tak tahu.
''Apa Kalian tahu tempat tinggalnya?'' tanya Wendi kemudian setelah mencatat beberapa berita tentang pria itu.
''Dia sering pindah-pindah, Pak. Terkadang juga tidur di gudang belakang pasar. Kawannya banyak, kami gak berani melawan. Melapor pun percuma itu hanya akan membuatnya semakin kejam.''
Ini gak bener, aku harus menghubungi pak Angga.
Wendi mengucapkan terima kasih. Ia berbicara serius dengan sang bos sebelum mengambil langkah. Sebab, ini masalah yang sangat serius dan perlu dibasmi supaya tidak membuat orang cemas.
Angga menutup ponselnya dan kembali memejamkan mata menemani sang istri yang nampak bermimpi indah.
Hari sudah mulai gelap. Pasar yang tadi dipenuhi pengunjung dan penjual kini sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa pedagang makanan untuk nanti malam yang mulai membuka gerobak masing-masing.
Wendi mengganti bajunya dengan baju biasa dan memakai topi. Ia duduk di sebuah warung kopi yang ada di dekat mobilnya. Matanya mengabsen setiap orang yang melintas.
Gak ada yang mencurigakan, apa malam dia gak ke sini.
Menyeruput kopinya lalu memainkan ponsel di tangannya.
''Bapak bukan warga sini?'' tanya penjual kopi yang dari tadi mengamati penampilan Wendi.
''Bukan, saya dari kota kebetulan melewati tempat ini, karena saya ngantuk dan lelah jadi mencari minuman hangat,'' ucap Wendi berbohong.
Pria yang masih sangat muda itupun mengangguk dan kembali melayani pengunjung lainnya.
Wendi melihat segerombolan anak muda yang melintas. Dari penampilannya, mereka sepertinya pun anak jalanan. Tapi entahlah, untuk saat ini ia fokus dengan satu orang yang bernama Memet, dan ciri-cirinya tidak ada pada mereka.
__ADS_1
Apa aku tanya pada penjual di sini saja ya? Tapi bagaimana kalau salah satu komplotan pencopet itu adalah mereka?
Kembali, mengabsen beberapa pengunjung yang sedang menyantap gorengan.
''Maaf, Mas. Aku sering dengar di sini rawan jambret, apa itu benar?'' tanya Wendi memberikan diri.
''Ssstttt, jangan membahas itu, nanti kalau orangnya dengar baris ngamuk-ngamuk,'' bisik seorang pria yang duduk tepat di samping Wendi.
''Baik, Pak.''
Malam ini juga aku harus mendapatkan bukti kejahatan dia.
Wendi meletakkan ponselnya sedikit jauh dari tempat duduknya. Sengaja memancing mangsa untuk mengambil umpannya.
Tak apalah meskipun lumayan mahal ponsel itu tak ada yang penting, mungkin dengan begitu ia akan segera menemukan titik terang.
''Kopi satu,'' pekik seseorang yang baru saja masuk.
Wendi menoleh dan mengernyitkan dahi. Dari ciri-ciri pria itu mirip seperti yang dikatakan wanita tadi siang. Namun, ia tidak akan berburuk sangka sebelum mendapatkan bukti yang kuat.
''Berapa, Mas?'' tanya Wendi beranjak dari duduknya. Membuka dompet yang berisi beberapa lembar uang ratusan ribu. Sedangkan barang-barang penting sudah ia singkirkan dari tempat itu.
''Apa saja, Pak?'' tanya penjual kopi.
''Kopi satu sama gorengan lima.'' Wendi memberikan uang seratus ribu dan langsung dilirik pria itu.
''Dua puluh ribu, Pak,'' jawab pria itu menerima uang dari Wendi.
''Kembaliannya ambil saja, untuk anaknya Mas,'' ucap Wendi merapikan topinya.
Ia keluar tanpa mengambil ponsel lalu kembali berdiri di samping mobil.
''Sepertinya memang dia orangnya, tunggu aja. Sebentar lagi kamu akan menemukan tempat mu yang sesungguhnya.''
Wendi semakin yakin saat melihat beberapa orang yang tak berani mendekat. Itu sudah menjadi bukti bahwa pria itu ditakuti orang-orang seperti yang ia dengar dari beberapa orang.
''Pak Angga harus tahu tentang ini. Lagipula harusnya dia menyewa orang untuk menjalankan misi seperti ini, bukan aku yang bekerja sebagai asisten.''
__ADS_1