Janda Tangguh

Janda Tangguh
Semakin cantik


__ADS_3

''Ais,'' panggil Ayu pada wanita yang kini merangkap menjadi asistennya. 


''Saya, Bu.'' Ais menghampiri Ayu yang berdiri di ambang pintu kamar. 


''Tadi aku baru dapat pesan dari customer, ada yang mau membeli beberapa buku, katanya minta tanda tangan langsung dariku. Nanti kamu tolong ke toko buku, bawa ke sini ya,'' pinta Ayu menjelaskan. 


''Baik, Bu.'' Ais melirik piyama yang masih melekat di tubuh sang bos. 


Ia tahu harga piyama itu bahkan melebihi motor matic miliknya. 


''Ada apa?'' tanya Ayu menyelidik. 


Ais tersenyum lirih, menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung warna putih. 


''Gak papa, Bu. Hari ini ibu cantik,'' jawabnya. 


Ayu geleng-geleng kepala, kemudian menutup pintu. Menatap Angga yang masih berbaring di atas ranjang. 


Ya, semenjak pulang dari bulan madu seminggu yang lalu, mereka banyak menghabiskan waktu bersama, bahkan Angga pun jarang ke kantor dan menyerahkan pekerjaannya pada Wendi dan Riska. Ia hanya akan berangkat jika ada yang mendesak. 


Ayu duduk di depan meja rias, menatap wajahnya dari pantulan cermin. 


''Mas, apa benar wajahku berubah?'' tanya nya antusias. 


''Iya,'' jawab Angga dengan suara serak. 


''Aku gak bercanda?'' tanya Ayu merengek. 


Angga tertawa keras dan menoleh. ''Beneran,'' jawabnya meyakinkan. 


Ayu mendengus kesal. Mengamati wajahnya sendiri yang menurutnya tak berubah sedikitpun. Namun, orang-orang mengatakan semenjak menjadi istri Angga ia berubah makin cantik. 


''Semakin tua atau awet muda?'' tanya Ayu konyol. 


Angga menyibak selimut. Ia turun dan memeluk Ayu dari belakang. 


''Makin cantik, dan aku rasa sekarang umur kamu kayak masih dua lima deh.'' Menaikkan dagu Ayu dan mengabsen setiap jengkal wajah wanita itu.


Seolah memeriksa, namun mencuri ciuman berkali-kali. 


''Modus, itu mah menurut kamu saja, karena aku istrimu.'' Ayu meninju pipi Angga hingga sang empu melengos. 


''Kapan kita kerumah mama?''  Ayu mengikat rambutnya dengan asal. 


Nampak leher jenjangnya yang putih mulus dan itu saja mampu membuat sesuatu berdiri tegak. 


''Jangan membuatku kacau dong, Sayang. Hari ini aku ada pertemuan penting.'' Angga memalingkan pandangannya takut tergiur lebih dalam dan berakhir di atas ranjang. 

__ADS_1


''Apaan sih?'' Ayu berdiri dari duduknya, namun pergerakan Angga yang lebih cepat mampu membuatnya duduk kembali. 


''Mas,'' pekik Ayu saat merasakan sesuatu melingkar di perutnya. 


Tertawa menggelitik saat jemari nakal itu mulai mencari sesuatu. 


Buih-buih cinta itu memang melekat erat pada pasangan pengantin baru tersebut, sehingga setiap waktu hanya ingin berdua.


Drt Drt Drt 


Dering ponsel membatalkan Angga yang hampir menyatukan bibirnya. 


Ayu meraih benda pipih itu dan melihat nama yang berkelip. 


''Irma.'' Mengucap tanpa bersuara. 


Mendaratkan jarinya di bibir Angga lalu menerima telepon itu. Memberi kode untuk tak bersuara jika tidak diperlukan.


''Assalamualaikum, Ir? Ada apa ya? Tumben pagi-pagi gini telpon?'' tanya Ayu mengawali pembicaraan. 


Terdengar jawaban dari Irma dengan suara pelan, seperti menahan sesuatu. 


''Irma, kamu gak papa, kan?'' tanya Ayu mulai cemas. 


Tidak biasanya sahabatnya itu diam saat menelpon. Namun, kali ini terasa sangat berbeda, bahkan seperti ada sesuatu yang menahannya. 


Angga mengambil alih ponsel dari tangan Ayu. 


''Apa yang bisa ku bantu?'' ucapnya dengan suara berat. 


''Dia butuh dana besar untuk membayar ganti rugi, dan uangku gak cukup untuk itu.''


Angga dan Ayu saling tatap. Mereka bisa merasakan apa yang di rasakan Irma saat ini.


''Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Kamu tenang saja. Kapan kita bisa bertemu?'' tanya Angga selanjutnya. 


''Terserah kamu saja, aku gak mau mengganggu acara kalian,'' jawab Irma sungkan. 


''Ya sudah, sekarang aku tutup ya, karena kamu sangat mengganggu.'' 


Ayu geram bercampur malu dengan ucapan Angga. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain diam. 


''Kapan kamu gak menjengkelkan sih, Mas?'' Ayu mecubit pinggang Angga yang membuat sang empu meringis. 


''Sakit, memangnya kenapa? Aku bener kan. Dia memang mengganggu.'' Mengeratkan pelukannya, sedikitpun tak memberi celah pada Ayu untuk menghindar. 


''Ya, tapi gak gitu juga, namanya gak sopan.'' Ayu menundukkan kepalanya di dada bidang Angga. Menghirup dalam-dalam aroma parfum yang bercampur keringat. 

__ADS_1


''Kasihan ya, Mas. Pasti Irma kacau,'' ucap nya memainkan jari Angga. 


''He--em, dari kecil aku memang berada di lingkungan orang kaya. Hidupku berkecukupan. Mendapatkan apa yang aku mau. Tapi aku bisa merasakan susahnya orang-orang yang kesulitan. Contohnya kamu dulu dan juga sekarang Irma. Jadi apa salahnya membantu.''


Apa yang Ayu takutkan sekarang. Selain memiliki suami tampan, juga pengertian juga wibawa dan berhati mulia. Seolah hidup nya sempurna dan lengkap. Kehadiran pria itu membawa perubahan besar. 


''Kita berangkat sekarang, takut Irma menunggu.'' Ayu menahan tangan Angga yang hampir masuk ke dalam piyama nya. 


''Sebentar saja, setelah ini aku janji kita akan segera berangkat.'' 


Terpaksa Ayu memberi kesempatan pada sang suami sebelum mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. 


''Ngapain kamu datang ke sini?'' Hanan celingukan. Mendorong seorang gadis ke arah gerbang. 


''Aku mau ketemu kamu lah, memangnya gak boleh?''


Hanan terlihat gugup. Kembali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Menghampiri satpam dan menyuruhnya untuk diam. 


''Chika, aku gak mau mama marah. Dia melarang keras aku berpacaran, jadi aku mohon kamu jangan datang ke rumahku. Apalagi sekarang papa di rumah.''


Gadis yang dari tadi dipanggil Chika menatap bangunan mewah yang ada di depannya saat ini. Kemudian beralih menatap Hanan yang masih memakai baju santai. 


''Temani aku jalan, aku janji gak akan ke sini lagi.''


Tidak ada pilihan lain, Hanan terpaksa memenuhi permintaan Chika daripada Ayu keluar dan memergoki nya. 


Baru saja membuka pintu, tampak dua orang berdiri dan menatap Hanan dengan tatapan penuh tanda tanya.  


''Ma--mama, Pa--pa,'' ucapnya gugup, menutup pintu rapat lalu mendekati mereka. 


Kayaknya ada yang bakalan perang. Aku bakalan ada di kubu istriku, biar nanti malam dapat jatah dobel. 


Angga melipat kedua tangannya, siap membela Ayu jika seandainya Hanan membantah. 


''Siapa di depan?'' tanya Ayu menyelidik. Menatap Hanan dengan tatapan tajam. 


''I--ini temanku,'' jawab Hanan terputus-putus. Menautkan sepuluh jarinya. Sesekali melirik ek arah Ayu yang nampak mengintimidasi. 


''Kalau hanya teman, gak mungkin kamu ketemunya sembunyi-sembunyi,'' bantah Ayu serius. 


Hanan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Cukup sulit untuk menjelaskan pada Ayu. Sebab, tidak mungkin wanita itu percaya begitu saja dengan ucapannya. Pasti akan mencari tahu lebih detail. 


''Beneran, Ma. Dia temanku,'' jawab Hanan meyakinkan. 


Angga tertawa geli melihat istrinya yang sudah mulai tersulut emosi. Namun, juga tak tega dengan Hanan yang tampak ketakutan. 


Bahkan laki-laki itu menatap Angga memberi kode minta bantuan. 

__ADS_1


Maaf Hanan, kali ini papa gak bisa membela mu takut tidak dapat jatah. 


__ADS_2