Janda Tangguh

Janda Tangguh
Tidak setuju


__ADS_3

Bu Winda berkali-kali mencecap makanan yang masuk ke mulutnya. Dilihat dari olahannya yang sederhana sudah dipastikan itu hanyalah makanan rumahan, namun rasanya sebanding dengan makanan restoran bintang lima. 


Angga yang duduk di depannya pun menunggu ulasan dari sang mama yang masih nampak menilai dengan lidahnya. 


"Gimana, Ma?" Angga semakin tak sabar dengan jawaban bu Winda. 


Satu tangannya sudah siap mengambil paha ayam dari tempat nya. 


"Ini enak, Ga. Kamu beli di mana?" tanya Bu Winda antusias. 


Angga segera mencicipinya tanpa menjawab pertanyaan dari bu Winda. Ingin merasakan makanan dari calon istrinya. 


Gak salah lagi, Ayu cocok terjun di bidang kuliner. 


"Ini dari calon menantu, Mama," jawab Angga di sela-sela makannya. 


Kini ia sudah lebih berani membuka sedikit demi sedikit sosok Ayu di depan bu Winda. Meskipun belum ada jawaban dari wanita itu, ia yakin akan menerimanya. 


"Calon menantu?" ulang bu Winda meletakkan sendok dan garpunya. Senyum mengembang di sudut bibir nya. 


Angga menggerakkan mata ke kanan dan kiri. Belum sepenuhnya bisa menceritakan hubungannya yang masih samar. 


"Anggap saja seperti itu." Melanjutkan makannya, pura-pura tidak mendengar pertanyaan bu Winda yang bertubi-tubi. 


"Sabar, Ma. Secepatnya aku akan memberikan yang terbaik," ucap Angga meyakinkan. 


"Mama sudah terlalu lama bersabar, Ga. Pokoknya di hari ulang tahunmu nanti kamu harus sudah membawa calon istri," tekan bu Winda dengan jelas. 


Angga hanya bisa mengangguk menghargai permintaan mamanya. Itu artinya ia harus bisa membujuk Ayu supaya mau menerimanya menjadi calon suami. 


"Ngomong-ngomong calon istri kamu umurnya berapa? Dan bekerja di mana?" tanya Bu Winda kepo. 


Angga mengunyah makanannya dengan pelan. Sebenarnya ia masih takut untuk mengungkap jati diri Ayu pada mamanya, namun cepat atau lambat ia harus menjelaskan semua nya. 


"Umurnya tiga puluh satu tahun, Ma. Dia bekerja serabutan. Ayu juga sudah mempunyai tiga anak," ucap Angga jujur, berharap bu Winda mau menerima apa adanya. 


"Apa?" Bu Winda menggeleng tak percaya. Sikapnya berubah seketika mendengar penjelasan itu.


"Kamu gak bercanda, kan?" lanjutnya ketus. 


Angga menggeleng. "Aku serius." 


Bu Winda mendorong piring yang ada di depannya. Kemudian meneguk segelas air putih. Melambaikan tangannya ke arah asisten rumah tangga yang melintas. 

__ADS_1


"Buang semua makanan ini. Aku tidak suka."


Seketika Angga menahan tangan wanita paruh baya yang hampir mengambil makanan dari Ayu. Ia menutup lagi dan menariknya hingga berada di depannya. 


"Kenapa harus dibuang? Bukannya mama suka dengan makanannya?"


Angga sudah menebak, pasti mamanya tidak setuju saat mendengarkan penjelasan tentang Ayu. Namun, ia mempunyai banyak cara untuk membujuk wanita tersebut. 


"Tadi nya mama memang suka, tapi sekarang sudah gak selera makan." 


"Apa ini karena status Ayu?" 


Bu Winda membisu. Tanpa ditanya pasti Angga sudah tahu jawabannya. Memalingkan pandangannya ke arah lain. Itu sudah cukup memberi tanda bahwa ia tak setuju dengan hubungan mereka. 


"Aku tahu Ayu bukan kriteria, Mama. Dia sudah pernah menikah dan memiliki anak. Bahkan dia lebih tua dariku. Asal Mama tahu, jodoh tidak bisa diatur oleh manusia. Setuju atau tidak aku akan tetap melanjutkan hubungan ini," ucap Angga dengan lugas. 


Ia berdiri dari duduknya. Meninggalkan bu Winda yang masih tenggelam dalam pikirannya. 


Membawa makanan dari Ayu ke belakang. Menyuruh bibi untuk menyimpannya. 


Lalu, Angga pergi ke kamar dengan langkah berat. Apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Perjuangannya untuk mendapatkan Ayu belum sepenuhnya tercapai, namun ada halangan lagi yang malang melintang. 


Ya Allah, buka pintu hati mama dan Ayu. Mereka adalah dua wanita yang saat ini aku sayangi.


Angga duduk di tepi ranjang. Berpikir keras, mencari cara untuk membuat Bu Winda menerima Ayu. 


Apapun akan aku lakukan demi kamu, Yu. 


Angga menghubungi Ayu. Dengan begitu ia lebih tenang dan tak terlalu kepikiran dengan mamanya. 


Sapaan salam terdengar menyejukkan hati. Angga menjawabnya dengan suara pelan. Ia mengunci pintunya lalu menyalakan lampu remang. 


"Ada apa malam-malam telepon? Belum ngantuk?" tanya Ayu lirih, takut anak-anak terusik dengan suaranya. 


Angga menyandarkan punggungnya di headboard.


"Aku gak bisa tidur sebelum mendengar suaramu," gombal Angga yang membuat Ayu tersipu. 


Meskipun tak saling tatap, Angga yakin bahwa saat ini Ayu menggigit kerudungnya layaknya gadis yang disuruh menikah.


"Kamu ngapain?" Angga balik tanya. 


"Aku nulis. Seharian ini gak Update. Banyak readers yang nungguin ceritaku," ajwab Ayu jujur.

__ADS_1


"Berapa sih bayarannya nulis? Mendingan kamu tidur. Aku akan mencukupi kebutuhan kamu dan anak-anak." Angga membaringkan tubuhnya sambil memeluk guling. 


"Menulis bukan hanya karena uang, tapi juga wawasan. Sampai sekarang aku belum dapat apa-apa. Aku tidak mau bergantung pada orang lain. Selama bisa bekerja, aku akan menghidupi anak-anakku tanpa bantuan orang lain," ungkap Ayu. 


Meskipun berulang kali Angga menawarkan uang, sedikitpun Ayu tak terkecoh. Bahkan, ia mewanti-wanti Hanan untuk tidak mudah menerima pemberian pria tersebut. 


Angga mengacungi jempol. Satu lagi yang ia kagumi dari Ayu, bukan karena kecantikan dan ketangguhannya namun juga keteguhan hatinya menerima keadaan. 


"Kalau begitu menulis lah! Aku akan temani kamu," ucap Angga tanpa menutup teleponnya. 


Ayu mengalihkan ke video. Lalu meletakkan benda pipih itu di depannya, lantas ia kembali bergulat dengan keyboard sambil melihat wajah Angga dari layar ponsel. 


"Apa anak-anak sudah tidur?" Angga kembali membuka percakapan. 


"Sudah." Ayu menggeser layarnya tepat ke arah Adiba dan Alifa. 


"Hanan tidur di kamar sebelah." Meletakkannya lagi sembari melanjutkan tulisan nya. 


"Oh iya, apa mama mu suka dengan masakan dariku?" tanya Ayu menghentikan aktivitasnya. 


Wajah Angga mendadak redup mengingat sikap mamanya. 


"Suka. Mama ketagihan masakan kamu. Katanya lebih enak dari masakan di restoran bintang lima," puji Angga panjang lebar. 


Maafkan aku, Yu. Untuk saat ini aku tidak mungkin jujur padamu. Itu hanya akan merusak hubungan kita. 


Ayu tersenyum malu. Ikut senang dengan ungkapan Angga. 


"Lain kali aku bikinin lagi menu lainnya." 


Angga mengangguk cepat. Mengangkat jempolnya dan menunjukkan tepat di depan layar. 


"Kalau kamu ngantuk matikan saja." Ayu mulai fokus dengan tulisannya, sesekali tersenyum saat Angga merengek manja minta diperhatikan. 


"Kenapa hijabnya masih dipakai? Sekarang kamu lagi di kamar. Gak ada siapa-siapa juga yang lihat," ucap Angga memancing. 


Ayu menghela napas panjang. Menatap Angga tajam. 


"Ada kamu yang lihat. Jadi sebelum kamu tutup telponnya aku gak akan buka hijab," tegas Ayu. 


Angga hanya bisa terkekeh mendengar penjelasan Ayu yang sangat cerdas. 


"Makasih, Sayang. Nanti bukanya saat kita malam pertama ya," goda Angga lalu menutup teleponnya. 

__ADS_1


__ADS_2