
Ayu mencoba untuk meraih sesuatu yang ada di nakas, namun usahanya sia-sia karena orang itu saat ini beralih berada di atasnya tanpa melepaskan mulutnya.
Mmmppphhh
Ayu menggeram, memukul orang itu dengan bantal berulang kali, berharap akan turun dan pergi.
Ya Allah tolong hamba.
Ayu berderai air mata. Ada rasa takut yang memenuhi dadanya ketika sayup-sayup melihat sosok hitam itu mirip seorang pria. Bukan harta benda ataupun mati yang ia takutkan, melainkan kehormatan bagi seorang wanita. Berandai-andai dengan sesuatu yang mungkin bisa terjadi mengingat mereka berada dalam satu ruangan yang kedap suara.
Orang itu membungkuk, mendekatkan bibirnya di telinga Ayu. "Ini aku, Sayang. Jangan takut!" ucapnya berbisik.
Ayu tercengang menghentikan tangannya yang terus memberontak. Otaknya menebak-nebak gerangan yang berani kurang ajar padanya.
Antara percaya dan tidak jika apa yang ia pikiran itu benar adanya.
Lampu menyala terang membuat Ayu semakin terkejut saat tubuhnya dikunci oleh seseorang yang kini tersenyum di atasnya. Seolah tak mempunyai kesalahan sudah membuat nya takut setengah mati.
"Mas Angga!" pekik Ayu mendorong tubuh Angga hingga pria itu tergelimpung ke samping. Ia bergegas meraih hijab dan memakainya asal. Kemudian berdiri bersandar di depan lemari agak menjauh.
Bukan meminta maaf atas kesalahan yang sangat fatal, Angga justru tertawa penuh kemenangan. Kemudian menghampiri Ayu yang tampak ketakutan.
"Jangan mendekat!" larang Ayu menghentikan langkah Angga.
Berjalan mundur menghindari sang kekasih yang hampir memeluknya.
"Kenapa? Aku wangi." Angga mencium baju dari sisi kiri dan kanan. Lalu, merentangkan tangannya lagi.
"Ayolah Sayang. Aku kangen," rengek Angga penuh harap.
Ayu memalingkan pandangan ke arah lain. Ia masih bersikeras untuk menerima kenyataan pagi ini yang membuat nya hampir kehilangan kesadaran.
"Aku gak sedang mimpi kan, Mas? Ini beneran kamu?" tanya Ayu mencubit pipinya sendiri.
Angga tersenyum. "Ini aku Angga calon suami kamu." Meyakinkan Ayu bahwa saat ini adalah nyata.
Tidak ada yang berubah dari wajah pria itu, jambangnya yang tumbuh halus semakin menyempurnakan ketampanannya, tatanan rambut pun masih sama. Baju yang dipakainya pun tak lepas dari brand ternama.
Ayu ikut tersenyum, mengusir rasa panik akibat perlakuan Angga tadi. "Hampir saja jantungku lepas, Mas. Aku pikir kamu perampok." Ayu berjalan ke arah ranjang lalu merapikan selimut dan bantal yang berantakan.
__ADS_1
"Tadinya aku mau tidur di kamar Hanan, tapi aku gak betah dan ingin melihatmu." Angga mengikuti Ayu dari belakang. Mengekorinya layaknya anak yang menanti uang jajan.
Seharusnya Angga memang sudah tiba semalam. Akan tetapi, karena ada kendala membuatnya terlambat hingga ia tiba di rumah tengah malam. Saat suasana rumah sudah sepi ia langsung menyelinap masuk ke kamarnya, yang sudah dipastikan ada Ayu di sana.
"Tapi gak gitu caranya? Bagaimana kalau aku jantungan dan mati?" tegur Ayu menegaskan.
Angga tersenyum. Matanya tak teralihkan dari wajah Ayu yang semakin cantik dan mempesona.
"Iya aku minta maaf. Aku janji gak akan mengulanginya lagi."
Angga menaik turunkan alisnya, menggoda.
Hening, keduanya saling tatap hingga beberapa menit berlalu dengan kehampaan.
"Apa tante Winda sudah tahu?" tanya Ayu memastikan.
Angga menggeleng. Sebenarnya memang tidak ada yang tahu kedatangannya. Ia langsung pulang tanpa memberi kabar.
"Kalau begitu cepat kamu ke kamarnya. Aku Shubuh dulu." Mendorong Angga hingga ke depan lalu menutup pintu.
Angga menggedor-gedor pintu. "Tapi aku masih kangen sama kamu, Yu," teriaknya.
Namun percuma saja, karena Ayu tak mendengar itu.
Terpaksa Angga beralih ke kamar bu Winda.
Ia membuka pintu kamar sang mama tanpa mengetuk. Berjalan mengendap-endap menghampiri Bu Winda yang baru saja salam dari sholatnya.
Tanpa aba-aba, Angga memeluk bu Winda dari belakang.
Sama seperti Ayu, wanita itu pun terkejut dan mencengkal tangan kekar yang melingkar di pundaknya.
"Ini aku, Ma," ucap Angga kembali merengkuh bu Winda dengan erat.
Bu Winda menoleh ke arah sumber suara. Tangannya terangkat menyentuh kedua pipi pria yang nampak cengengesan itu. Menatap manik matanya dengan lekat.
"Ini beneran kamu, Ga?" tanya Bu Winda dengan bibir bergetar. Sekali saja berkedip, maka luruhlah air mata yang menumpuk di pelupuk.
"Iya ini aku Angga, anak Mama. Aku menepati janjiku, Ma. Aku pulang."
__ADS_1
Seketika air mata bu Winda jatuh dengan derasnya. Kembali memeluk Angga. Menyalurkan rasa rindu yang kian lama terpendam. Kejutan yang sangat luar biasa bagi seorang ibu yang bisa bertemu dengan anak nya setelah sekian lamanya dipisahkan jarak jauh.
"Jangan menangis, Ma. Aku jadi ikut nangis." Angga mengusap air matanya yang sempat jatuh di pipi.
Saling mengurai rindu yang membelenggu.
"Apa Ayu sudah tahu?" tanya Bu Winda yang sudah mulai tenang.
Angga mengangguk tanpa suara. Ia tak akan pernah lupa dengan wajah Ayu yang ketakutan saat mendapat kejutan darinya.
Angga mencium kedua punggung tangan bu Winda bergantian.
"Rencananya aku akan segera menikahi Ayu, Ma. Aku tidak akan menunggu waktu lagi," ungkapnya dengan serius.
"Terserah kamu. Apa yang menurutmu baik lakukanlah! Mama tidak akan melarangnya." Bu Winda pasrah namun tetap berdoa demi kebahagiaan sang putra.
"Sekarang samperin Hanan, dari semalam dia nanyain kamu terus," suruh bu Winda mengingat curahan hati Hanan yang merindukan sosok Angga.
Angga keluar dari kamar Bu Winda. Menyusuri tangga menuju lantai dua. Kakinya mengayun mendekati pintu kamar yang ada di tengah. Membukanya pelan, nampak dua bocah saling meringkuk memeluk guling.
Angga melepas sepatunya menghampiri ranjang. Tangannya mengulur merapikan anak rambut yang menutupi kening Adiba dan Alifa.
"Alhamdulillah, kalian baik-baik saja. Papa janji setelah ini papa gak akan ninggalin kalian," ucapnya lirih.
Angga keluar lagi, belum saatnya mengganggu bocah itu. Mungkin setelahnya akan terus bersama mereka. Kemudian, ia membuka pintu kamar yang ada di bagian tepi. Itu adalah kamar Hanan.
Tak seperti yang dilakukan di kamar Adiba dan Alifa, kali ini Angga mengetuk pintu. Merapikan rambutnya. Ia tak mau kalah dengan anak tirinya yang sudah menginjak dewasa tersebut.
Tak lama kemudian pintu terbuka lebar.
"Sebentar lagi, Ma," ucap Hanan memutar badan tanpa menatap gerangan yang berdiri di depan pintu.
Angga ikut masuk lalu menyalakan lampunya. Sedangkan Hanan, ia malah menutup wajahnya dengan bantal.
"Shubuhnya sebentar lagi, Ma," rengek Hanan yang kembali berbaring di atas ranjang.
Seketika Angga meninju lengan Hanan dengan pelan.
"Aduh," keluh Hanan tanpa membuka mata, namun otaknya mulai berkelana. Pasalnya, Ayu tak pernah memukulnya meskipun ia mengulur waktu.
__ADS_1
Perlahan Hanan membuka mata dan menatap seseorang yang berdiri di samping ranjang.
"Papa," seru Hanan kegirangan. Melompat lalu memeluk Angga dengan erat.