Janda Tangguh

Janda Tangguh
Datang ke rumah


__ADS_3

"Selamat pagi," sapa Angga saat Ayu membuka pintu. 


"Pagi," jawab Ayu datar.


Tak seperti biasanya yang menyapa dengan ramah, Ayu nampak menjaga jarak dengan Angga yang baru datang ke rumahnya. 


"Anak-anak sudah siap?" tanya Ayu pada Hanan yang nampak sibuk memasukkan kukunya ke dalam tas. 


"Sebentar, Ma." Hanan berteriak dari kamar. 


Angga masuk tanpa disuruh. Ia menghampiri Ayu dan berdiri di belakang wanita itu. 


"Kamu kenapa? Apa aku ada salah?" tanya Angga merasa bersalah. Ia mengira Ayu marah karena sikapnya semalam  yang kekanak-kanakan. 


"Tidak, aku buru-buru saja," jawab Ayu asal. Mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


Angga mengambil tas milik Alifa dan membawanya keluar. Menunggu mereka di teras. 


"Kamu gak usah repot-repot. Aku bisa mengantar mereka sendiri." 


Ucapan Ayu tetap lembut seperti biasa, namun itu terasa menyakitkan bagi Angga. 


"Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Ikram?" cetus Angga dengan nada tinggi, namun juga tak terlihat marah. 


"Tidak," jawab Ayu singkat mencoba mengeluarkan motornya, namun terhalang oleh Angga yang tak memberikan jalan. 


"Lalu?" tanya Angga semakin mendekat dan mengambil kunci motor milik Ayu. 


"Kita bicarakan nanti, ada anak-anak."


"Kamu tunggu di rumah, biar aku yang antar mereka."


Angga tetap kekeh mengambil tas milik Alifa dan Hanan. Menggiring mereka menuju mobil. 


"Keras kepala," gerutu Ayu saat Angga juga mengajak Adiba dan membawanya pergi. 


Mungkin aku bisa bertanya pada Hanan. 


Angga membukakan pintu mobil lalu menyuruh ketiga anaknya masuk. Memasangkan seatbelt untuk mereka. Memastikan semua aman. 


"Dik Diba diam ya, jangan rewel," ucap Angga lembut yang membuat si bungsu langsung mengangguk. 


Mobil sudah membelah jalanan, Angga menoleh ke arah Hanan yang nampak diam menatap ke depan. 


"Papa semalam datang ke rumah?" tanya Angga basa-basi. 


Hanan mengangguk tanpa suara. Jika menyangkut tentang Ikram, ia enggan untuk bicara. 


"Mama dan papa ngapain saja?" tanya Angga semakin menyelidik. Yakin bahwa anak kecil tak mungkin berbohong. 

__ADS_1


"Papa cuma mau bertemu aku dan adik-adik. Tapi semalam aku gak keluar. Jadi papa cuma bicara dengan mama setelah itu pulang," jelas Hanan seperti apa yang terjadi semalam. 


Angga manggut-manggut mengerti. 


"Setelah itu kamu dan mama tidur?" tanya Angga. 


Hanan menggeleng. "Aku jalan-jalan sama mama. Dibeliin sepatu dan makanan Jepang di restoran dekat sekolahan dik Alifa. 


Kedua mata Angga membulat sempurna. 


"Restoran Jepang?" tanya Angga memastikan. 


Hanan mengangguk cepat. 


Angga menepuk jidatnya lalu berdecak. 


Gawat, jangan-jangan Ayu melihat ku dan Nara di tempat itu. Aku harus menjelaskan padanya. 


Usai dari sekolah Hanan dan Alifa, Angga kembali ke rumah Ayu ingin menjelaskan semuanya. 


"Assalamualaikum, Mama," sapa Angga menirukan suara anak kecil. 


Terdengar jawaban dari arah belakang. 


Angga segera menyusul mendekati Ayu yang sedang mencuci baju di samping kamar mandi. 


"Gak usah, lagipula ini sudah hampir selesai." Ayu menahan tangan Angga yang hampir menyentuh bajunya. 


"Kamu gak kerja?" tanya Ayu sembari mencuci tangannya menggiring Adiba ke depan. 


"Aku gak mungkin bisa kerja kalau sikapmu seperti ini."


Ayu membalikkan tubuh menatap manik mata biru yang tampak sendu lalu tersenyum. 


"Aku biasa kok, kamu aja yang terlalu baper." Ayu melanjutkan langkahnya menuju kursi ruang tamu. 


Melihat sikap itu membuat Angga semakin tak sabar menghalalkan Ayu. Seandainya saat ini sudah menjadi istrinya mungkin akan di bawa ke atas ranjang dan di telanjangi. Sayang sekali, ia tak mungkin melakukan itu sebelum melakukan akad nikah. 


Angga duduk di samping Ayu. Tangannya menjulur ke samping, merangkul. 


"Semalam aku sudah menjelaskan pada Nara kalau aku sudah memiliki calon istri," ungkapnya serius. 


"Itu Nara, Mas. Lalu bagaimana dengan tante Winda? Aku yakin dia akan tetap menjodohkanmu dengan gadis itu. Aku tidak mau menjadi penghalang hubungan kamu dan dia. Jangan memaksakan kehendaknya. Aku ini seorang ibu dan pasti tahu bagaimana rasanya jika ditentang oleh anak sendiri. Cobalah mengerti," tutur Ayu panjang lebar. 


Bukan ia tak ingin memperjuangkan cinta Angga yang terlalu besar untuknya, namun harus memikirkan hati seorang ibu. 


Angga berdiri dari duduknya mengambil jas yang tadi di runag makan lalu kembali menghampiri Ayu. 


"Kita hanya butuh meyakinkan mama, itu saja. Bantu aku!" ucap Angga memohon. 

__ADS_1


Ayu tak tega jika harus membiarkan Angga berjuang sendiri. 


"Baiklah, aku akan bantu kamu. Tapi kalau tante Winda tetap tidak menyetujui hubungan kita, aku mundur. Anggap saja kita tidak berjodoh," ucap Ayu menenangkan. 


Angga tersenyum lebar. Tanpa meminta izin ia memeluk Ayu dengan erat. Tidak sadar jika itu adalah dosa. 


"Lepaskan, Mas!'' Ayu memberontak mencubit pinggang Angga hingga membuat sang empu meringis. 


Namun, itu tak membuat Angga melepaskan pelukannya justru malah mengeratkan. 


"Lepas atau aku tidak akan membantumu," ancam Ayu lirih. 


Seketika Angga melepas pelukannya dan merapikan hijab Ayu yang sedikit melenceng. 


"Hari ini juga aku akan mengajakmu bertemu mama." Angga mengucapkan dengan penuh keyakinan. 


Mengubah rencana yang sudah tersusun rapi. 


Ayu mengangguk, ia pun sudah siap menerima apapun yang akan terjadi. 


Ayu tak muluk. Ia memakai baju gamis berwarna hitam yang dihiasi dengan payet perak serta hijab yang senada. Sudah melahirkan tiga anak tak menyurutkan kecantikan wanita itu, bahkan raut wajahnya memancarkan aura kecantikan yang sesungguhnya. 


Ayu menatap rumah mewah yang ada di depannya itu dari dalam mobil. Melirik Angga yang terus tersenyum ke arahnya. 


"Jangan takut, aku ada bersamamu." Angga kembali meyakinkan. Ia turun dan menggendong Adiba layaknya saat mereka berada di tempat lain. 


Ya allah, apapun jalan yang Engkau berikan, hamba berharap tidak ada yang tersakiti. 


Ayu mengikuti langkah Angga dari belakang. Mengucapkan salam bersamaan. Nampak wanita paruh baya yang masih terlihat anggun itu keluar dari kamar.


Ayu segera menghampiri wanita itu dan memperkenalkan dirinya. Tak lupa bersalaman layaknya seorang anak pada ibunya. 


O, ini yang namanya Ayu. Perempuan yang membuat Angga tergila-gila. 


Angga ikut mendekat. "Kalau yang ini namanya Adiba, Ma." Melambaikan tangan Adiba di depan bu Winda. 


Bu Winda menatap Ayu dengan tatapan sinis tanpa menyapa Adiba yang ada di gendongan Angga. 


"Mama sudah sarapan?" tanya Angga mencairkan suasana. 


"Belum," jawab Bu Winda singkat. 


"Kebetulan Ayu pintar masak, dia akan buatin sarapan untuk kita."


Angga mengedipkan satu matanya memberi kode pada Ayu. 


"Iya, Tante. Aku akan memasak untuk tante dan mas Angga."


Ayu yang sudah dewasa sedikitpun tak merasa takut atau gugup, bahkan ia sudah siap menerima apapun keputusan wanita itu. 

__ADS_1


__ADS_2