
Ayu keluar dari kamarnya. Sudah berhari-hari ia berada di rumah, rasa bosan itu mulai menyelimuti. Ingin kembali seperti dulu, setiap hari berada di toko buku maupun baju dan bertemu dengan banyak orang, namun kini itu hanya akan menjadi keinginan yang tak terwujud karena Angga tak mengizinkannya untuk pergi.
Suasana rumah pun sepi. Anak-anak sekolah, sedangkan Angga sudah pergi ke kantor. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang menjadi temannya bicara, itupun kalau mereka tak sibuk.
''Mbak, di lemari es masih ada mangga gak?'' Ayu duduk di ruang makan. Menuang air putih dan meneguknya.
''Gak ada, Nyonya, semalam yang terakhir,'' jawab bibi dari arah belakang.
Ayu berdecak. Padahal, ia ingin sekali makan mangga. Tapi sayang persediaannya sudah habis.
''Apa aku beli sendiri saja ya. Kalau nungguin mas Angga lama. Lagipula tempat itu kan tidak jauh amat.'' Ayu mengambil ponselnya kemudian menghubungi Angga.
Ponsel Angga tak bisa dihubungi.
''Mungkin saja mas Angga sedang sibuk. Aku gak boleh mengganggunya.''
Ayu kembali ke kamar. Ia merapikan penampilannya lalu keluar dari rumah menghampiri sopir yang sibuk mengelap mobil di garasi.
''Pak, anterin aku pergi, mau beli mangga,'' ucap Ayu serius.
''Sudah izin pada pak Angga, Bu?'' tanya sang sopir ramah dan sopan.
Aku harus jawab apa.
''Tadi aku sudah mencoba menghubunginya tapi gak aktif. Gak papa, Pak. Aku akan keluar cuma mau beli itu gak kerja, pasti diizinin.'' Ayu membuka pintu mobil sebelum mendapat jawaban dari sopir.
Sopir pun akhirnya setuju dan mengantar Ayu ke jalan yang tadi disebut.
Tempat yang dikunjungi Ayu ternyata sebuah pasar tradisional yang ada di pinggiran kota. Banyak pejalan kaki juga orang-orang berkendara motor di tempat itu.
''Ibu di sini saja, biar saya yang turun,'' ucap sopir menoleh ke arah Ayu.
''Gak usah, Pak. Tempatnya dekat kok, aku bisa membelinya sendiri.'' Ayu tetap turun saat mobil diparkir.
Pak sopir pun mengikuti sang majikan dari belakang. Harus memastikan wanita itu baik-baik saja.
''Loh, kok penjualnya gak ada?'' Ayu menatap meja kosong yang terbalik. Celingukan ke kiri kanan. Ternyata penjual itu pun tidak ada di sekitarnya. Terpaksa ia bertanya pada seseorang yang melintas.
''Apa Bapak lihat pedagang mangga yang kemarin di sini?'' Menunjuk tempat kosong.
__ADS_1
''Dia pindah di sana.'' Menunjuk seberang jalan yang sedikit jauh.
Ayu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lalu mengikuti arah jari orang tadi menunjuk.
''Sebaiknya ibu di mobil saja, biar saya yang beli,'' ucap sopir cemas melihat keramaian itu.
Ayu tersenyum kecil. Dulu jalanan bukan tempat yang asing baginya, namun sekarang seolah Angga melarangnya berada di tempat itu. Mengurungnya seperti ratu hingga tak mengenal tempat itu lagi.
''Aku __ aaahhhh...'' Tiba-tiba Ayu menjerit dan jatuh saat seorang lelaki yang berlari dari arah berlawanan menabraknya. Tak hanya itu, bahkan dia juga mengambil tas Ayu yang terlempar.
Dalam hitungan menit orang-orang mendekatinya yang kini terkapar di tepi jalan sambil meringis mencengkram perutnya.
''Ibu tidak apa-apa?'' Pak sopir pun menopang tubuh Ayu ke dalam pangkuannya.
''Perutku sakit, Pak,'' keluh Ayu dengan tetesan air mata yang membanjiri pelipisnya.
Pak sopir merogoh ponselnya dan menghubungi Angga. Ternyata nomornya belum bisa dihubungi. Terpaksa ia minta bantuan pada warga untuk membawa Ayu ke mobil.
''Tenang, Bu. Kita akan segera ke rumah sakit.'' Pak sopir melajukan mobilnya di temani satu orang wanita yang menjaga Ayu di belakang.
Sesekali menekan klakson saat mobil yang berjalan di depannya itu sangat lambat.
''Ada darah di kaki Anda, Nyonya.''
Pak sopir semakin gugup, namun ia tetap berusaha untuk fokus membelah jalanan.
Ya allah, darah apa ini? Aku gak mau terjadi apa-apa dengan bayiku. Bertahanlah, Nak. Berjanjilah sama mama kalian akan tetap berada di sini.
Mengusap perutnya pelan. Menahan rasa sakit yang menjalar hingga sekujur tubuh.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit tidak ada yang Ayu pikirkan selain keselamatan janinnya. Lantunan doa terus terpanjat pada sang Ilahi Robbi mohon perlindungannya.
''Mas Angga.'' Bayangan wajah Angga pun melintas. Tak bisa membayangkan jika seandainya terjadi sesuatu dengan anaknya, pasti pria itu akan sangat kecewa padanya.
Angga yang baru pulang meeting pun membuka ponsel. Kedua alisnya menyatu saat melihat beberapa panggilan dari nomor pak sopir dan juga istrinya.
Cemas melanda saat dia menghubungi balik nomor itu.
''Halo, Pak. Bu Ayu ada di rumah sakit, beliau pendarahan.''
__ADS_1
Sekujur tubuh Angga lemas tak berdaya, beruntung Wendi cepat datang dan menopang tubuh kekar sang bos dari belakang.
''Ada masalah apa, Pak?'' tanya Wendi antusias. Mengambil ponsel dari tangan Angga. Dan berbicara dengan sopir yang masih tersambung.
''Baik, saya dan pak Angga akan segera ke rumah sakit,'' jawab Wendi memutus sambungannya.
Mengambil segelas air putih dan memberikannya untuk Angga. ''Bu Ayu itu wanita yang kuat, saya yakin belia bisa menjaga anak, Anda. Tenanglah, Pak!" ucap Wendi kembali meyakinkan.
Ya, Ayu adalah wanita yang kuat. Dia bisa menjaga semua anak-anak seorang diri. Sekarang pun dia bisa menjaga anak kami.
Angga mengumpulkan tenaganya dan keluar dari ruangannya. Berusaha tegar dengan apapun yang terjadi nantinya.
Hanya butuh tiga puluh menit. Akhirnya Angga sudah tiba di depan ruangan Ayu di rawat. Ia bertanya pada pak sopir kronologi kejadian yang sebenarnya.
''Dia itu memang pencopet, Pak,'' terang wanita yang tadi melihat kejadiannya.
''Jadi dia sengaja mencopet istriku?'' Angga memastikan.
Wanita itu mengangguk tanpa suara.
''Maafkan saya, Pak. Saya sudah lancang membawa bu Ayu keluar,'' ucap pak sopir merasa bersalah.
''Gak papa,'' jawab Angga singkat. Ia tak mungkin menyalahkan orang lain, kecuali orang yang menabrak dan mengambil tas milik Ayu.
Dia harus menerima balasan dariku.
Angga mengepalkan tangannya. Ini pertama kali ia merasa dendam pada seseorang.
Dokter keluar dan menghampiri Angga yang masih sibuk tenggelam dengan dendamnya.
''Pak Angga.''
Angga segera menoleh ke arah sumber suara yang menyebut namanya.
''Saya, Dok,'' ucap Angga sedikit panik.
''Bu Ayu memanggil, Anda. Silakan masuk!'' ucap Dokter sebelum menjelaskan keadaan pasien.
Angga bergegas masuk untuk memenuhi panggilan istrinya. Ia memeluk dari arah samping. Memberikan kehangatan seperti yang sering ia berikan kala di kamar pribadi mereka.
__ADS_1
''Aku sudah lalai menjagamu, maafkan aku, Sayang.''
Ayu tersenyum. Mengusap rambut hitam legam sang suami. Ia pun meminta maaf karena sudah lancang keluar rumah tanpa izin darinya.