Janda Tangguh

Janda Tangguh
Harapan Baru


__ADS_3

Seperti yang diharapkan Mirna dan Danu, kedatangan Ayu dan Angga membawa pengaruh baik untuk Chika, gadis yang beberapa hari itu sering melamun kini kembali ceria. Seolah memancarkan cahaya yang sempat redup. Membangkitkan semangat yang sedikit suram. Membangun suasana rumah kembali damai. 


''Kamu yakin mau berangkat sekolah? Kalau belum siap gak papa,'' ujar Mirna memastikan. 


Chika mengangguk cepat. ''Aku yakin, Ma. Lagipula benar kata tante Ayu, jdooh gak akan ke mana. Aku harus fokus dengan sekolah,'' ucapnya berat. Masih menahan sedikit sesak di dada. Namun, harus menghadapi kenyataan. 


''Mama bangga sama kamu.'' Mirna memeluk Chika, begitu juga dengan Danu yang memang sangat sayang dengan  anak perempuannya tersebut. 


Seperti biasa, Chika naik mobil mewah di antar sopir khusus.


''Da...Ma, Pa... '' Melambaikan tangannya ke arah Mirna dan Danu yang mematung di teras. 


Perjalanan terasa sangat menyenangkan. Meskipun terjebak kemacetan yang lumayan, Chika tak peduli. Ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri bahwa mulai hari ini akan melawan rasa cemas itu. Kembali pada masa depan cerah yang diimpikan sejak kecil. 


''Nanti siang jemput jam dua ya, Pak. Aku mau jalan-jalan dengan teman,'' ucap Chika setelah membaca pesan dari sahabat yang mengajaknya jalan. 


''Baik, Nona,'' jawab sopir singkat. 


Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Bertepatan saat Chika turun, motor Hanan pun berhenti di depan mobil gadis itu. Mereka bertatap muka dan saling tersenyum. Entah itu sebagai simbol apa. Keduanya merasa ada sesuatu yang beda setelah beberapa hari saling diam dan tak menyapa. 


Hanan membuka kaca helm nya. Menatap Chika yang berjalan ke arahnya. Pesona nya tetap sama seperti sebelum mereka putus.


''Bisa kita bicara sebentar?'' ucap Chika mengambil benang yang tersampir di lengan Hanan.


''Boleh,'' jawab Hanan cepat. ''Di mana?'' Mematikan motornya. Ia pun ingin ada yang dibicarakan dengan gadis itu.


''Di kantin saja, kayaknya jam masuk masih lama.'' Melihat jam yang melingkar di tangannya lalu masuk meninggalkan Hanan yang masih terpaku menatap punggungnya. 


''Cantik,'' puji Hanan lalu memarkirkan motornya. Ia pun tak takut untuk bicara dengan Chika  karena Ayu sudah mengizinkan. Asal mereka tetap sebagai sahabat, bukan pacar. 


Hanan duduk di depan Chika. Menyeruput teh hangat yang sudah tersaji di depannya. 

__ADS_1


''Kemarin tante Ayu datang ke rumah.'' Chika mengawali pembicaraan. 


''Aku tahu,'' jawab Hanan singkat. 


Chika menautkan alisnya dan tersenyum. 


''Mama sudah cerita. Dia memperbolehkan kita berhubungan, tapi sebatas sahabat, kan?'' Hanan minum teh nya lagi hingga kandas. 


Chika mengangguk malu, meski begitu ia masih tetap berharap akan berjodoh dengan pria di depannya tersebut.


Hanan mengambil sedotan plastik lalu merangkainya hingga berbentuk lingkaran kecil. Kemudian meletakkan di atas meja. 


''Aku tidak berjanji akan menikahimu, karena janji itu adalah hutang yang wajib dibayar, tapi aku akan menjagamu seperti permintaan mama. Kita akan kembali seperti biasa, tapi bukan berstatus pacar, hanya sahabat.''


Hanan meraih tangan Chika dan menyematkan cincin dari sedotan di jari manis gadis itu. Bukan perihal tentang harga, namun itu sangat berharga bagi keduanya. Seolah ikatan yang wajib dijaga sampai kapanpun.


''Anggap saja ini bukti kesetiaan ku padamu.''


Hingga bel berbunyi tanda semua siswa harus masuk ke kelas masing-masing. Memecahkan obrolan mereka para pengunjung kantin, termasuk Chika dan Hanan.


Sedangkan di kamar, Angga masih merayu Ayu untuk segera memeriksakan kehamilannya. Entah, apa alasannya, wanita itu menolak ajakannya. 


''Apa kamu siap mendengarkan  penjelasan dokter? Umurku sudah lebih dari tiga puluh lima tahun, Mas. Dan itu menurut dokter akan beresiko saat hamil, jadi aku mau yakin saja sama Allah. Aku yakin kita akan diberi kelancaran dalam segala urusan.'' Meyakinkan Angga dengan pilihannya.


''Baiklah, nanti aku akan konsultasi dengan dokter kandungan.'' Angga mengalah, ia tak ingin membuat Ayu tertekan dengan permintaannya. Ya, walaupun niatnya hanya ingin memastikan keadaan bayinya, tak seharusnya memaksa. Terlebih Ayu sudah terlihat ketakutan. 


''Mas.'' Ayu memegang dagu sang suami yang ditumbuhi jambang tipis. 


''Hmm...'' Angga mengusap pucuk kepala Ayu yang tertutup hijab putih. Menciumnya sebagai bentuk cinta yang tulus. 


''Seandainya nanti aku pergi setelah melahirkan, ap __" 

__ADS_1


Angga menutup bibir Ayu dengan lima jarinya. Menghentikan ucapan wanita itu yang pasti akan membahas sesuatu yang negatif. 


''Tidak ada yang bisa mengalahkan takdir Allah. Kamu akan baik-baik saja sampai kita punya cucu. Aku mencintaimu.'' Kembali mengecup kening Ayu. 


''Sekarang kamu istirahat saja. Aku ke kantor sebentar. Ada klien yang ingin bertemu.'' Angga merapikan dasinya. Mengambil ponsel dan mencium pipi Ayu tanda perpisahan.  


Lambaian tangan itu seolah menjadi saksi betapa beratnya berpisah dengan orang terkasih meskipun hanya sebentar. Tetap saja terasa lama.


Mobil melaju meninggalkan rumah mewah dan istri tercinta. Angga masih ingat dengan ketakutan Ayu tentang kehamilan di usia yang lebih dari tiga puluh lima tahun. 


Apa aku bicara dengan dokter dulu ya. 


''Pak, kita ke rumah sakit!''


Terpaksa Angga akan ke rumah sakit untuk memastikan ucapan Ayu. Ia pun ingin mendengarkan secara langsung tentang risiko seperti yang ditakutkan sang istri. 


Angga menemui dokter Selvi, dokter kandungan yang sering direkomendasikan oleh bu Winda. 


Mereka duduk berhadapan dalam ruangan yang dingin namun terasa panas. Karena ada hal yang mengusik hati Angga saat ini.


''Jadi istri Bapak hamil di usia tiga puluh enam tahun? Anak ke berapa?'' tanya dokter Selvi lagi. 


''Iya, Dok. Anak keempat.'' Angga mengangguk lemah. Mulai ada ketakutan yang menyelimuti namun ia yakin bahwa tidak akan terjadi apapun dengan istrinya. 


Dokter Selvi tersenyum. 


''Memang wanita yang hamil saat berusia di atas tiga puluh lima tahun memiliki risiko lebih tinggi. Bisa mengalami masalah seperti Preeklamsia, suatu kondisi yang menyebabkan tekanan darah tinggi. Diabetes gestasional, ketika ada terlalu banyak gula dalam darah. Keguguran atau lahir mati. Tapi banyak juga yang aman-aman saja, tergantung gaya hidup dan riwayat penyakit yang dimiliki. Masih banyak risiko lainnya yang tidak saya sebut. Semoga istri Bapak baik-baik saja. Manusia hanya bisa berencana, sedangkan Allah yang mengatur semuanya. Jangan takut dengan prediksi dokter jika Anda dan istri yakin dengan ketentuan Allah.'' 


Angga mengangguk mengerti. Ia keluar setelah mengucapkan terima kasih. Seakan urat kebahagiaan itu melemah membuatnya tak berdaya. Yang ada hanya kekhawatiran. Khawatir dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. 


Ya Allah, lindungilah istri dan anak-anakku.

__ADS_1


Melanjutkan langkahnya menuju mobil. Berusaha yakin dan tidak memikirkan hal negatif mengingat Ayu yang selama ini tidak memiliki penyakit apapun. 


__ADS_2