
Hampir seharian penuh Angga tenggelam dalam lamunan semu. Jiwanya dipenuhi rasa takut, takut terjadi sesuatu dengan istri dan bayi yang dikandungannya. Meskipun tak terjadi pada semua orang tetap saja sebagai suami ia cemas dan gelisah tiada arah.
''Kenapa telponku gak diangkat? Aku kira kamu ke mana.'' Suara lembut membuyarkan lamunan Angga.
Pria itu mencoba menarik bibirnya, tersenyum paksa. Menyambut kedatangan sang istri tercinta. ''Diantar siapa?'' Angga mencium pucuk kepala Ayu yang tertutup hijab.
''Hanan, anak-anak ikut semua, mereka ke ruangan Riska.'' Ayu mencium punggung tangan Angga lalu duduk di pangkuan pria itu seperti kemauannya. Entah, dua hari ini ia ingin bermanja-manja, bahkan saat seharian berpisah merasa rindu berat.
''Oh iya, aku sudah menemukan sekolah yang tepat untuk Hanan, semoga dia suka dengan pilihan kita.'' Menunjukkan brosur yang didapat dari salah satu kliennya.
Ayu tersenyum. Ia pun yakin Hanan akan suka dengan pilihan suaminya.
''Sayang, kita harus tetap periksa. Aku gak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan bayi kita.'' Angga mencoba merayu Ayu yang mungkin akan sulit.
Ayu menggenggam erat jemari Angga yang bersandar di perutnya seperti yang sering dilakukan Hanan. Tak tega melihat suaminya terus memohon seperti itu, memelas.
''Baiklah, aku akan periksa, tapi janji jangan terkejut.'' Ayu menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga.
''Gak akan.'' Angga menjawab yakin.
Mereka datang ke rumah sakit di mana tadi pagi Angga berkonsultasi, sementara anak-anak ada di kantor dengan penjagaan beberapa pegawai khusus. Bagaimanapun juga mereka tetap akan memeriksakan kandungannya untuk memastikan kondisi ibu dan calon bayinya.
Seperti yang tadi pagi dilakukan, Angga menemui dokter Selvi di ruangannya. Sedikitpun tak menyinggung tadi pagi dan lebih fokus dengan kehamilan Ayu.
''Kita langsung periksa dulu, nanti saya akan jelaskan.''
Seperti pada umumnya, dokter memeriksa tensi darah Ayu dan dilanjut dengan mengusap gel pada perut wanita itu untuk membantu mencari letak janin.
Untuk orang kaya USG memang dilakukan sejak awal kehamilan hingga detik kelahiran seperti Ayu, dulu dan sekarang. Namun, bagi orang yang tak mampu hanya dilakukan satu atau dua kali hingga bayi lahir karena keterbatasan biaya.
''Apa ibu Ayu sebelum nya memiliki riwayat penyakit serius?'' tanya dokter Selvi. Matanya fokus pada komputer di depannya.
__ADS_1
''Tidak, Dok. Tapi akhir-akhir ini saya sering pusing. Apa itu penyakit atau bawaan bayi saja?'' Ayu pun ikut serius.
Angga menjadi pendengar setia mereka berdua dan berharap tidak mendengar perkataan yang menakutkan.
''Bawaan bayi, saya yakin bu Ayu baik-baik saja.'' Dokter tersenyum dan menunjuk ke arah komputer yang menjadi pusat perhatian.
''Ada dua benih yang tumbuh, itu artinya bayi ibu kembar,'' ucapnya sambil tersenyum.
Detik itu juga Angga langsung meneteskan air mata. Tak menyangka anugerah yang diberikan ternyata lebih nikmat daripada seluruh harta yang dimiliki saat ini.
''Apa ini bahaya, Dok?'' tanya Angga dengan bibir bergetar.
''Setiap ibu hamil pasti ada resiko, kita pasrahkan saja sama Allah, ibu harus hidup sehat dan periksa rutin setiap bulan. Saya akan mendampingi sampai melahirkan,'' ucap Dokter Selvi kembali meyakinkan.
''Makasih, Dok.'' Angga memeluk Ayu yang masih berbaring. Menghirup aroma parfum dari leher wanita itu. Sementara dokter Selvi memilih pergi memberi ruang pada mereka.
''Kamu benar, aku sangat terkejut dengan kata dokter Selvi.'' Angga mengecup kening Ayu dengan lembut.
''Yang mana? Menurutku dokter Selvi tidak menjelaskannya terlalu gamblang. Apa mungkin dia takut aku syok kali ya?'' Ayu mengusap rambut Angga yang menempel di dadanya.
''Aku terkejut karena anak kita ada dua.'' Angga membantu Ayu bangun dan merapikan hijab wanita itu. Mereka kembali ke ruang dokter Selvi.
Keduanya duduk di depan sang dokter yang sibuk mencatat sesuatu di buku besar.
''Mungkin sebagian besar memang takut dan khawatir hamil di masa tua, tapi anak adalah rezeki. Selamat untuk Ibu dan Bapak, saya akan berdoa untuk kalian.'' Dokter Selvi tersenyum bangga.
''Apa kubilang, gak ada papa, kan? Kamu yang takut tak beralasan,'' bisik Angga di telinga Ayu.
Kini ia sedikit lega dan tak se takut kemarin setelah mendengar penjelasan dokter juga melupakan semua tentang artikel yang dibaca dari internet. Berharap semua baik-baik saja sampai nanti.
Mobil melaju membelah jalanan yang masih dipadati kendaraan. Dua hati berbunga-bunga menikmati momen indah itu.
__ADS_1
''Jangan pikirkan apapun seperti saat kamu hamil Hanan dan adik-adiknya,'' pinta Angga serius.
Meski kekhawatiran itu tetap ada, namun ia mencoba untuk menepis segala yang menjanggal di hati dan siap menyambut sang buah hati.
Angga dan Ayu kembali ke kantor. Mereka memanggil anak-anak untuk berkumpul di ruang sang papa.
''Ada kabar apa lagi, Ma?'' tanya Hanan yang tak ingin melepaskan pelukan Ayu, posesif.
''Adik kalian kembar.'' Angga yang mengucap sambil menerima telepon dari Winda.
''Benarkah?' Hanan memeluk Ayu dari samping. Mencium pipi sang ibu berulang kali diikuti kedua adiknya. Sedangkan Angga bicara serius dengan bu Winda.
''Aku akan segera ke sana.'' Angga memutus sambungannya. Menghampiri Ayu dan anak-anak yang masih bercanda.
''Sayang, oma Nanda masuk rumah sakit. Aku akan ke sana. Kamu ikut apa di sini?'' Angga menekan tombol merah yang ada di meja.
''Ikut, biarkan sopir yang mengantar anak-anak pulang,'' ucap Ayu cemas.
Tak lama Wendi dan Riska datang. Mereka mendekati Angga di tempat kerjanya.
''Ini ada beberapa file yang belum saya kerjakan, tolong kamu bawa.'' Memberikan map itu pada Riska, sekretaris. ''Dan untuk kamu, temani saya ke rumah sakit,'' ucap Angga pada kedua pegawainya yang sangat setia.
''Baik, Pak,'' jawab mereka serempak kemudian meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan tugas masing-masing.
Ayu dan Angga keluar dari kantor setelah anak-anak masuk ke mobil. Mereka langsung meluncur ke rumah sakit.
''Memangnya oma Nanda sakit apa, Mas?'' tanya Ayu saat mereka sudah setengah perjalanan.
Angga mengangkat bahunya. ''Aku gak terlalu tahu. Mungkin mama yang paham, padahal akhir-akhir ini dia jarang ke rumah sakit.''
Ayu manggut-manggut mengerti. ''Kasihan Melati, pasti sedih banget.'' Menundukkan kepalanya, membayangkan jika dia yang ada di posisi wanita itu.
__ADS_1
''Kan sudah ada Ikram, aku yakin dia bisa membuat keadaan berubah.''
Semoga mas Ikram sudah benar-benar berubah dan tidak gampang terhasut dengan wanita diiluaran sana. Semoga Melati menjadi pelabuhan terakhirnya hingga maut memisahkan.