Janda Tangguh

Janda Tangguh
Mengungkap perasaan


__ADS_3

Harini memutuskan untuk tinggal di Indonesia bersama suami dan anak-anak nya. Meskipun begitu, mereka akan tetap sering berkunjung ke luar negeri untuk memastikan bisnisnya di sana. 


''Kamu gak kerja?'' Menghampiri Ikram yang nampak santai di taman samping rumah. 


''Gak, Mbak. Hari ini gak ada pekerjaan penting. Rencananya aku mau mengajak anak-anak jalan,'' ujarnya diiringi dengan senyum kecil. 


''Kapan kamu ajak Melati ke sini?''


Harini menepuk pundak sang adik. Ia melihat perbedaan di wajah pria itu ketika membahas  wanita yang akhir-akhir ini dekat dengannya. 


''Kamu benar mencintainya?'' tanya Harini menyelidik. 


Ikram minum teh dan menatap Harini dengan lekat.


''Apa umurku yang sudah tua begini masih pantas untuk menikah lagi, Mbak? Dia masih muda, apa menurut Mbak dia mau menerimaku?'' tanya Ikram kurang percaya diri. 


Harini tertawa kecil. ''Kenapa kamu ngomong seperti itu. Laki-laki yang sudah berumur lima puluh tahun saja masih pantas menikah dan menyongsong kehidupan barunya dengan perempuan yang dicintai, kenapa kamu gak? Bahkan kamu jauh masih pantas untuk menjalin rumah tangga dengan perempuan yang kamu cintai. Yakinlah pada hatimu, jangan sampai salah langkah seperti yang sebelumnya,'' tutur Harini panjang lebar. 


Ikram menghela napas. Berpikir jernih untuk segera memutuskan pilihannya. Ia tak ingin terlalu larut dalam kesendiriannya seperti saat ini. 


''Kayaknya aku yakin akan menikah dengan Melati,'' ucapnya setelah sekian detik. 


Harini tersenyum, akhirnya ia bisa melihat kebahagiaan di wajah Ikram. Meskipun belum sepenuhnya, setidaknya masih punya harapan besar untuk bisa bahagia. 


Ting tung 


Ikram meraih ponselnya yang berdering dan membukanya. Ternyata itu adalah pesan dari Melati yang memintanya untuk datang.


''Siapa? Melati?'' tebak Harini menyelidik. 


''Iya, Mbak. Aku pergi dulu,'' pamit Ikram sembari merapikan rambutnya. 


Namun, langkahnya terhenti saat melihat Hanan turun dari motor. 


''Dari mana?'' tanya Ikram menerima uluran tangan sang putra. 


''Dari rumah. Papa sendiri mau ke mana?'' tanya Hanan balik. Tak biasa papanya itu memakai parfum yang berlebihan seperti saat ini. 


''Papa mau ke rumah tante Melati,'' jawab Ikram jujur. 


''Aku ikut.'' Hanan mengangkat tangannya. Sebenarnya ia masih sangat kesal dengan keputusan Ayu, dan mungkin bertemu dengan Melati bisa mengusir rasa itu. 


''Boleh.'' Ikram membuka pintu mobil. 


Mungkin Hanan bisa memberikan pendapat. 


Ikram melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menoleh ke arah Hanan yang nampak menekuk wajahnya. 

__ADS_1


''Kamu kenapa? Dimarahin mama?'' 


''Gak,'' jawab Hanan singkat. 


''Lalu, apa yang membuat anak papa seperti ini?'' Ikram meninju lengan Hanan dengan pelan. 


''Gak ada papa, Pa. Aku cuma kesel saja, karena mama melarang ku pacaran dengan Chika,'' jawab Hanan malas. 


Ikram tertawa melihat Hanan cemberut.


''Papa rasa mama mu benar. Dia hanya ingin yang terbaik untuk kamu dan adik-adik, jadi ikuti saja perintahnya, gak sulit kok. Papa yakin kamu pasti bisa.''


Belajar dari pengalaman, Ikram pun akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Terlebih pada Hanan yang menginjak dewasa.


Hanan terdiam. Mencerna setiap tutur sang papa.


Ini saatnya aku bicara dengan Hanan.


''Menurut kamu tante Melati itu gimana sih?'' tanya Ikram mengalihkan pembicaraan. 


Hanan terbelalak. Seakan tak percaya dengan pertanyaan papanya. Sebab, selama ini Ikram memang tak pernah mempertanyakan tentang wanita lain kecuali Ayu. 


''Tante Melati?'' tanya Hanan mengulang. 


Ikram mengangguk tanpa suara. Membelokkan mobilnya ke arah perumahan di mana Melati tinggal. 


''Menurutku baik sih, Pa. Tante Melati juga perhatian dengan papa. Baik sama mama. Sayang dengan adik-adik dan aku,'' terang Hanan. 


Pertemuannya beberapa kali dengan Melati memang membawa kesan yang baik. Mereka cepat akrab dan sejalan. 


''Kamu setuju gak seandainya papa menikah dengan dia?'' tanya Ikram serius. 


Hanan langsung mengangguk dan mengangkat jempolnya tanda setuju. 


Sekarang mama sudah bahagia dengan papa Angga, dan aku juga ingin papa bahagia dengan perempuan  pilihan nya. Semoga tante Melati adalah yang terbaik.


Mobil berhenti di depan rumah Melati. Lagi, Ikram menyisir rambutnya sebelum turun. Memastikan penampilannya rapi saat berada di depan sang pujaan hati.


Hanan terkekeh melihat papa nya yang seperti Abg.


''Sudah tampan, Pa. Tante Melati pasti akan menerima papa apa adanya.'' Hanan meyakinkan.


Sebelum mengetuk pintu, Melati sudah membukanya lebih dulu. 


''Eh, Mas Ikram, ada Hanan juga,'' sapa Melati dengan lembut. 


Hanan menaik turunkan alisnya, menatap Ikram dan Melati bergantian. 

__ADS_1


''Tante, ada yang ingin diomongin papa, ini penting,'' ucap Hanan berbisik. 


''Apa?'' tanya Melati berbisik juga. 


''Nanti Tante juga tahu.'' Hanan pun kembali berbisik. 


Ikram hanya geleng-geleng dengan sikap mereka. 


Melati mempersilakan mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Membuat dua cangkir kopi dengan varian rasa yang berbeda. Jika Hanan suka dicampur susu, Ikram suka yang agak pahit. Sedikit demi sedikit mulai tahu kesukaan mereka.


''Kata Hanan Mas mau ngomong. Memangnya ngomongin apa?'' Melati duduk di depan Ikram yang nampak kikuk. 


Mulai dari mana ini. 


Meskipun sudah terlalu tua, nyatanya Ikram masih tampak bingung untuk mengungkapkan isi hatinya saat ini, bahkan lidahnya terlalu kelu untuk mengutarakan perasaannya.  


''Ayo, Pa. Katakan sekarang!'' Hanan menyenggol siku Ikram yang membuat sang empu semakin gugup. 


''Apa kamu mau menikah dengan ku?'' tanya Ikram dengan lugas. 


Melati tak terkejut, karena beberapa kali mereka memang sempat membahas tentang pernikahan. Hanya saja itu terlalu cepat baginya. 


Melati tersenyum. Masih banyak yang harus ia pikirkan sebelum mengambil keputusan. Pasalnya, ia menikah bukan untuk kebahagiaan semata namun juga demi ibunya. 


''Apa Mas sudah bicarakan ini dengan mbak Harini?'' tanya Melati memastikan. 


Ia tak mau melangkah lebih jauh sebelum keluarganya setuju. 


''Sudah,'' jawab Ikram singkat. 


Melati beralih menatap Hanan. 


''Bagaimana dengan Hanan? Apa kamu setuju papa menikah dengan tante?'' tanya Melati pada Hanan yang nampak senyum-senyum. 


''Aku sangat setuju, Tante. Dan aku adalah orang pertama yang akan merestui hubungan Tante dan papa,'' jawabnya meyakinkan.


Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak setuju, namun ia memiliki syarat pada pria yang ingin meminangnya.


''Aku akan memberi jawabannya besok, dan apapun itu, aku harap mas Ikram terima.''


Ikram mengangguk tanpa suara. Menghargai keputusan Melati yang tak langsung menerimanya. Pernikahan bukanlah ajang buru-buru dan harus siap lahir batin sebelum melakukannya. 


''Tapi aku harap jawabannya Tante setuju,'' ucap Hanan menekankan. 


Ikram maupun Melati saling tertawa dengan tingkah lucu sang putra. 


''Insya Allah, tapi tante gak janji juga. Ini masalah perasaan dan gak bisa dipaksa, bukan mainan,'' tutur Melati lembut.

__ADS_1


Itu benar, tapi aku akan tetap berdoa kamu lah jodohku yang terakhir.


__ADS_2