
Mentari menyorot dengan terang, menghangatkan. Entah, tak seperti biasanya yang selalu ditutupi awan gelap, hari ini seperti ada sesuatu yang berbeda. Seolah menggambarkan sebuah hati yang berbunga-bunga.
Seperti keluarga Ayu saat ini yang sedang hangat-hangatnya. Tak hanya hubungannya dengan suami, tapi dengan anak-anak juga. Terlebih Hanan, semenjak kejadian itu ia menjadi lebih agamis dan tak pernah membangkang. Selalu mematuhi perintah Ayu dan Angga. Pulang tepat waktu dan nongkrong sesuai jam yang ditentukan.
''Tumben gak hujan?'' Angga saja yang biasanya cuek ikut heran dengan cuacanya.
Membuka tirai lebar sehingga cahaya itu masuk dan menyapa ranjang mereka. Seakan memancarkan cahaya kebahagiaan.
Ayu tetap fokus dengan laptopnya, mencari referensi dari internet untuk menciptakan sebuah buku tentang sejarah.
''Kamu belum menyapaku lo.'' Angga mencium pipi sang istri dari samping.
Kejahilannya kembali kumat saat berada di dekat Ayu. Tak menyia-nyiakan waktu sedikitpun dan terus berusaha menggodanya, karena itu adalah hiburan tersendiri baginya.
''Selamat pagi, Sayang,'' ucap Ayu kemudian. Terpaksa ia harus menghentikan aktivitasnya demi sang pujaan hati.
Menyapa dengan penuh cinta dan kasih sayang, menyuguhkan senyuman termanis yang tidak akan pernah diberikan siapapun.
''Pagi juga my wife. Apa kabar hari ini?'' tanya Angga konyol.
Ayu mengangkat wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu, namun sebenarnya tetap kosong.
''Jauh lebih baik,'' ujarnya meyakinkan.
Sebab, ia sempat khawatir saat semalam tiba-tiba merasakan pusing yang luar biasa.
''Aku panggilkan dokter ya, takutnya kamu kenapa napa.'' Membelai rambut Ayu yang tergerai lurus. Menciumnya berulang kali. Sedikitpun tak memberi kesempatan untuk bergerak.
''Gak usah, aku baik-baik saja kok.'' Ayu beranjak dari duduk nya. Berjalan ke arah ranjang. Mengambil sesuatu yang ada di nakas.
''Tak terasa ya, pernikahan kita sudah hampir lima bulan.'' Ayu tersenyum penuh kemenangan.
Angga memeluknya dari belakang. Semakin lama bersama ia semakin tak bisa jauh dari Ayu, seperti nya cinta itu memang membuatnya gila. Ya, tergila-gila dengan tubuh wanita cantik yang ada di depannya. Meski sudah memiliki tiga anak, namun pesona nya sangat luar biasa.
''Nanti malam kita dinner yuk! Kayaknya asik,'' ucap Angga menggoda.
Setiap kali mendengar itu pasti ada sesuatu yang ia mau. Misal, bulan madu atau apa lah yang berakhir ranjang. Ya, mungkin bisa dijuluki tukang modus.
__ADS_1
Ayu mengangguk. Membalikkan badan hingga keduanya saling tatap. Ada getar-geatar asmara yang kian menguat dikala mata itu saling bertemu, bahkan sebelumnya Ayu tak pernah merasakan itu meski pernikahannya dengan Ikram sudah sepuluh tahun. Sepertinya tarikan magnet itu memang sangat dahsyat dan membuat dirinya terhanyut.
''Tapi untuk makan siang aku gak bisa. Ada pertemuan dengan salah satu klien,'' ucap Ayu merasa bersalah.
''Gak papa, ujar Angga berbisik. Memaklumi sang istri yang saat ini masih menggeluti pekerjaannya. Mungkin nanti akan disuruh berhenti dan menunggunya di rumah, namun itu butuh waktu.
Ayu dan Angga keluar dari kamar. Mereka menghampiri anak-anak yang sudah berada di ruang makan.
''Pagi, Ma, Pa.'' Hanan menyapa lebih dulu, lalu memeluk Ayu. Lelaki itu sudah siap dengan seragam putih abu-abunya.
''Pagi, ternyata kalian juga sudah siap.'' Ayu meletakkan tas tangannya. Ia hanya melihat menu makanan tanpa menyentuhnya.
Membantu Angga mengambil makanan kesukaannya. Kemudian duduk di samping pria itu.
''Kamu gak makan, Sayang?'' tanya Angga menyelidik, tak biasanya Ayu hanya diam saat semua sedang menikmati sarapan.
Ayu menggeleng tanpa suara. Sedikitpun tak ada selera padahal hampir semua makanan itu adalah kesukaannya.
''Mama harus makan, aku suapi.'' Hanan mengambil piring, namun tangannya ditahan Ayu.
Hanan kembali duduk dan melanjutkan makannya. Sesekali menatap mamanya yang nampak diam saja seperti melamun.
Apa mama sakit? kenapa wajahnya pucat, atau tadi dia lupa pakai make up.
Hanan terus mendorong makanan ke mulutnya. Sedikit khawatir dengan keadaan Ayu yang tak biasa.
''Ma, aku boncengin naik motor kayaknya seru,'' tawar Hanan memecahkan keheningan.
Angga langsung menggeleng tanda melarang. ''Itu bahaya, jangan! Kalau untuk anak muda gak papa.''
''Jadi kamu menganggap aku tua?'' sergah Ayu sinis. Seakan tak terima dengan ucapan Angga yang menyindirnya tak muda lagi.
Angga menggeleng lagi. Meraih tangan Ayu dan menggenggamnya. ''Bukan begitu, Sayang. Aku hanya gak ingin kamu kenapa-napa,'' terang Angga. Namun, tetap saja itu membuat Ayu kesal.
Ayu memalingkan pandangannya. Entah kenapa hatinya sakit mendengar ucapan Angga, seakan pria itu mengolok umurnya yang memang sudah tua.
Salah lagi, kan?
__ADS_1
Angga menarik kursi. Mengulurkan tangannya. Mengusap lengan Ayu dengan lembut, sedangkan anak-anak hanya menjadi penonton drama di pagi hari.
''Lihat aku!'' Mengangkat dagu Ayu. ''Aku hanya takut kamu masuk angin. Kemarin saja tiba-tiba kamu muntah, dan aku takut itu terjadi lagi,'' ujar Angga dengan lembut. Berharap Ayu paham dengan kekhawatirannya.
''Pokoknya aku akan tetap berangkat bareng Hanan, titik,'' kekeh Ayu.
Angga hanya bisa mengangguk setuju, meski begitu ia tetap akan mengikutinya dari belakang.
"Maafin aku, Pa. Tidak __"
Angga menggeleng memotong ucapan Hanan.
Jalanan sangat ramai. Debu bertebangan menampar wajah membuat Ayu tak nyaman. Belum lagi sorot mentari terasa semakin panas menyengat. Namun, ia sudah terlanjur naik motor dengan Hanan, dan tak akan menarik kata-katanya, malu dong, terlebih Angga suka sekali mengejeknya.
Sesekali menoleh ke belakang, dimana mobil Angga melaju pelan mengikutinya.
Pasti nyesel. Angga hanya bisa tersenyum tipis melihat raut wajah Ayu yang penuh dengan kekecewaan. Ia hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat wanita itu yang sesekali melambai-lambai, mungkin karena kelilipan dan kepanasan.
Hanan menghentikan motornya tepat di depan pintu gedung tempat rapat pagi ini. Ia pun langsung keluar dari tempat itu setelah mobil Angga tiba.
''Bagaimana? Enak naik motornya?'' Angga merapikan hijab sang istri yang sedikit kusut.
Ayu tersenyum pura-pura. Padahal saat ini perutnya sudah mual seperti diaduk-aduk. Mengangguk tanpa suara. Bersusah payah menahan jantungnya yang berdegup lebih cepat dari biasanya.
Ini pasti karena aku gak biasa.
Dulu naik motor sudah menjadi rutinitas hariannya, namun Ayu merasa ada sesuatu yang berbeda.
Apa mungkin aku masuk angin.
''Ya udah kamu pergi, nanti terlambat.'' Mati-matian Ayu berbicara dengan tenang. Menelan air liurnya yang terasa akan menetes.
''Ya sudah, aku pergi dulu. Jangan terlalu capek, kalau bosan istirahat saja, oke,'' pesan Angga mencium pucuk kepala Ayu.
Wanita itu hanya mengangguk. Melambaikan tangannya ke arah mobil Angga yang mulai keluar gerbang. Ia bergegas masuk dan berlari kecil. Mencari toilet terdekat. Ais yang sudah menunggu mengejar sang bos tanpa bertanya.
Tak lama kemudian suara benda jatuh terdengar membuat Ais terkejut.
__ADS_1