
Angga sudah menentukan tanggal pernikahannya. Ia tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi. Lima tahun berpisah sudah cukup memberikan banyak pelajaran yang berharga, juga memantapkan hati pada pilihannya saat ini.
"Kamu mau konsep apa?" tanya Angga pada Ayu yang dari tadi sibuk memilih undangan.
"Terserah kamu, Mas. Aku ikut. Lagipula seharusnya gak usah pesta, cukup ijab qabul dan acara kecil-kecilan saja," saran Ayu.
"Gak bisa gitu dong. Ini hari spesial untuk kita, itu artinya akan menjadi momen terindah sepanjang hidup kita," bantah Angga yang tetap keukeuh dengan rencananya.
"Baiklah, Tuan Angga. Apapun pilihan kamu aku suka."
Ayu mengalah, meninggalkan Angga saat melihat beberapa tamu masuk ke tokonya.
Ya, saat ini mereka berdua berada di toko setelah tadi makan siang dengan Tuan Louis. Bu Winda pun sempat ikut mampir namun akhirnya pulang di antar Hanan.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Ayu dengan ramah.
Melayani pengunjung memang sudah biasa ia lakukan di waktu senggang. Meskipun sudah banyak karyawan, ia tetap berinteraksi dengan mereka dan membuat nyaman.
Ais mendekat lalu menggantikan Ayu. Sebagai pegawai ia pun tidak ingin sang majikan kerepotan saat toko dipadati pengunjung seperti hari ini.
Ayu berkeliling di setiap sudut toko yang dipenuhi dengan pembeli. Enggan untuk kembali bersama Angga yang tak henti-henti menggodanya.
"Maaf, Bu. Anda dipanggil pak Angga," lapor salah satu karyawan suruhan Angga.
"Ada aja akalnya, gak bisa lihat orang senang sedikit," gerutu Ayu, namun tetap memenuhi panggilan calon suaminya.
"Ada apa, Mas?" tanya Ayu berdiri di depan Angga.
Tanpa aba-aba tangan pria itu menariknya hingga terjerembab dalam pelukan.
"Makanya jangan pernah pergi kalau gak mau aku berbuat lebih," ancam Angga dengan suara berbisik.
Ayu segera bangkit dan duduk di kursi kosong. Merapikan hijabnya yang sedikit melenceng.
"Gak enak sama yang lain," keluh Ayu malu-malu.
"Gak papa lah, lagipula salah mata mereka lihat. Aku mau tanya, kamu pilih gaun yang mana?" Angga menunjukkan beberapa gambar gaun pengantin mewah yang ada di ponsel pada Ayu.
Ayu tersenyum. Ia hanya melirik gaun itu tanpa menyentuh benda pipih milik Angga." Aku terserah kamu aja, pokoknya pilihan kamu aku suka," jawab Ayu pasrah.
Terpaksa Angga yang memilih. Ia menjatuhkan gaun pengantin yang berwarna silver. Meskipun tidak terlalu glamour, tapi tetap mewah dan elegan.
"Sayang, aku ke kamar mandi sebentar. Angga melipat baju nya hingga ke siku. Meletakkan benda pipihnya di atas meja.
__ADS_1
Baru beberapa langkah menjauh benda itu berdering membuat Angga menoleh.
"Paling dari Riska," terka Angga tanpa kembali.
"Angkat saja, Sayang. Katakan pada dia, aku ke kamar mandi," titah Angga melanjutkan langkahnya.
Ayu melihat nama yang berkelip. Ternyata itu bukan Riska, melainkan nama Alice.
"Mas," teriak Ayu, namun Angga sudah menghilang di balik pintu.
"Siapa alice? Kenapa mas Angga gak pernah cerita padaku. Apa mungkin dia karyawan atau mungkin klien?" tanya Ayu dalam hati.
Ayu menggeser lencana hijau tanda menerima. Lalu mengucapkan salam dengan lembut.
Tidak ada jawaban dari seberang sana. Ayu menjauhkan ponsel itu dari telinga. Memastikan bahwa masih tersambung.
Kok gak dijawab?
Ayu kembali mengucapkan salam, namun lagi-lagi tak ada jawaban membuatnya bingung menebak-nebak. Namun, ia tetap tak berburuk sangka.
"Ada apa ya, Mbak?" tanya Ayu kemudian.
"Saya mau bicara dengan Angga," ucap seorang wanita dari balik telepon.
Kalau ini karyawan gak mungkin manggil mas Angga tanpa embel-embel. Siapa dia?
"Mas Angga ke kamar mandi. Tunggu sebentar pasti dia segera keluar," suruh Ayu dengan nada lembut.
Sebenarnya ia ingin mempertanyakan tentang jati diri wanita itu, tapi diurungkan takutnya terkesan terlalu lancang.
Beberapa menit kemudian Angga datang.
Ayu langsung memberikan ponselnya.
"Telepon dari Alice," kata Ayu pelan namun terdengar mengintimidasi.
Dari sorot matanya sudah jelas bahwa wanita itu minta penjelasan.
Angga duduk si samping Ayu lalu menempelkan benda pipihnya di telinga.
"Ada apa?" tanya Angga datar. Matanya tak teralihkan dari wajah Ayu. Takut wanita itu salah paham padanya.
"Apa kita bisa bertemu, Ga? Gak mungkin kamu sibuk terus. Bukankah ini sudah sore." Suara Alice terdengar mendesak.
__ADS_1
"Gak bisa, Al. Sekarang aku ada di rumah istriku, dan kami gak bisa di ganggu."
Berani-beraninya menganggap Ayu istrinya.
Angga memutus sambungannya. Ia tak ingin terlalu banyak bicara dengan wanita itu.
"Mungkin ganti nomor akan lebih baik."
Angga memanggil Riska untuk mengganti ponsel sekaligus nomornya. Takut Alice akan membuat ulah dan menjadi penghalang pernikahannya dengan Ayu.
"Kenapa harus ganti nomor? Nanti dia kebingungan cariin kamu. Lebih baik jelaskan dulu. Supaya kedepannya gak ada salah paham."
Ayu memberi saran. Sebagai wanita yang sudah dewasa dan berpengalaman, ia tidak akan terbawa oleh perasaan yang hanya akan membuat hubungannya dan Angga renggang.
"Kalau begitu nanti temani aku bertemu dengan dia. Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Angga penuh harap.
Aku tidak tahu apa hubungan mas Angga dengan perempuan itu, tapi aku yakin mas Angga tak akan pernah menghianatiku.
"Assalamualaikum," teriak Hanan dari arah pintu.
Ayu dan Angga menjawab serempak menatap sang putra yang nampak menggoda beberapa karyawan.
"Apa Hanan pernah bertemu dengan Ikram?" tanya Angga yang tiba-tiba teringat dengan mantan suami dari calon istrinya tersebut.
"Pernah beberapa kali. Tapi Hanan memang cuek sama papanya. Padahal aku sering menasehati dia, tapi sepertinya kenangan buruk itu tidak bisa dia lupakan," jawab Ayu lirih.
"Gak papa, biar aku yang bicara padanya."
"Eh, papa masih di sini?" sapa Hanan mencium punggung tangan Angga dan Ayu bergantian.
"Kebetulan sekali." Melirik Ayu yang menatapnya curiga.
Pasti wanita itu akan melarangnya untuk meminta sesuatu pada calon papanya.
Angga menatap Ayu dan Hanan kemudian menggeser duduknya lebih mendekat ke arah putranya.
"Mau minta apa? Katakan saja!" bisik Angga di telinga Hanan.
"Jangan di sini? Nanti mama denger," Hanan balas berbisik.
"Jangan main kucing-kucingan di belakang mama, atau mama batalkan beli motornya," ancam Ayu serius.
Hanan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum kecut dan membatalkan permintaannya. Mungkin setelah nanti mereka sudah sah menjadi ayah dan anak akan lebih leluasa, begitu pikirnya.
__ADS_1
"Gak kok, Ma. Aku cuma mau bilang ke papa untuk hadir di hari Ayah lusa," ucap Hanan jujur.
Lima tahun Hanan melewati hari Ayah dengan Ayu, dan kali ini akan meminta Angga untuk datang ke sekolahnya layaknya siswa yang lain.