Janda Tangguh

Janda Tangguh
Hadiah dari Angga


__ADS_3

Masih di tempat pesta ulang tahun Adiba 


Angga ikut bahagia melihat bayi mungil yang genap berumur tiga tahun itu terus tertawa. Namun, bukan itu yang membuatnya semakin sayang pada ketiga anak Ayu. Akan tetapi, sikap mereka   menganggapnya papa, itulah yang tak mampu membuatnya mengelak lagi dan ingin terus berada didekat mereka. 


''Papa yang potong kue, ya,'' pinta Adiba mendorong pisau yang ada di depannya. 


Terpaksa Angga memotong mewakili Adiba yang ada di gendongannya. 


Tepuk tangan riuh kembali mengiringi saat Ayu membantu mengambil potongan kue.


Saat Angga menoleh tiba-tiba ia melihat Ikram berdiri jauh dari tamu yang lainnya.  


Itu kan Ikram, ngapain dia di situ?


Angga menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Ayu. Mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu. "Ada Ikram, kayaknya dia sengaja gak ke sini.'' 


Ayu menoleh ke arah Angga memandang lalu meninggalkan tempat ramai itu menghampiri sang mantan. 


''Kenapa di sini, Mas? Anak-anak membutuhkan kamu,'' ucap Ayu asal. Ia tidak ingin membandingkan antara Ikram dan Angga yang sama-sama berperan penting, meskipun ada masa lalu yang masih membekas, pria itu tetaplah ayah dari anak-anaknya. 


Ikram tersenyum. Mengusir segala keraguan yang dari tadi menyelimuti. Apa kata Ayu benar, setidaknya ia hadir di tengah putrinya.


Mengambil kotak kado yang ia letakkan. 


''Gak papa aku ke sana?'' Menunjuk ke arah Angga yang sibuk bercanda dengan Alifa dan Adiba. 


''Gak papa. Lagipula mas Angga sudah mengizinkannya.''


Ikram mengikuti langkah Ayu hingga mereka berdiri di samping Hanan. 


''Sekarang Adiba suapin papa,'' ucap Ayu mengambil potongan kue diatas meja. 


Adiba menatap Angga dan Ikram bergantian. Lalu mengambil potongan kue dari tangan Ayu.


Hening 


Semua tamu saling berbisik melihat kebingungan Diba. Mereka pun menerka-nerka siapa yang mendapat potongan kue pertama kali. 


Bukan ke arah Angga maupun Ikram, Adiba menyodorkan kuenya tepat di depan mulut Ayu. 


''Untuk, Mama,'' ucapnya gagu. 

__ADS_1


Hati Ayu merasa terenyuh. Ternyata kasih sayangnya yang sangat besar kini terbalaskan. Tidak ada usaha yang menghianati hasil. Setiap ketulusan dan keikhlasan pasti akan mendapatkan gantinya. 


Ayu membuka mulutnya menerima suapan dari Adiba. Setelah itu Angga membawa bocah itu di depan bu Winda. 


''Ini untuk, Nenek,'' ucapnya seperti yang diajarkan Angga Sebelumnya. 


Bu Winda membuka mulut, ia tak ingin menjadi pusat perhatian di antara tamu yang lainnya.


Adiba kembali mengambil potongan kue dan menyuapi Angga lebih dulu lalu mencium pipinya. 


Ikram terpaksa tersenyum meskipun dalam hati iri, ia tak mungkin menunjukkan di depan semua orang.  


''Makasih, Sayang. Papa juga punya hadiah untuk kamu.'' Angga menjentikkan jarinya ke arah beberapa pelayan yang ada di belakang. 


Beberapa tamu saling bergeser dan memberi jalan untuk pelayan yang membawa kardus besar. 


''Apa itu, Pa?'' Hanan bertanya dengan rasa penasarannya yang sangat tinggi. 


''Ini bukan cuma untuk adik Diba, tapi juga kamu dan dik Alifa,'' tutur Angga di depan para tamu. 


''Benarkah?'' tanya Hanan memastikan. 


Matanya berbinar-binar seolah ia mendapatkan kejutan yang Istimewa. 


''Sepeda,'' ucap Alifa sambil berlari ke arah benda yang disebutnya. 


Adiba ikut turun dari gendongan Angga melihat sepeda baru yang sangat cantik itu. 


Sedangkan Hanan, ia mengucapkan terima kasih pada Angga dan memeluknya.  


''Terima kasih, Pa. Sampai kapanpun aku akan menyayangi, Papa,'' ungkapnya terputus-putus. 


Hanan tak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata ia tak hanya mendapatkan kasih sayang dari Angga, namun juga beberapa hal yang tak bisa didapatkan dari seorang Ikram. 


''Besok sudah bisa dipakai untuk sekolah, karena papa belum tentu bisa menjemputmu,'' tutur Angga dengan lembut. 


Hanan mengangguk, itu saja sudah cukup baginya dan tak perlu diantar jemput naik mobil. 


Angga mendekati kedua adiknya yang menaiki sepedanya masing-masing. Semua tamu ikut bertepuk tangan melihat kebahagiaan ketiga anak Ayu. 


Tanpa disadari, Bu Winda ikut tersenyum melihat Adiba yang nampak bahagia memainkan roda sepeda barunya.

__ADS_1


''Hai cantik, kamu lupa belum menyuapi papa Ikram.'' Angga menghampiri Adiba dan menggendongnya. ''Naik sepedanya nanti kita lanjutkan acara.'' Mengusap kening Adiba yang dipenuhi peluh. 


Semua tamu ikut terpana pada sosok Angga. Tak hanya wajahnya yang tampan, namun sikapnya yang ramah mampu menarik perhatian mereka yang menyaksikan.  


Adiba menyuapi Ikram juga mencium kedua pipi pria itu bergantian. 


''Selamat ulang tahun putri papa. Semoga menjadi anak yang sholehah seperti mama.'' Mencium kedua pipi Adiba bergantian.


Mendengar pujian itu membuat hati Angga kesal. Terlebih yang mengucap adalah mantan.


Dari jauh Hanan hanya bisa menatapnya, sedikitpun tak ada rasa ingin memeluk atau mendekati Ikram. Sakit hati yang dulu seakan terus terbayang-bayang hingga membuatnya kesal. 


''Papa juga bawa hadiah untuk Adiba.'' Mengangkat kotak kado yang berukuran sedang lalu memberikannya pada sang putri.  


''Makasih, Papa,'' ucap nya tanpa ingin membukanya. Matanya justru beralih dan kembali pada sepeda pemberian Angga. 


''Adiba pasti menyukai kado darimu, Mas.'' Ayu mengambil kado itu dan menyimpannya. ''Dan yang ini untuk Alifa dan Hanan.'' Menunjuk dua kado lagi dengan ukuran yang berbeda. 


Ayu mengangguk dan meletakkannya di tempat khusus. 


''Kita foto bareng yuk!'' ajak Angga melambaikan tangannya ke arah Ikram dan Ayu.


Hampir tiga jam berlalu akhirnya pesta itu usai. Semua tamu berhamburan meninggalkan gedung. Kini hanya tinggal Ayu, Ikram dan Angga serta kerabat dekat.  


''Mas, kata mbak Harini dia minta kiriman foto ulang tahunnya Adiba,'' ucap Ayu setelah membaca pesan dari mantan kakak iparnya. 


''Biar nanti aku yang kirim,'' jawab Ikram setuju. 


Wajah Angga mendadak pias saat melihat ke arah Ayu dan Ikram. Ia meraih ujung hijab calon istrinya supaya bisa menjauh.


Ayu yang paham akan hal itu pun menurut kini beralih menghampiri Bu Winda yang sibuk bermain dengan Alifa. 


''Tante makan dulu, jaga kesehatan.'' Ayu menyiapkan beberapa makanan di depan Bu Winda. 


''Aku gak lapar,'' jawab Bu Winda tanpa menatap. 


Ayu tersenyum. ''Makan gak harus saat lapar, tapi kalau waktunya makan Tante harus tetap makan,'' ujar Ayu menyodorkan se sendok makanan di depan bu Winda. Bukan untuk mencari muka, namun Ayu memang peduli pada setiap orang tua, terlebih orang terdekat nya.


Terpaksa bu Winda menerima suapan dari Ayu.


Aku tidak terlalu berharap restu ibu. Tapi aku akan selalu berdoa yang terbaik untuk mas Angga, bukan karena aku tidak mencintai anak tante. Tapi karena aku mau tidak ada yang terluka. 

__ADS_1


Setelah suapan terakhir, Bu Winda menahan tangan Ayu yang hampir pergi.


__ADS_2