
Langkah Ayu semakin malas saat melihat hasil tes yang tak sesuai ekspektasinya. Ia berhenti di depan pintu kamar mandi. Menatap Angga yang masih terlelap. Ada rasa takut menyeruak memenuhi dadanya.
Menghela napas berat sebelum kembali ke ranjang. "Bangun, Mas. Ini sudah pagi," ucap Ayu dengan lembut.
Angga membuka matanya yang masih terasa berat. Mengulurkan tangannya. Memeluk pinggang ramping yang menjadi candu nya.
''Sudah hampir Shubuh. Anak-anak mau sholat jamaah dengan kita,'' imbuhnya.
''Hmmm, aku tahu kok,'' jawab Angga dengan suara serak khas bangun tidur.
''Ya sudah, sekarang kamu siap-siap. Aku bangunin mereka dulu.'' Ayu membantu Angga bangun lalu keluar dari kamar.
Pertama kali menuju kamar Hanan, karena lelaki itu satu-satunya yang paling sulit dibangunkan.
''Kebiasaan kalau tidur lampunya mati,'' gerutu Ayu sembari mencari saklar.
Ia menyalakan lampu. Menggeleng-gelengkan kepala melihat bantal dan selimut teronggok di lantai. Meskipun bukan anak kandung Angga, tapi sebagian tingkahnya mirip dengan pria tersebut.
''Hanan bangun! Sudah pagi, Nak. Papa sudah nungguin, cepetan.'' Menggoyang goyangkan lengan sang putra yang masih tenggelam di alam mimpi.
Belum ada respon hingga terpaksa Ayu mengulanginya lagi.
''Hanan, cepetan! Nanti papa marah.'' Menyibak selimut yang menutupi sekujur tubuh lelaki itu.
''Kalau gak bangun mama ambilin air,'' ancam Ayu.
Mendengar kata yang paling belakang, sontak membuat kedua mata Hanan terbuka lebar. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum kedinginan akibat guyuran dari sang mama.
Ayu tertawa kecil melihat tingkah putranya, meskipun sulit tetap menjalankan kewajibannya dengan rutin seperti yang diajarkan.
Berbeda dengan Hanan yang membutuhkan segala cara, Adiba dan Alifa lebih mudah. Bahkan sekali di panggil mereka langsung melek.
Suasana hangat itu selalu tercipta hingga mentari terbit. Keluarga mereka membiasakan untuk bersama di satu ruangan. Sekedar cerita ataupun menemani anak-anak belajar.
Namun, kali ini ada yang berbeda. Ayu lebih banyak diam daripada biasanya. Seolah merasakan hampa meskipun dipenuhi canda.
''Kamu kenapa, Sayang?'' Mengusap pucuk kepala Ayu yang masih tertutup mukena.
Ayu mengeleng tanpa suara. Wajahnya sedikit sayu menggambarkan ada sesuatu yang dipendam.
__ADS_1
''Jangan bohong! Aku tahu kalau kamu seperti ini pasti ada masalah,'' tekan Angga.
Ayu tersenyum paksa demi bisa mengelabui sang suami. Tak ingin menambah beban Angga yang sudah disibukkan dengan pekerjaan kantor.
Hanan terdiam. Menyaksikan mereka berdua tanpa berkomentar, dan sesekali membantu Alifa mengerjakan tugas.
''Oh iya, Mas. Kemarin mama memesan ayam betutu. Rencananya hari ini aku mau ke sana. Kamu ikut gak?'' tanya Ayu mencairkan suasana.
''Boleh.'' Angga mengangguk setuju.
Sebenarnya ada apa dengan Ayu, dari kemarin dia diam seperti ini.
Sebagai seorang suami yang hampir dua bulan hidup bersama, Angga mulai mengenal kondisi sang istri yang tak wajar. Terlebih, wanita itu selalu meminta persetujuannya setiap melakukan sesuatu, dan rasanya aneh jika seperti saat ini.
Angga masuk ke kamar. Sementara Ayu langsung ke dapur untuk membuatkan makanan yang di pesan bu Winda.
Apa Ayu ada masalah keuangan?
Angga mengambil ponselnya lalu menghubungi Ais. Menanyakan apa yang terjadi di toko.
''Gak ada apa-apa, Pak. Semua baik-baik saja, bahkan bulan ini omset melambung tinggi,'' jawab Ais sambil melihat laporan yang masuk dari beberapa pegawai.
''Baiklah, terima kasih. Lain kali jika ada masalah kamu bilang ke saya,'' pesan Angga pada sang asisten.
Angga menutup sambungannya. Ia segera ke kamar mandi. Mengguyur sekujur tubuhnya dengan air shower.
''Ah, kenapa sabun nya habis sih?'' gerutu Angga, mencoba untuk menuang sabun yang memang sudah habis. Terpaksa berjalan ke arah lemari. Namun nihil, di sana juga kosong. Tanpa sengaja tangannya menyenggol sesuatu hingga jatuh.
Angga memungutnya dan melihat benda yang berserakan di bawah lantai.
''Tespek?'' ucapnya setelah membaca tulisan yang ada di bungkusnya. Kemudian membuka tong sampah.
Kecurigaannya selama seminggu ini sudah terjawab saat ia melihat beberapa tespek yang sudah terpakai di tong sampah.
''Apa karena ini Ayu banyak diam?'' Angga cepat-cepat menyelesaikan aktivitasnya. Mungkin, memberi semangat adalah satu-satunya jalan yang membuat wanita itu tersenyum kembali.
''Kayaknya enak sekali.'' Angga melingkarkan tangannya di perut Ayu. Mengecup pipinya dengan mesra.
Entah, sejak kapan pria itu berdiri, Ayu pun tak menyadarinya hingga mengusap dadanya, terkejut.
__ADS_1
''Beberapa ART memilih pergi. Memberi mereka kesempatan pada sang majikan untuk bermesraan.
''Kamu bisa gak sih gak ngagetin, aku?'' Ayu mematikan kompor. Mengangkat masakan yang sudah matang.
''Gak bisa, Sayang,'' ucapnya manja.
Memutar tubuh Ayu hingga mereka bertatap muka.
''Aku tahu kenapa beberapa hari ini kamu diam,'' ucap Angga ke inti.
Senyum Ayu nampak redup tak bersemangat.
''Aku hanya takut gak bisa memberimu anak, Mas. Aku takut tidak bisa memberikan mama cucu. Padahal, itu yang diinginkannya dengan pernikahan kita,'' ucap Ayu dengan mata berkaca-kaca.
Angga menggeleng. Apa yang dikatakan Ayu memang benar, namun tidak semestinya ia merasa tertekan dengan itu semua.
''Hamil dan memiliki anak bukan sumber kebahagiaan bagi pasangan suami istri. Itu hanya bonus dan kepercayaan dari Allah. Jadi kamu gak perlu merasa terbebani.'' Untuk yang kesekian kali Angga meyakinkan.
Ayu menarik napas dalam-dalam. Mencoba mengusir apa yang menyelimutinya selama ini.
"Tapi bagaimana kalau mama __"
Angga mendaratkan jarinya di bibir Ayu. Menghentikan pembicaraan wanita itu.
''Jangan pikirkan mama, itu urusanku. Aku yang akan bicara dengan dia nanti. Yang penting kita sudah usaha setiap hari.'' Menaik turunkan alisnya yang membuat Ayu terkekeh.
Angga memang selalu bisa membuat Ayu terlepas dari masalah dengan segala canda nya. Pria yang jauh lebih muda itu mampu menjadi pemimpin cerdas dalam rumah tangga.
Hanya satu yang Ayu inginkan dari pria itu, yaitu untuk tidak pernah berubah sampai kapanpun.
Ya allah, selama ini hamba tidak pernah menuntut apapun. Semoga Engkau memberikan yang terbaik untukku dan mas Angga.
''Mulai sekarang jangan pernah kamu tes lagi, karena itu hanya akan membuat mu kecewa jika hasilnya negatif. Tetap positif tinking dan jangan berkecil hati. Yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita,'' tutur Angga sekali lagi.
Ayu mengeratkan pelukannya. Mengucapkan terima kasih pada Angga yang mau menerima apa adanya.
''Ayo, Ma...Pa. Kita berangkat,'' sahut Alifa yang sudah siap memakai seragam.
Ayu bergegas mengusap pipinya yang dipenuhi air mata. Menyiapkan makanan untuk mereka yang udah menunggu di ruang makan.
__ADS_1
Kasihan Ayu, aku harus bisa membuatnya melupakan tentang kehamilan. Aku harus meyakinkan dia bahwa tanpa anak aku sudah bahagia.
Angga pun ikut sarapan bersama sebelum berangkat ke rumah bu Winda.