
Sebuah tamparan kecil mendarat di pipi Angga. Ayu bergegas melepas baju dan kerudungnya yang terikat. Mundur satu langkah sedikit menjauh. Mengusap bagian pinggang bekas tangan lancang pria tersebut.
"Kok ditampar sih? Aku kan cuma bantuin kamu." Angga mengusap pipi kokohnya. Meskipun tak sakit, tangan Ayu seakan masih terasa menempel di sana hingga ia ingin merasakannya berulang kali.
"Siapa yang menyuruhmu menyentuhku?" pekik Ayu dengan suara yang masih ditahan. Sadar, saat ini di depan umum dan tidak boleh membuat keributan.
"Gak ada, itu inisiatif ku sendiri, Sayang."
Harini yang mendengar panggilan itu hanya bisa menahan tawa dan memilih pergi. Sementara Ayu semakin murka. Kini tak hanya tangannya yang sudah berani berbuat lebih, bahkan bibir Angga pun ikut nakal.
"Sayang sayang kepalamu peyang." Ayu merapikan hijabnya. Memalingkan pandangan ke arah lain.
Angga tersenyum melihat kekesalan Ayu yang tampak semakin cantik.
"Kalau begitu aku panggil my darling, mau?" Angga menaik turunkan alisnya.
Menggoda Ayu akan menjadi hiburan tersendiri baginya. Sebab, itu membuat hati nya selalu berdebar-debar.
"Gak mau, pokoknya panggil nama," pinta Ayu menegaskan.
"Tapi aku gak suka, pokoknya mulai hari ini aku akan memanggilmu sayang," tegas Angga yang tak bisa ditawar lagi.
Harini geleng-geleng. Ayu yang terbiasa serius justru seperti seperti anak abg yang sedang bertengkar dengan pacarnya. Sedangkan Angga sendiri, pria itu layaknya berbondong yang membujuk kekasihnya saat ngambek.
Dari jauh nampak Ikram dan Rani masuk ke sebuah toko perhiasan. Angga segera menangkup kedua pipi Ayu dan menghadapkannya ke arah mantan suaminya itu.
"Apa kamu gak ingin terlihat bahagia? Setidaknya tunjukkan pada mereka bahwa saat ini jauh lebih bahagia daripada mereka," ucap Angga berbisik.
Ayu terpaku. Sedikitpun tak mencengkal tangan Angga yang menyentuhnya. Ia termakan ucapan pria itu.
"Bagaimana caranya?" tanya Ayu yang kini terhanyut oleh permainan sang CEO bujangan.
"Ikuti aku!"
Angga meraih tangan Ayu dan melingkarkan di lengannya. Mereka menghampiri Harini yang masih setia menunggu anak-anak bermain.
"Apa kita sudah pantas menjadi pasangan suami istri, Mbak?" tanya Angga konyol.
Harini mengangkat kedua jempolnya. "Cocok sekali."
Ayu hanya diam seperti boneka yang melakukan apapun permintaan Tuannya. Sedikitpun tak membantah ataupun memberontak.
__ADS_1
"Baiklah kita mulai membuat hati Ikram terbakar api cemburu."
Meskipun mereka sudah berpisah, Angga bisa menangkap kecemburuan di wajah Ikram saat ia memeluk pinggang Ayu.
Mereka masuk ke toko di mana Ikram dan Rani berada. Seorang pelayan menghampiri Angga dan Ayu.
"Saya mau pesan perhiasan yang limited edition," ucap Angga dengan suara lantang.
Rani yang duduk di samping nya itu bisa mendengar jelas suara Angga. Menatap Ayu dengan tatapan sinis. Menyenggol Ikram dengan sikunya berharap pria itu paham dengan kodenya.
Pelayan datang membawa satu set perhiasan seperti permintaan Angga.
"Apa?" tanya Ikram pura-pura bodoh.
Rani menyungutkan kepalanya ke arah perhiasan mewah yang ada di depan Ayu. Mengembalikan perhiasan yang tadi dipilih.
"Kamu mau memakainya sekarang, Sayang?" tanya Angga dengan suara lembut.
Ayu semakin bingung. Sandiwara macam apa itu? Dari lubuk hatinya ingin segera mengakhiri drama yang menurutnya aneh. Namun, ia tak ingin menyia-nyiakan perjuangan seorang Angga yang ingin membantunya sepenuh hati.
"Boleh," jawab Ayu dengan suara lembut pula.
Bak tersiram guyuran air es dada Angga terasa sejuk. Meskipun itu hanya sandiwara, namun ia berharap sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
"Bukan kalung yang membuatmu cantik, tapi hati kamu." Angga mengucap dari hati.
Dari awal ia tidak pernah memandang penampilan Ayu yang tertutup, namun ia jatuh cinta dengan segala yang dimilikinya.
Ayu merasa tersanjung. Melupakan rasa kesal yang tadi menyelimutinya. Kini ia merasa berada di atas awan karena sikap Angga.
Sedangkan Rani semakin merajuk saat Ikram tak mau membelikan nya perhiasan seperti yang dibeli Angga.
"Mau pakai cincin juga?" tawar Angga mengambil cincinnya.
Ikram berdiri lalu meninggalkan tempat itu.
Rani yang sudah menyiapkan jarinya itu menggenggamnya lagi.
"Gak usah. Aku gak suka pakai perhiasan," ucap Ayu berusaha melepas kalung yang melingkar di lehernya.
Namun, Angga segera menahan tangan wanita itu.
__ADS_1
"Jangan dilepas!" pinta nya serius.
Tidak masalah, sekali-kali Ayu mengalah dan menuruti permintaan konyol Angga.
Tak berhenti di situ saja. Usai membayar perhiasan secara kontan, Angga pun keluar. Ia mengikuti Ikram dan Rani yang kini masuk ke sebuah toko baju.
"Kita mau ke mana lagi?" tanya Ayu menghalangi jalan Angga.
"Ngikutin Ikram lah. Ke mana lagi?" jelas Angga.
Ayu menghela napas panjang. "Jangan buang-buang uang kamu hanya untuk membeli sesuatu yang tidak penting. Kita bisa melakukan dengan cara lain," usul Ayu.
Angga tak peduli. Membahagiakan Ayu memang banyak cara, namun kali ini ia ingin memanjakan wanita itu dengan uang yang dimiliki.
"Tenang saja, aku tahu mana yang benar dan mana yang salah." Tetap membawa Ayu untuk berbelanja. Sok-sokan menjadi pria dewasa, padahal masih kekanak-kanakan.
Ayu hanya bisa berdecak. Ia tidak tahu apa yang dipikirkan Angga hingga belum puas dan kembali mengikuti permainannya.
"Kamu mau beli baju yang bagaimana, Sayang?" Angga mengambil gamis mahal yang menggantung di samping pintu.
Rani menghentak-hentakkan kakinya saat melihat Angga dan Ayu. Kehadiran mereka seperti bara api yang terus membakar sekujur tubuhnya.
"Terserah kamu saja, Sayang. Aku ikut," balas Ayu dengan suara manja.
Angga mengambil beberapa baju mahal dan membawanya ke kasir, sekilas melirik Ikram yang tak bisa berkutik lagi.
Sedangkan Rani, dia semakin kesal dengan tingkah mereka. Suasana hati nya kian memburuk dengan tingkah Ayu dan Angga yang nampak lebay.
Angga membayar baju yang dibelinya lalu menghampiri Ikram.
"Kalian boleh belanja sepuasnya. Nanti aku yang membayar," tantang Angga membanggakan diri.
Mata Rani berbinar mendengar ucapan itu. Tangannya mengulur menyentuh gaun yang dari tadi ingin ia beli. Namun, tangan Ikram langsung menahannya.
"Kita pulang." Ikram menyeret Rani keluar dari toko itu. Ia pergi dengan hati yang membara.
Ayu tersenyum penuh kemenangan. Meskipun dramanya terlalu komedi dan meresahkan, ia merasa puas sudah membuat Ikram malu.
"Kembalikan bajunya!" Ayu menyodorkan paper bag yang ada di tangannya ke arah Angga.
"O, tidak bisa. Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi, Nyonya."
__ADS_1
Angga meraih barang-barang yang ada di tangan Ayu lalu berlari terbirit birit. Menghindari amukan yang sudah mengintai.
Dasar anak jaman sekarang, dia pikir bisa mengelabui aku yang sudah dewasa. Kita lihat saja, sebesar apa perjuanganmu untuk mendapatkan hatiku?