Janda Tangguh

Janda Tangguh
Pendekatan


__ADS_3

Ayu mengikat jilbabnya ke belakang. Menghampiri bibi yang ada di dapur melihat beberapa bahan yang akan dimasak. 


"Biar aku yang masak, Bi." Ayu celingukan mencari tempat penyimpanan bahan makanan. 


"Di sini, Non." Bibi menunjukkan lemari pendingin tempat mereka menyimpan bahan yang akan dimasak. 


"Biasanya tante Winda suka makan apa?" tanya Ayu sebelum mengambil bahan-bahan dari tempat itu. 


"Terserah Non saja. Ibu mah gak pernah minta."


Ayu paham kebanyakan orang tua memang seperti itu, hanya saja yang muda harus lebih perhatian untuk menjaga kesehatannya.


Ayu mengambil ikan salmon dan juga beberapa sayuran, tak lupa kacang-kacangan dan susu. 


Semua bahan itu baik untuk bu Winda yang usianya hampir menginjak 60 tahun. 


"Bantu aku ya, Bi," pinta Ayu menyerahkan beberapa sayuran untuk dipotong. Sedangkan ia sendiri mulai bergelut dengan ikan dan bumbu lainnya. 


Masya Allah, kalau perempuan kayak gini aku juga mau. Sayang banget sudah gak ada anak laki-laki lajang.


Layaknya Angga, bibi juga jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka terlihat akrab. Meskipun ini pertama kali bagi Ayu, ia tak pernah merasa canggung saat bersama dengan asisten rumah tangga.


Di ruang tengah. Adiba yang ada di pangkuan Angga mengulurkan tangannya ke arah bu Winda seolah mengajaknya berkenalan. Bocah itu tersenyum. Menunjukkan giginya yang baru tumbuh beberapa biji. 


"Panggil nenek," suruh Angga menunjuk bu Winda. 


Adiba tersenyum malu. Membenamkan wajahnya di dada bidang Angga. Tersenyum cekikikan sambil belajar mengucap seperti yang diajarkan calon papa nya tersebut. 


"Ne–nek," panggil Adiba terputus-putus. 


Angga bertepuk tangan memuji Adiba yang berhasil mengucap kata itu. 


"Besok Adiba ulang tahun, minta kado apa, Nak?" tanya Angga basa-basi. 

__ADS_1


Bu Winda membisu, namun dalam hati ia pun ingin sekali menyapa Adiba yang nampak imut dan lucu. 


"Boneka," jawab Adiba gagu, dan itu semakin membuat bu Winda gemas. 


"Kakak nya umur berapa?" tanya Bu Winda datar. 


"Yang pertama umur 11 tahun, yang kedua umur 6 tahun dan sebentar lagi Adiba berumur tiga tahun," terang Angga menjelaskan. 


Bu Winda meraih remot tv mencari chanel kesukaannya. Mengabaikan Adiba yang dari tadi memanggilnya. 


Ayu datang menghampiri Angga. 


"Makanannya sudah siap, Mas." Ayu mengambil Adiba dari pangkuan Angga lalu beralih berdiri di samping bu Winda. 


"Makanannya sudah siap, Tante," ucapnya lagi dengan sopan. 


Tanpa menjawab, Bu Winda meninggalkan tempat itu menuju ruang makan. Tidak masalah bagi Ayu. Di rumah itu tidak ingin dianggap sebagai calon menantu atau lebih. Ia hanya ingin membantu Angga memperjuangkan cintanya


"Kita makan bareng yuk!" ajak Angga mengikuti bu Winda menuju meja makan. 


Ayu mengambilkan nasi untuk bu Winda. 


"Tante mau lauk yang mana?" 


Bu Winda diam menatap beberapa menu yang tersaji.


"Mulai sekarang Tante harus hidup sehat," tuturnya yang membuat Angga bangga. 


"Ini ada sayuran. Makanan tinggi serat." Menunjuk sayuran yang ada di depan Angga. "yang memainkan peran penting dalam sistem pencernaan. Zat ini membantu mencegah atau meringankan gejala sembelit serta menurunkan kadar kolesterol, tekanan darah, dan peradangan yang terjadi di dalam tubuh. Mengkonsumsi serat yang cukup bisa mengarah pada jantung yang lebih sehat. Serat juga dapat mengontrol kadar gula darah dan menurunkan risiko diabetes. Maaf kalau aku terlalu lancang menjelaskan."


Melirik Angga sekilas lalu menunjuk olahan ikan salmon. "Kalau yang ini sehat bagi jantung dan kaya akan asam lemak omega-3. Ini juga membantu mencegah peradangan yang menyebabkan kanker, rheumatoid, radang sendi, dan penyakit jantung. Omega-3 juga dipercaya memperlambat perkembangan Macular Degeneration (AMD), yakni kondisi yang mengarah pada penglihatan yang buruk. Asam lemak juga mengurangi risiko penyakit Alzheimer dan membuat otak tetap waspada."


Angga geleng-geleng kepala. Ia semakin kagum dengan sosok Ayu. Ternyata wanita itu memahami apa yang dibutuhkan mama nya. 

__ADS_1


"Atau tante mau minum yoghurt?" Mendekatkan minuman susu tepat di depan bu Winda. "Ini juga baik untuk tulang. Yoghurt diperkaya dengan vitamin D, yang dapat mencerna dan menggunakan mineral utama. Produk olahan susu ini juga membantu proses pencernaan makanan dan juga mengandung protein. Yoghurt juga sangat cocok disajikan dengan buah segar, sehingga manfaatnya akan semakin besar."


Bu Winda membius bibirnya. Mencerna setiap apa yang dikatakan Ayu. Selama ini ia tak pernah mementingkan diri sendiri dan mengabaikan ucapan dokter. 


"Atau tante mau jus tomat?" tawar Ayu menunjuk tomat yang ada di antara buah-buahan di bagian paling ujung. "Tomat adalah salah satu jenis buah yang mengandung likopen tinggi, yakni bahan kimia alami yang membantu melindungi tubuh terhadap kanker prostat dan juga mencegah kanker paru-paru. Tomat yang dimasak atau diproses (dalam jus, pasta, dan saus) mungkin lebih baik daripada tomat mentah. Para peneliti percaya bahwa memanaskan atau menumbuk tomat dapat melepaskan lebih banyak likopen."


"Terserah kamu saja," jawab Bu Winda yang bingung untuk memilih makanan. 


Ayu mengambil ikan dan sayur, dan meletakkan di depan bu Winda. Beralih menyiapkan makanan untuk Angga. 


Lantas, ia duduk di samping pria itu. 


"Kamu gak makan?" tanya Angga menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Ayu. 


Ayu menggeleng pelan, malu saat bu Winda memperhatikannya. 


"Ayolah, Sayang. Kamu harus makan. Jangan sampai kamu ngurusin orang lain tapi gak ngurus diri kamu sendiri." Angga terkesan memaksa hingga membuat Ayu luluh dan membuka mulut. 


"Mulai hari ini dan seterusnya aku yang akan memasak untuk, Tante," ucap Ayu menegaskan. 


Kehilangan kedua orang tua dari kecil membuatnya rindu kasih sayang. Terlebih dari seorang ibu, dan kini Ayu ingin merawat bu Winda layaknya ibu kandungnya sendiri. 


Aku tidak berharap penuh diterima di keluarga ini. Tapi aku tidak mau mas Angga kecewa. Dia berhak bahagia. Bersama siapapun dia menikah aku akan tetap menganggapnya sebagai keluargaku.


"Mas, hari ini aku mau ke toko, ada pesanan yang harus aku antar secepatnya," ucap Ayu merapikan piring kosong bekas makan Angga.


Angga melihat jam yang melingkar di tangannya. Masih cukup untuk mengantar Ayu sebelum ia ke kantor.


Mereka pamit pada bu Winda sebelum pergi. Setibanya dimobil, Ayu dikejutkan dengan notif dari platform tempatnya menulis.


Apa benar segini bisa di tarik?


Ayu seakan tak percaya bisa mendapatkan hasil dari kerjanya selama ini. Lembur setiap malam dan mencari waktu luang. Bahkan, terkadang harus rela begadang demi menghibur para readers.

__ADS_1


Alhamdulillah, semoga uang ini bermanfaat untuk aku dan anak-anak.


Ada satu alasan lagi bagi Ayu menolak pemberian Angga. Kini ia mendapatkan rejeki dari menulis dan berharap bisa menyekolahkan anak-anak seperti keinginannya.


__ADS_2