
Ketulusan Angga pada ketiga anak Ayu tak diragukan lagi. Terlihat jelas pria itu menyayangi mereka. Bahkan, hal sekecil apapun tak luput dari pandangannya. Berusaha menjadi yang terbaik dan memberikan kasih sayang layaknya ayah kandung. Mengembalikan kepercayaan, bahwa seorang ayah tak seburuk yang Hanan pikir.
"Kita makan atau membeli mainan dulu." Angga menghampiri Hanan yang baru saja keluar dari area permainan. Kembali menggendong Adiba yang tampak kelelahan. Memberi mereka minum dan mengusap keringatnya.
"Makan," jawab Hanan malu-malu.
Ayu hanya bisa diam mengikuti mereka dari belakang. Percuma membantah, pasti hanya akan menimbulkan perdebatan sengit.
Angga mengajak keluarga Ayu keluar dari mall. Membawa mereka ke sebuah restoran ternama yang tak jauh dari toko mainan. Hari ini ia akan membahagiakan mereka dengan caranya sendiri.
Ponsel berdering menghentikan langkah Angga yang hampir membuka pintu depan.
Terpaksa Ayu yang membukakan untuk pria tersebut.
"Ada apa, Ma?"
Ayu terdiam menerka-nerka seseorang yang ada ujung telepon Angga.
"Aku di restoran langganan kita. Mama mau nitip apa?"
"Nitip makanan Jawa. Kamu dengan siapa?" tanya Bu Winda antusias. Berharap Angga bersama orang yang dicintainya.
Angga menatap Ayu yang tampak menunduk. Mungkin ini belum waktu nya untuk mengungkap semuanya, masih butuh adaptasi dan menempatkan diri agar lebih baik lagi.
"Sama teman, Ma. Nanti kayaknya aku pulang sedikit terlambat," jawab Angga meyakinkan.
"Baiklah, selamat jalan-jalan. Ingat pesanan mama." Bu Winda mengingatkan.
Ternyata Angga tak hanya lembut pada anak-anak, dia juga sopan pada mamanya. Apa ini hanya akal-akalan dia, atau dia memang laki-laki yang baik?
Angga mendudukkan Adiba di kursi. Menarik satu kursi lagi untuk Alifa, sementara Ayu duduk di samping kedua putrinya dan Hanan serta Harini.
"Kalian mau makan apa?" tanya Angga pada Hanan, Alifa dan Adiba.
Mereka menatap Ayu. Seolah meminta persetujuan sang mama.
"Terserah, Pak. Yang penting gak terlalu pedas," jawab Ayu lirih. Sama seperti yang lain, ia pun hanya diam tanpa memilih menu.
"Mbak Harini pesan apa?" tanya Angga seraya melambaikan tangannya ke arah waitress.
"Terserah kamu aja deh," jawab Harini santai.
__ADS_1
Enak banget mempunyai keluarga penurut seperti ini. Semoga Ayu menjadi jodohku, doa Angga dalam hati.
Entah, sejak pertemuan pertama di kantor waktu itu, wajah Ayu terus memenuhi otak Angga. Bahkan, setiap detik pria itu tak bisa melupakannya.
Angga memesan makanan yang sama, hanya rasanya yang berbeda. Sesekali bercanda dengan Adiba sembari menunggu makanannya datang.
"Sebenarnya apa maksudmu mendekati keluargaku?" Ayu membuka suara.
Dari lubuk hati terdalam, ia suka dengan sikap baik Angga. Namun, kekecewaan yang pernah dialami bagaikan momok hingga ia sulit menerima kehadiran pria dalam hidupnya.
"Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin dekat dengan kamu dan anak-anak, itu saja," ungkap Angga menutupi perasaan yang sebenarnya.
Bukan ia tak berani menyatakan, namun butuh waktu dan memberi kesempatan pada Ayu untuk berpikir matang-matang. Terlebih, wanita itu pernah menjalin rumah tangga yang pahit, dan pasti banyak kebimbangan.
"Kamu mau berteman dengan ku, kan?" tanya Angga menyelidik. Mungkin dengan itu akan membuat Ayulebih nyaman saat berada di dekatnya.
Ayu mengangguk pelan dan tersenyum tanda setuju.
Makanan datang. Ayu segera mengambil untuk Adiba, sedangkan Harini pun menyuapi Alifa. Seperti biasa saat di rumah, mereka akan melayani anak-anak sebelum makan.
Angga memainkan ponsel di tangannya seraya menunggu keduanya selesai menyuapi anak-anak.
"Papa gak makan?" tanya Hanan yang membuat Ayu terbatuk.
Ini kali pertama Hanan memanggil Angga dengan sebutan itu. Terdengar sangat aneh, namun itulah yang diucapkan putranya.
"Nungguin mama," jawab Angga berbisik, namun masih bisa didengar oleh Harini.
Ayu kembali terjebak dalam situasi yang sangat sulit. Disatu sisi ingin melarang Hanan memanggil Angga seperti itu, namun ia juga tidak ingin membuat anak-anak bertanya alasannya.
"Kamu makan saja dulu nanti aku nyusul," saran Ayu tanpa menatap.
Angga menggeleng dan tetap pada tujuannya. Yaitu makan bersama Ayu dan Harini.
Di sisi lain
Ikram yang sudah tiba di rumah membanting semua barang belanjaan milik Rani. Meluapkan amarahnya yang membuncah di ubun-ubun.
Tak menyangka ia akan dipermalukan oleh Angga di depan umum.
"Kamu kenapa sih, Mas?" bentak Rani menarik lengan Ikram dari belakang. Kemudian memungut barang-barangnya yang teronggok di lantai.
__ADS_1
"Kamu gak dengar tadi, Pak Angga menghinaku di depan Ayu," pekik Ikram dengan suara lantang.
"Dengar," jawab Rani santai.
"Lalu kamu mau apa? Kenapa tadi kamu gak lawan dia? Kenapa harus melampiaskannya pada barang-barang yang tidak tahu apa-apa," protes Rani berkacak pinggang.
Rani membuang muka. Malas dengan sikap Ikram yang akhir-akhir ini sering marah tak jelas.
Ikram meninggalkan Rani. Percuma saja berdebat. Ujung-ujungnya akan mengungkit tentang harta Ikram yang memang jauh di bawah Angga.
Pintu tertutup dengan keras menandakan bahwa Ikram masih marah.
Rani mengacak rambutnya kesal. "Apa sih yang dia pikirkan? Seharusnya dia bisa mencontoh Angga yang bisa membelikan apapun untuk Ayu, bukan iri seperti itu."
Rani menghempaskan tubuhnya di sofa, terus menggerutu dengan ulah Ikram yang sering uring-uringan saat menyangkut tentang Ayu.
"Sepertinya Angga itu orangnya royal," gumam Rani tersenyum kecil. Mengingat tawarannya yang menggiurkan.
Namun, tiba-tiba senyumnya lenyap saat teringat dengan Ayu. Wajahnya mendadak pias dengan kedekatan wanita itu dan Angga.
"Gak salah lagi, pasti dia merayu Angga. Meminta belas kasihan supaya mau dengannya. Aku harus mencari cara supaya Ayu dan Angga saling membenci. Mereka tidak boleh bersatu. Aku tidak mau Ayu dan anak-anaknya bahagia."
Rani mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Ia berbicara serius dengan seorang pria yang ada di balik telepon.
Sesekali menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Takut Ikram keluar dan ikut campur.
Tunggu saja, Yu. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia.
Rani bergegas ke kamar. Ia membuka pintu tanpa mengetuk. Menghampiri Ikram yang berdiri di belakang jendela.
Mengusap pelan bahu sang suami lalu menyandarkan dagunya di pundak pria itu.
"Jangan marah-marah. Aku gak akan menuntut kamu seperti Angga. Aku menerimamu apa adanya," ucap Rani meyakinkan.
Ikram membalikkan badan meraih kedua tangan Rani dan menggenggamnya.
"Berjanji lah kalau kamu akan selalu ada bersamaku," ucap Ikram memelas.
Jauh di relung hati yang paling dalam ada rasa takut yang menyelinap. Ikram takut Rani akan meninggalkannya disaat susah.
__ADS_1
Rani mengangguk lalu memeluk Ikram. Tersenyum menyeringai.
Aku hanya ingin bahagia, Mas. Kalau kamu bisa membahagiakan ku dan memberikan semua keinginanku maka aku akan tetap bersamamu. Tapi jika tidak, maaf aku akan mencari laki-laki yang bisa memberikan segalanya.