Janda Tangguh

Janda Tangguh
Malam pertama


__ADS_3

Sisa-sisa percintaan satu jam yang lalu masih terasa hangat. Sentuhan demi sentuhan menjalar ke seluruh tubuh hingga tak bisa terlupakan meskipun mata terpejam. Seakan memberikan kesan tersendiri bagi pasangan pengantin baru yang kemarin terikat hubungan sakral. Luapan cinta yang begitu mendalam dipulas dengan rasa penasaran itu seolah menjadi hiasan di malam pertama mereka. Hanya kebahagiaan yang mampu menggambarkan setiap denyutan nadi. Tidak ada kata lelah yang tersirat untuk menghabiskan waktu yang dinanti. 


Senyum merekah di sudut bibir Angga saat ia membayangkan tubuh molek sang istri. Rasanya ingin mengulang dan mengulang lagi. Tidak ada kata bosan yang menyelimuti. 


Ayu melenguh membuyarkan lamunan Angga. 


Pria itu berkesiap memiringkan tubuhnya ke samping. Tangannya mengulur memeluk sang istri yang hanya tertutup selimut tebal. Mendaratkan ciuman lembut di pipi Ayu yang masih enggan membuka mata. 


''Jam berapa, Mas?'' Ayu membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami yang juga terekspos. 


Angga mengambil ponsel dan menatap jam yang terpampang di layar.


''Baru jam dua pagi,'' jawabnya sembari mengembalikan benda pipihnya di tempat semula. 


Ternyata baru tiga puluh menit Ayu tertidur, namun ia tak bisa terlelap karena sekujur tubuhnya terasa remuk akibat pergulatan yang penuh gairah tadi.


''Kamu gak tidur?'' tanya Ayu lirih. 


Angga menggeleng tanpa suara. Tangannya mulai nakal menyentuh sesuatu yang membuatnya bisa terbang melayang. 


Sepertinya ada sesuatu yang kembali menuntut. Ayu tahu itu, dan ia pun tak bisa mengelak ataupun menghindar. Percuma saja, Angga tidak akan membiarkannya lepas. Toh, ini adalah malam penting bagi Angga yang baru pertama kali melakukan itu. 


''Tapi kalau kamu terlalu capek, kita lanjutkan besok saja.'' Angga mengecup kening Ayu dengan lembut. 


''Gak kok, kapanpun aku siap,'' jawab Ayu mulai sadar sepenuhnya. 


Beruntung tadi mau minum ramuan dari bu Winda hingga mampu mengimbangi tenaga Angga. Seandainya tidak, pasti tubuhnya sudah lemas dan terkapar. 


''Yakin?'' tanya Angga memastikan. 


Sebab, ini dipastikan akan lebih lama dari yang pertama. 


''Yakin, aku bisa buktikan,'' tantang Ayu tanpa rasa takut. 


Angga melanjutkan aksinya. Kali ini sudah lebih lincah daripada yang pertama. Bahkan sudah bisa memperagakan seolah pemain profesional di atas ranjang. 


Hawa dingin yang menyusup tak lagi terasa. Hanya ada kenikmatan yang hadir di tengah kesunyian. Paduan suara meluncur adalah  simbol ungkapan cinta. Ruangan dengan pencahayaan lampu temaram menjadi saksi bisu anugerah yang tak bisa digambarkan oleh apapun. 


Angga kembali menanamkan benihnya di rahim Ayu. Wanita yang sangat ia cintai dan banggakan. Tak berharap lebih memiliki anak takut Ayu tertekan, cukup berdoa pada Sang Kuasa dan menerima apapun takdir yang diberikan. 


Untuk yang kedua kalinya Angga harus terkapar tak berdaya di atas tubuh sang istri. Entahlah, ia benar-benar tak menyangka akan se lelah itu. 

__ADS_1


''Siapa yang tadi koar-koar mau tiga ronde?'' ejek Ayu menyanggul rambut Angga. 


Ia masih menyanggupi seandainya Angga meminta lagi, namun sepertinya itu adalah yang terakhir untuk malam ini. 


''Aku,'' jawab Angga bergeser dan berbaring di samping Ayu. 


''Sepertinya kamu capek banget, gak baik kalau dipaksakan, kita tidur aja,'' ajak Ayu. 


Sebenarnya ia pun juga terlalu lelah, hanya saja tidak mau mengecewakan Angga yang sudah berharap penuh dan antusias. 


Angga mengangguk. Mengangkat kepala Ayu dan membawa ke dekapannya. Hingga mereka tidur saling berpelukan. 


Untuk pertama kali mereka Sholat berjamaah. Pria itu semakin membuatnya bangga. Tak disangka, selain pintar dalam segi bisnis, agamanya juga kental dan bisa membaca surat dengan baik dan benar. 


Ayu menguap. Ternyata tidur dua jam saja tak cukup mengurai rasa kantuknya. 


Angga menepuk pahanya memberi kode pada Ayu untuk segera mendekat. 


Tanpa melepas mukena, Ayu segera memenuhi panggilan itu. Ia duduk di pangkuan sang suami yang nampak lebih berseri-seri. 


''Hari ini kita ke mana?'' Ayu mencium pipi Angga tanpa permisi. 


''Ke mana?'' tanya Ayu penasaran. 


''Gak jauh sih, kita akan berlibur ke pulau cinta,'' ucap Angga. 


''Gorontalo?'' sahut Ayu bahagia. 


Angga mengangguk dan tersenyum. 


Ayu memeluk Angga dengan erat. ''Aku suka, kapan kita berangkat?'' tanya Ayu tak sabar. 


''Besok, kita akan langsung pergi dengan anak-anak. Aku akan membawa pengasuh untuk menjaga mereka. 


Entah kejutan apalagi yang akan diberikan Angga, Ayu cukup puas dengan apapun pemberian pria itu. 


Memang bukan luar negeri karena ada tujuan lain. Angga ke sana untuk menjalankan bisnisnya yang sempat terbengkalai. 


Mungkin dengan ini akan kembali luas.


Pintu diketuk dari luar. Ayu segera bangkit dan membuka pintu, sedangkan Angga kembali ke atas ranjang. 

__ADS_1


''Maaf, Nyonya. Makanannya sudah siap,'' ucap wanita yang berdiri di depan pintu kamar. 


Ayu mengangguk bingung. Menoleh ke arah Angga yang sibuk memainkan ponselnya. 


''Baik, Mbak. Terima kasih,'' ucap Ayu akhirnya. Kembali menutup pintu dan menghampiri sang suami. 


''Kamu pesan makan di mana?'' Ayu melepas mukena hingga menampakkan rambut panjangnya yang masih sedikit basah. 


''Di restoran. Kita akan makan di sana, karena pagi ini anak-anak ke sini,'' tuturnya menunjukkan pesan masuk dari Hanan. 


Ayu merasa iri. Ternyata sekarang putra sulungnya itu lebih dekat dengan Angga daripada dirinya. Bahkan, mau datang ke hotel pun harus mengirim pesan ke papanya. 


''Ya sudah, aku siap-siap dulu,'' Ayu membuka lemari. Mengambil gamis berwarna lavender dengn hijab yang senada. 


Angga pun ikut turun dan kembali memeluk Ayu dari belakang. Ia tak sanggup jika harus berjauhan dari  sang istri. 


''Kapan aku ganti baju nya, Mas?'' keluh Ayu meletakan bajunya di kursi rias. 


''Nanti, aku masih ingin berduaan,'' Angga.''


Lagi-lagi ketukan membuyarkan keromantisan mereka. 


Kali ini Angga yang membuka pintu, sedangkan Ayu memakai jilbabnya dengan asal. 


Ternyata orang suruhan bu Winda yang datang. 


Wanita itu menganga melihat keadaan kamar Angga yang berantakan. Kepalanya terus menggeleng membayangkan bringasnya mereka saat bergulat. 


Ayu jadi malu dengan mertuanya. Ia tak bisa berkata apa-apa selain menundukkan kepala.


Kenapa mama masuk sih, aku kan malu. 


Ayu menggigit bibir bawahnya, namun itu malah membuat Angga tak tahan ingin menciumnya.


''Mama cuma mau memanggil kalian, kalau Hanan dan adik-adiknya sudah ada di restoran,'' ucap bu Winda berjalan mundur. 


Ia juga berlibur dengan tingkah pengantin baru itu. 


''Makasih, Ma. Tunggu sebentar saja aku segera datang,'' pinta Angga. 


Ayu bergegas mengganti baju. Tak ingin membuat semua orang menunggu lama takut menuduhnya berbuat macam-macam. 

__ADS_1


__ADS_2