Janda Tangguh

Janda Tangguh
Curiga


__ADS_3

Semakin hari hubungan Angga dan Ayu semakin dekat. Meskipun restu itu belum hadir, mereka tak mengenal lelah dan terus berusaha untuk meruntuhkan hati bu Winda yang sekeras batu karang. 


"Kamu mau kemana, Ga?" tanya Bu winda melihat Angga yang nampak buru-buru. 


"Aku mau ke rumah sakit, Ma. Hari ini Rani dibawa pulang, aku akan mengurus biaya administrasi,'' ungkapannya sembari memeluk sang mama. 


"Jangan lama-lama, nanti anterin mama arisan.'' 


Angga mengangguk lalu pergi. Menolak pun percuma karena bu Winda pasti akan terus memaksanya. 


Angga tiba di rumah Ayu tepat waktu. Ia masih bisa bertemu dengan Hanan dan Alifa, itu artinya mereka akan sekalian mengantarkan anak-anak ke sekolah sebelum datang ke rumah sakit. 


"Seharusnya kamu langsung ke rumah sakit, Mas. Biar aku yang anter anak-anak.'' Ayu merasa tak enak sudah sering merepotkan Angga. 


"Lalu kamu pikir aku akan tenang melihat kamu naik motor bersama anak-anak?" tanya Angga tegas. 


"Aku cuma __" Ayu menghentikan ucapannya. Ia memilih diam dan mengalah daripada harus berdebat dengan Angga di depan anak-anak. 


"Iya, Mas. Apapun yang kamu katakan selalu benar.''


Ayu fokus pada layar ponselnya untuk melanjutkan tulisannya yang tinggal sedikit lagi. 


"Dalam dua bulan ini aku bisa membuat satu buku, dan aku berharap bulan berikutnya akan lebih.''


''Aamiin,'' jawab Angga ikut menanggapi. Selalu mendukung apapun yang akan dilakukan Ayu.


''Kalau sukses tetap patuh pada suami, ya!'' Angga mengingatkan lagi, bahwa bukan kewajiban seorang wanita untuk mencari nafkah, namun Ayu hanya menyalurkan keahliannya saja. 


"Iya, Mas.'' Lagi-lagi jawaban Ayu sangat menyejukkan. Meskipun di balik itu ada sebuah tembok kokoh yang menghadang, Ayu mencoba untuk membuat Angga nyaman. 


Mungkin suatu saat kamu akan mengerti posisiku, Mas. Bahkan sampai saat ini pun kamu belum bisa membuat mamamu setuju. 


Hampir tiga puluh menit. Mobil sudah tiba di depan rumah sakit. 


Ayu dan Adiba langsung ke kamar Rani. Sementara Angga mengurus kepulangan pasien. 


"Bagaimana, Mas? Apa tidak ada perkembangan?" Ayu bertanya pada Ikram yang sibuk memasukkan baju ke dalam tas. 

__ADS_1


"Belum, tapi dia sudah mulai beradaptasi dan mau menerimaku sebagai suaminya.'' 


"Alhamdulillah. Itu artinya dia tidak lagi merasa sendiri."


"Semangat terus Mas Ikram."


Angga masuk membawa beberapa kertas di tangannya dan memberikan pada Ikram. Itu bukan jumlah nominal yang dibayarnya, melainkan jadwal periksa untuk Rani. 


"Nanti kalau kamu pergi ke rumah sakit langsung telpon aku saja,'' ucap Angga jelas.


"Baik, Pak,'' jawab Ikram membantu Rani turun dari ranjang. 


"Kamu tunggu disini! Aku ke kamar mandi sebentar,'' pamit Ikram melepaskan tangan Rani yang masih nampak lemas. 


Rani mencoba mengayunkan kakinya. Ia tak ingin berdiam diri sementara ia bisa melakukannya. 


Baru beberapa langkah, tiba-tiba Rani terhuyung ke arah Angga. Sontak membuat pria itu terkejut dan berbalik badan. Menangkap tubuh Rani dengan punggung nya. 


"Mas Angga!" pekik Ayu menurunkan Adiba, lalu merangkul Rani dari belakang. 


Angga mengusap kemeja nya di bagian belakang lalu mundur. 


"Aku gak sengaja, aku pikir Rani akan memelukku," bantah Angga serius.


Ayu menghembuskan napas kasar. Entah, sampai kapan pikiran Angga selalu negatif pada Rani dan orang-orang yang pernah jahat. Ia pun ikut bingung.


Ayu menuntun Rani ke arah sofa. Mereka duduk sembari menunggu Ikram. Sebab, tidak mungkin Angga mau menyentuh wanita itu.  


"Ada apa ini?" tanya Ikram yang baru keluar dari kamar mandi.  


"Ini lo, Mas. Tadi Rani hampir saja jatuh, untung ada mas Angga yang menolongnya.'' 


"Aku yang salah,'' sahut Rani lirih. 


"Lain kali kamu gak boleh ceroboh, takutnya penyakitmu tambah parah.'' Ayu merangkul pundak Rani. 


"Biasanya kalau orang yang amnesia itu dibenturkan lagi, biar ingatannya kembali," ucap Angga lalu keluar. Sebab, Ayu tidak akan membiarkannya begitu saja saat melakukan kesalahan. 

__ADS_1


Kebiasaan, pasti selalu konyol. 


Ayu geleng-geleng kepala melihat tingkah Angga yang menurutnya jauh dari kata baik. 


Setelah satu tahun lebih meninggalkan rumah itu dengan penuh air mata, kini Ayu menginjakkan kakinya di rumah Ikram. Banyak kenangan disana, namun ia mencoba menghilangkan dari ingatannya. Pernah ada masa sulit yang mereka lewati. Masa bahagia penuh tawa dan juga ada rasa kecewa yang dirasakan kala itu, namun itu semua hanya akan menjadi masa lalu yang akan terkikis oleh waktu.  


"Kalau kamu gak turun gak apa-apa, lagipula aku cuma sebentar kok,'' ucap Angga membuka pintu mobil.  


"Aku ikut.'' Ayu pun turun dan masuk bersama Angga. Sementara Ikram dan Rani sudah tiba lebih dulu. 


Kali ini tak ada pembicaraan apapun. Angga hanya menyampaikan kata maaf karena kecerobohannya, sedangkan Ayu pun sama dan mengingatkan Ikram untuk selalu menjaga Rani. Mereka terlihat rukun, mengesampingkan masalah yang bersifat pribadi. 


"Terima kasih, Mas.'' Rani mengulurkan tangannya ke arah Angga. Semenjak sadar dan memulai hidup barunya, Rani mengagumi sosok Angga yang sangat baik. 


Angga mengangguk tanpa menerima uluran tangan Rani. 


Kenapa terima kasih padaku saja, bukankah selama ini Ayu yang membantunya. 


Angga menatap Rani curiga. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


"Oh iya, Sayang. Hari ini aku harus pulang cepet, mama minta dianterin ke arisan di rumah besar." Angga melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit. Ran, Mas, salam untuk mbak Harini.'' Ayu bersalaman dengan Rani yang terus menatapnya, seolah ada sesuatu yang dipikirkan wanita itu. 


Angga mengantarkan Ayu pulang ke rumah. ''Seandainya kita sudah menikah, aku pasti tidak akan meninggalkanmu seperti ini,'' kata Angga sembari membelokkan mobilnya ke arah rumah Ayu. 


Ayu tersenyum kecut. Ia tak bisa menanggapi apapun. Jika teringat dengan ucapan Bu Winda seolah hubungannya hanya sandiwara saja. Tak ingin berharap lebih dengan anak yang dikekang oleh induknya.


''Terus berdoa, dan waktu yang akan menjawab semuanya, Mas.'' Ayu menoleh ke arah Angga. 


"Seandainya kita tidak berjodoh, apa kamu mau menganggapku sebagai sahabat?" tanya Ayu dari hati. 


Angga langsung menggeleng, ia yakin dan sangat yakin bahwa Ayu adalah jodohnya dan tidak ada kata andai itu hadir di tengah mereka.


"Semua ucapan adalah doa, maka mengucap lah kata yang menurutmu itu baik. Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu. Karena aku yakin kita akan bersatu. Apapun halangan yang menerpa, kamu adalah milikku selamanya. Kamu dilahirkan untuk menjadi teman hidupku sampai nanti," jawab Angga tegas. 


Ayu terdiam. Takut tak mampu untuk membuka hati bu Winda yang kekeh dengan pendiriannya.

__ADS_1


__ADS_2