
Berbeda dari istirahat pertama yang dihabiskan dengan Angga berdua di kamar, kali ini ayu berkumpul dengan anak-anak. Mereka berlima dalam satu ruangan yang sangat luas dan indah.
Masih di kamar hotel vip lantai dua. Ada beberapa orang juga di sana. Mereka bertugas membantu menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Ayu dan Angga.
Hanan nampak akrab dengan papa barunya, sedikitpun rak merasa canggung bahkan mereka bermain game berdua.
''Ah, papa curang,'' tegur Hanan yang kalah. Star nya dicuri oleh Angga saat pria itu menggelitiknya.
''Eh, gak ada yang curang, kamu aja yang kurang fokus.'' Menoleh ke arah Ayu yang berbaring di atas ranjang.
Sudah dipastikan bahwa wanita itu benar-benar lelah setelah pesta yang kedua tadi. Namun, karena sudah terjadwal dan tak mungkin dibatalkan.
''Kalau gak curang pasti aku yang menang,'' kekeh Hanan tak mau kalah.
Adiba terbangun. Ia merasa terusik dengan suara kakak dan papanya. Lantas ia duduk di pangkuan sang papa.
''Gak tidur?'' tanya Angga mencium pipi Adiba.
Meletakkan ponselnya kemudian memeluk sang putri yang tampak mengantuk.
''Ya sudah, papa bantu kamu tidur.''
Seperti yang sering dilakukan Ayu, Angga mengusap kening Adiba dan menyanyikan lagu anak.
''Tadi ada temanku juga yang datang, Pa. Namanya Chika. Kata dia, ayahnya teman papa,'' ucap Hanan teringat dengan salah satu sahabat sekolahnya yang tadi menyapa saat di pesta kedua.
''Benarkah, kok papa gak lihat?'' tanya Angga memastikan.
''Bukan gak lihat, tapi papa belum tahu orangnya,'' cetus Hanan.
Angga tertawa lepas. Benar apa kata Hanan, bahkan ia hampir lupa dengan nama-nama orang yang menghadiri pesta pernikahannya itu.
Pintu dibuka dari arah luar. Bu Winda masuk menghampiri Angga. Diikuti beberapa pelayan yang membawa makanan.
''Mama istirahat saja. Nanti acaranya anak-anak muda. Jadi mama gak hadir juga gak papa. Selain kasihan pada Ayu, Angga juga kasihan dengan bu Winda yang tak kalah lelahnya.
''Gak papa, kalau bisa mama tetap akan hadir. Ini kan yang terakhir.'' Meletakkan beberapa menu makanan di depan Angga. Menatap Ayu dan Alifa yang saling berpelukan.
__ADS_1
''Kalau nanti malam Ayu belum siap jangan dipaksakan, takutnya dia sakit,'' bisik bu Winda bercanda.
Angga hanya bisa menahan tawa, namun juga salut dengan sang mama yang selalu mengingatkannya.
''Siap, Ma. Masih banyak waktu untuk itu, yang penting sekarang kami sudah sah menjadi suami istri,'' jawab Angga berbisik pula, takut Hanan mendengar obrolan absurd mereka.
''Ya sudah, sekarang kamu ajak anak-anak makan. Mama ke kamar sebentar,'' pamit bu Winda lalu keluar.
''Kakak mau makan sekarang atau nungguin mama?'' tanya Angga pada Hanan.
''Nungguin mama, aku juga ingin menyuapi mama seperti papa tadi pagi.''
Angga membaringkan Adiba yang sudah terlelap di samping Ayu. Lantas, ia keluar menemui beberapa kerabat dan kolega yang masih menunggu acara usai.
''Ngapain kamu ke sini? Masih ada waktu untuk minta jatah.'' Salah satu pria muda menggoda Angga.
''Ada sih ada, tapi kalau mepet untuk apa? Lebih baik mencari waktu yang pas. Lagipula aku gak mau gegabah,'' jawab Angga bercanda. Menaik turunkan alisnya.
''Eh bener juga kamu, jangan sampai kayak aku waktu itu,'' timpal lainnya. Ia menceritakan pengalaman buruk yang pernah terjadi di malam pertama. Tepatnya juga di sela acara pesta seperti Angga saat ini. Saking tidak sabarnya, ia harus menelan kekecewaan karena tak seperti ekspektasi yang dibayangkan.
Semua bergelak tawa. Mereka bergantian menceritakan pengalaman seru masing-masing.
''Kenapa kamu diam, Roy?'' Angga menepuk sang sahabat yang dari tadi diam.
''Gimana aku mau cerita? Istri saja gak punya,'' cetusnya menyeruput kopi yang tersisa sedikit.
Ya, beberapa klien Angga memang belum menikah dengan alasan belum mendapatkan wanita yang pas. Mereka lebih mementingkan pekerjaan daripada pendamping hidup. Namun, ada juga yang memilih untuk menikah muda. Sebab, bagi mereka istri adalah penyemangat saat kerja.
''Kak, tadi ada telepon dari mbak Harini, katanya dompet Rehana ketinggalan di kamar mbak Ayu,'' lapor Erlina menunjukkan pesan dari Harini.
''O, tadi sudah disimpan kok, bilang saja besok aku akan membawanya.'' Angga menarik kursi kosong dan mempersilahkan Erlina duduk untuk menemani istri dari sahabat-sahabatnya.
Angga juga mengenalkan gadis itu pada mereka yang mungkin belum tahu.
''Dia ini juga Pinter lo. Sekarang menjadi sekretarisnya om Surya,'' puji Angga pada Erlina.
Roy tersenyum. Menghabiskan minumannya yang tinggal sedikit lalu menghampiri Erlina.
__ADS_1
''Sudah punya pacar?" tanya Roy lancang.
Erlina menggeleng tanpa suara. Untuk apa berbohong, memang fakta umurnya yang sudah tiga puluh tahun belum menemukan seorang laki-laki yang tepat.
''Jangan mau sama dia, playboy.'' Angga meninju Roy yang hampir menyentuh tangan Erlina. Sebagai saudara tua, ia akan melindungi gadis itu dari pria manapun yang belum tentu keseriusannya.
Erlina tersenyum melihat sikap sang kakak yang nampak sensitif.
''Aku serius, Ga. Gak mungkinlah aku mainin adikmu. Lagi pula aku sudah tua, untuk apa main-main?'' ucap Roy sembari mengusap perutnya.
Angga menatap tajam mata Roy yang dipenuhi kesungguhan.
Tidak ada yang perlu diragukan dari seorang Roy. Pekerjaannya sudah mapan dan juga tampan, baik dan selalu perhatian. Mungkin menyetujui nya akan lebih baik, dan Angga tak perlu khawatir saat Erlina pergi.
''Boleh lah, tapi ingat jangan sakiti dia. Kalau itu sampai terjadi, kamu akan aku cincang,'' ancam Angga serius.
Roy mengangkat tangannya tanda hormat dan siap untuk menjaga Erlina.
Angga menilik jam yang melingkar di tangannya. Ternyata tiga puluh menit lagi acara ketiga dimulai. Ia bergegas meninggalkan mereka.
Ia masuk ke kamar. Berjalan mengendap-endap menghampiri Ayu yang masih terlelap. Ternyata anak-anak pun sudah tak ada di sana.
''Sayang, bangun!" Angga mengusap pipi Ayu dengan lembut.
Tak lama kemudian Ayu membuka matanya dengan pelan. Pemandangan yang menyejukkan mata terpampang jelas di depannya. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihat Angga didekatnya.
''Tinggal satu kali lagi, setelah itu kita akan bebas.'' Angga membantu Ayu bangun dan mengangkatnya ke kamar mandi. Tidak ada penolakan karena Ayu terlalu malas berjalan.
Untuk pesta yang ketiga, Ayu tampil bak Cinderella. Ia memakai gaun pengantin muslimah model ball gown berwarna peach. Gaun pengantin ini pada dasarnya merupakan adaptasi dari model gaun pernikahan internasional.
Model dengan bentuk atasan yang fit in body dengan bagian rok bervolume. Ball gown dengan konsep fit in body dilengkapi hijab yang panjang sehingga bisa turun melebihi dada.
Kali ini Ayu dan Angga lebih santai dan penuh canda karena yang hadir di pesta adalah para penggemar Ayu dan juga mereka yang mendukung penuh atas karya-karyanya.
Termasuk para readers setiaku
Jangan lupa dukungannya, Bestie 🙏🙏🙏
__ADS_1