Janda Tangguh

Janda Tangguh
Rencana menikah


__ADS_3

Hanan menitihkan Air mata dipelukan Angga. Ia tak sanggup membendung air matanya yang menumpuk di pelupuk. 


"Cengeng banget sih." Angga menepuk punggung lebar Hanan yang bergetar naik turun. 


Ia tak menyangka lelaki itu terlihat bahagia saat bertemu dengannya. 


"Kenapa gak minta di jemput, Pa?" ucap Hanan tersendat-sendat. 


"Kalau minta dijemput namanya bukan kejutan."


Angga melepas pelukannya mengusap kedua pipi kokoh Hanan yang dipenuhi air mata. 


"Mulai hari ini dan seterusnya papa gak akan pergi jauh lagi. Kita akan tinggal sama-sama dengan mama dan adik adik," ucap Angga menjelaskan. 


Hanan mengangguk tanpa suara. Itu yang ia nantikan selama ini dan akhirnya sebentar lagi akan terkabul. 


"Sekarang kamu Sholat dulu, papa juga belum Sholat. Setelah itu kita sarapan bersama," suruh Angga pada Hanan yang masih nampak terkejut. 


Angga keluar dari kamar Hanan dan kembali ke kamarnya, namun tak sesuai ekspektasi nya yang akan berduaan dengan Ayu, justru wanita itu keluar. 


"Mau ke mana, Sayang? Ini masih terlalu pagi." Angga menarik ujung hijab Ayu. 


"Masak, Mas. Nanti anak-anak terlambat sekolah," jawab Ayu malu-malu. 


Matanya menyusuri ruangan, takut ada yang mendengar panggilan mesra Angga untuknya. 


"Bibi," teriak Angga. Seketika itu juga seorang asisten rumah tangga menghampirinya. 


"Selamat datang Aden yang ganteng," sapa bibi memeluk Angga. 


Ayu geleng-geleng melihat tingkah mereka yang saling berpelukan mesra layaknya ibu dan anak. 


"Bibi masak untuk anak-anak. Nanti aku kasih bonus." Angga menggoda bibi yang masih memeluknya. 


"Siap, Den." Bibi mengangkat tangannya tanda hormat lalu meninggalkan Ayu dan Angga yang masih berdiri di depan pintu. 


Sama seperti yang lain, Adiba dan Alifa pun terkejut melihat sang papa yang ada di ruang tengah. Mereka menghentikan langkahnya demi memastikan bahwa itu bukanlah sekedar mimpi. 


"Kenapa di sini, Nak? Salim papa dulu." Ayu menggiring kedua anaknya menghampiri Angga. 

__ADS_1


Berbeda dengan Hanan yang langsung akrab, kedua putri Ayu itu nampak malu-malu, namun tetap menjalankan perintah sang mama. 


"Masih ingat sama papa?" goda Angga memeluk Adiba dan Alifa bergantian. 


Mereka mengangguk bersamaan. Lalu duduk di tempat kosong di samping Angga. 


"Papa punya oleh-oleh untuk Kalian." Menunjuk koper yang ada di ruang depan. Ia belum sempat membongkar barang-barang bawaannya. 


"Nanti saja, Mas. Kita makan dulu." Ayu menghampiri Bu Winda yang dari tadi menyaksikan kebahagiaan sang putra. 


"Tante makan dulu! Saya sudah siapkan bubur seperti keinginan tante kemarin," ucap Ayu. 


Bu Winda segera beranjak dari duduknya lalu ke ruang makan. 


Sementara Ayu masih membujuk Angga dan Hanan yang sibuk bermain benda pipih masing-masing. 


"Cepetan, nanti kamu terlambat. Mama juga ada pekerjaan penting," tutur Ayu mendesak. 


Hanan meletakkan ponselnya di atas meja dan mengikuti Ayu, begitu juga dengan Angga. 


"Setelah ini aku pulang, Mas. Kamu istirahat saja dulu, pasti capek." 


"Kenapa harus pulang, tinggal di sini saja." Angga menarik pucuk baju Ayu hingga wanita itu terhuyung.


Ayu tersipu malu saat bu Winda menyaksikan sikap Angga yang cenderung manja saat di dekatnya. 


"Aku punya tanggung jawab di toko, Mas. Tidak mungkin aku di sini terus." Ayu mengoles roti dengan selai lalu meletakkannya di depan Angga. 


Lima tahun berpisah, ternyata tak mengubah sikap Angga pada Ayu. Pria itu tetap menunjukkan keromantisannya saat di dekat sang calon istri. 


"Duduk dulu, aku ingin bicara sebentar," suruh Angga menarik kursi. 


Ayu duduk, matanya menatap Angga yang nampak serius. Tidak biasanya pria itu bicara dengan nada menekan. 


"Sekarang kamu gak usah kerja. Sebentar lagi kita akan menikah, dan aku bisa memenuhi semua kebutuhan kamu dan anak-anak. Bukan maksudku mengekang, tapi aku harap kamu mengerti," pinta Angga penuh harap. 


Ayu tersenyum. Ia menghargai permintaan Angga, namun tak sepenuhnya setuju. Sebab, pekerjaan yang ia perjuangkan saat ini bukan sekedar mencari uang, namun juga menambah ilmu dan wawasan. Menunjukkan pada dunia bahwa wanita juga bisa sukses dan tidak menengadahkan tangan pada suami. 


Bahkan, Ayu membuka seminar untuk mereka yang ingin menulis seperti dirinya. Didukung beberapa penerbit buku, ia pun sukses menggelar di beberapa kota. 

__ADS_1


"Aku bekerja dari rumah, Mas. Insya Allah tidak akan mengganggu masalah pribadi. Aku juga punya jam khusus untuk itu, jadi jangan khawatir," ucap Ayu menjelaskan. Berharap Angga mengerti dirinya yang sudah terlanjur terjun di dunia nya sekarang. 


"Benar kata Ayu, Ga. Biarkan dia berkarir, yang penting tidak lupa dengan lewajibannya sebagai seorang istri," imbuh bu Winda mendukung. 


Angga mengangguk setuju, meskipun dalam hati berat. 


Ayu berpamitan dengan bu Winda. Begitu juga dengan anak-anak yang sudah memakai seragam sekolah. Mereka naik satu mobil, kali ini bukan Hanan yang menyetir, melainkan Angga. 


"Ini mobil kamu, Sayang?" tanya Angga sembari menatap mobil yang lumayan bagus. 


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Ayu balik. Ia segera masuk, dalam hati menebak pasti Angga akan protes. 


"Keren," jawab Angga pura-pura memuji. Padahal, dalam hati protes seperti dugaan Ayu. 


"Memang ini gak sebagus mobil kamu, tapi aku nyaman karena dari hasil keringatku sendiri," tutur Ayu menjelaskan. "Setidaknya aku gak minta-minta pada orang lain," lanjutnya yang membuat Angga mengangguk-anggukan kepala. 


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tempat pertama yang mereka tuju adalah sekolah Adiba dan Alifa. Kini mereka pun sudah pindah ke sekolah yang lebih elite dari sebelumnya. 


Setelah itu beralih mengantar Hanan ke sekolahnya. 


"Kamu sekolah di sini, Kak?" tanya Angga menatap sekolah mewah itu dari dalam mobil. 


"Iya, Pa. Sebentar lagi aku naik kelas." Hanan menyangklong tas punggungnya dan keluar. Melambaikan tangannya ke arah Ayu dan Angga bergantian. 


"Ingat! Pulangnya harus nungguin mama, jangan pulang sendiri," pesan Ayu dengan suara tinggi. 


Nampak dari jauh seorang gadis mendekati Hanan. Dilihat dari sikapnya gadis itu adalah teman dekat lelaki tersebut. 


"Apa itu pacarnya Hanan?" tanya Angga menyelidik. 


"Bukan, Mas. Hanan sudah janji tidak akan pacaran sebelum selesai kuliah," jawab Ayu menutup kaca mobilnya. Ia yakin Hanan akan patuh padanya. 


"Lalu, kapan rencananya kita menikah? Aku tidak akan menunggu waktu lagi." Angga mengingatkan tentang pernikahan mereka yang sudah lima tahun diundur. 


Wajah Ayu mendadak pucat. Dari lubuk terkecil ia pun belum memikirkan tentang hal itu dan tetap fokus pada anak-anak. 


"Terserah kamu saja, aku ikut," jawab Ayu ragu-ragu, namun mencoba yakin bahwa itu adalah pilihan yang terbaik. 


"Baiklah kalau begitu aku akan atur waktunya. Paling lama satu bulan lagi."

__ADS_1


Ayu menelan saliva nya dengan susah payah. 


__ADS_2