
"Beneran gak sih ini?" Ayu menggerutu saat melihat pesanan Angga yang sangat aneh. Ingin sekali ia memukul pria itu, namun tak mungkin terjadi mengingat Angga adalah orang terpandang.
Indah mendekati Ayu yang nampak kesal. Ikut membaca pesan dari akun yang bernama Angga.
"Siapa sih, Bu?" tanya Indah kepo.
Ayu membalikkan tubuh menghadap ke arah Indah yang berdiri di sampingnya.
"Ceritanya kemarin aku mengantarkan pesanan pelanggan. Dia itu laki-laki namanya Angga. Karena wajahnya masih muda aku panggil dik. Eh, ternyata dia itu CEO di perusahaan itu."
Beberapa pegawai ikut tertawa mendengar cerita lucu dari Ayu. Mereka bahkan memegang perutnya. Tak bisa membayangkan wajah seorang CEO yang terkenal kejam angkuh dan dingin tiba-tiba dipanggil dengan panggilan konyol bak mahasiswa. Pasti wajahnya merah padam dengan mata menyala, itulah menurut mereka.
"Memangnya dia memesan apa?" tanya Indah di sela tawanya.
"Pesan pembungkus burung," jawab Ayu dengan suara tinggi.
"Serius, Bu?" tanya Indah memastikan.
Ayu mengangguk cepat. Ia tak mungkin berbohong dan menutupinya dari orang lain.
Indah menganga. Membayangkan tubuh atletis pria itu. Pasti sangat menggoda iman.
"Terus sekarang dia pesan apa lagi?" tanya nya lagi.
Ayu menyerahkan ponselnya kepada Indah untuk membacanya sendiri.
"Tiga stel baju untuk anak cowok umur sepuluh tahun. Baju tiga stel untuk anak cewek umur enam tahun dan baju tiga stel untuk anak cewek umur tiga tahun. Serta gamis untuk wanita kira-kira berumur tiga puluh tahun.'' Indah membaca secara detail.
Ayu menggaruk kepalanya yang tertutup hijab. Pasalnya apa yang tertulis itu menggambarkan keluarganya.
Apa mungkin istri dan anak Angga memang seumurannya dan ketiga anaknya?
Ngapain aku mikirin dia?
Seperti biasa, Ayu segera mengambil pesanan pelanggan sesuai gambar yang dikirim.
"Pesanan banyak lagi, Yu," sapa Irma yang baru datang.
"Banyak sih, tapi dari satu orang," ucap Ayu tanpa menatap. Dari lubuk hati terdalam ingin menyuruh orang lain untuk mengantar pesanan Angga, namun pria itu sudah menulis pesan agar ia sendiri yang mengirimnya.
"Bagus dong, itu artinya kamu bisa dapat uang banyak dan tidak menguras tenaga."
Ayu tersenyum. Ia selalu mensyukuri apa yang dilimpahkan untuknya baik maupun buruk.
__ADS_1
"Iya juga sih. Kayaknya kalau rezeki ku lancar seperti hari kemarin aku tidak terlalu khawatir tentang biaya lulusan Hanan nanti."
Terlebih Ayu juga sudah mulai mendapatkan pundi uang dari tulisannya. Ia bisa membagi waktu dengan baik dan akan menulis jika anak-anak sudah tertidur pulas.
Ayu segera mengantar pesanan pelanggan. Ia cukup puas berbincang dengan Irma. Namun, saat ini belum sepenuhnya bisa bersantai seperti sang sahabat yang sudah sukses.
Ayu menghentikan motornya di depan sebuah restoran mewah yang ada di dekat perusahaan milik Angga. Bukan salah jalan, akan tetapi pria itu meminta Ayu untuk mengantarkan barangnya di sana.
"Mungkin saja dia sedang makan."
Ayu melepas helm. Merapikan hijabnya yang sedikit semrawut. Melihat bayangannya dari pantulan spion. Mengambil empat kotak dengan ukuran yang berbeda.
"Ini gimana cara membawanya ke dalam?" Menumpuk kotak itu di depan, namun malah menghalangi pandangan. Terpaksa ia meletakkannya lagi di jok.
Sepasang tangan kekar tiba-tiba mengambil dua kotak ukuran besar dari belakang Ayu.
Dilihat dari jam tangannya yang mewah sudah dipastikan itu adalah orang kaya.
Ayu terpaku sejenak lalu menoleh ke arah kotak yang melayang hingga ia dan sosok di belakangnya saling hadap.
Pak angga
Ayu hanya mengucap dalam hati. Bibirnya kelu, pergerakannya pun tercekat dengan kehadiran pria itu yang sangat mendadak.
"Cepetan bawa masuk!" ucap Angga membuyarkan Ayu yang nampak melamun.
Mereka berhenti di meja paling pojok lumayan jauh dari pelanggan lainnya. Menarik kursi kosong dan mempersilahkan Ayu duduk.
"Tapi saya masih banyak pekerjaan, Pak," tolak Ayu dengan lembut dan sopan.
"Duduk atau aku tidak akan membayar ini semua." Menunjuk satu persatu kotak yang ada di atas meja.
Ayu yang lebih dewasa memilih untuk diam. Ia tak ingin ribut di tempat umum. Apalagi tempat itu ramai pengunjung.
Waitress datang membawa beberapa menu makanan lengkap dengan dua gelas minuman.
"Makasih," ucap Angga menggeser makanannya di depan Ayu. Memindahkan kotak di kursi lainnya yang kosong.
"Tapi saya gak lapar, Pak."
Kedua alis Angga berkerut. Ia tak masalah jika semua orang memanggilnya dengan panggilan pak, namun rasanya aneh jika Ayu pun memanggil dengan sebutan yang sama seperti anak buahnya.
"Apa aku kelihatan tua?" ucap Angga tak terima.
__ADS_1
Ayu menggeleng tanpa suara. Dilihat dari raut wajahnya pria itu jelas lebih muda darinya, namun ia bingung harus memanggil apa.
"Bukan begitu," ucap Ayu terputus-putus. "Aku__"
Ucapan Ayu terpotong ketika Angga kembali menyuruhnya makan.
"Ngomongnya nanti kita makan dulu. Aku lapar. Mulai sekarang jangan bicara formal dengan ku, anggap saja kita teman."
Angga memasukkan potongan steak ke mulutnya.
Ayu terdiam. Ia semakin kesal dengan tingkah konyol Angga. Ini pertama kali ada pelanggan yang berani mengajaknya makan tanpa memberi tahu lebih dulu.
"Aku gak bisa, masih banyak yang harus aku antar." Ayu masih kekeh menolak ajakan Angga yang nampak serius.
"Ya sudah, biar nanti aku yang antar." Angga tak kehabisan akal. Ia tetap membujuk Ayu dengan caranya yang terdengar menekan.
"Kalau kamu gak bayar aku akan teriak," ancam Ayu bersiap meluncurkan suaranya.
Benar-benar sekeras baja, tapi jangan panggil aku Angga jika tak bisa meluluhkan mu.
Angga mengeluarkan dompet dari saku celananya meminta nota belanjaan yang ia pesan tadi.
"Totalnya enam juta tujuh ratus lima puluh ribu. Apa perlu aku rinci satu persatu?" tanya Ayu tegas.
"Tidak usah," jawab Angga singkat.
Menghitung uang yang ada di tangannya lalu meletakkan di depan Ayu.
"Sudah cukup." Ayu menyimpan uangnya ke dalam tas lalu berdiri.
"Ini tips untuk kamu." Angga kembali menyodorkan lima lembar uang ratusan di depan Ayu.
Apa ini sogokan supaya dia bisa semena-mena padaku?
Ayu menyelidik. Kepercayaannya pada pria memang sudah lenyap setelah pengkhianatan Ikram, namun ia melihat ketulusan di mata seorang Angga.
Aku tidak boleh lemah. Laki-laki hanya akan baik kalau ada maunya.
"Tidak usah dan terima kasih. Semoga betah berlangganan di toko kami."
Tanpa menerima uang itu Ayu meninggalkan restoran.
Angga yang masih duduk hanya bisa menatap punggung Ayu. Ia semakin tertantang dengan sikap angkuh wanita tersebut.
__ADS_1
Cepat atau lambat aku pasti bisa mendapatkanmu Yu. Jangan remeh kan aku.
Angga memanggil seseorang untuk mengganti alamat dan nama penerima kotaknya dengan nama Ayu Lestari.