
"Kita ke mana lagi?" Angga meraup wajah mungil Adiba yang baru keluar dari masjid. Mencium hidung dan kedua pipi bocah itu bergantian layaknya seorang ayah yang melampiaskan kasih sayang terhadap anaknya.
"Kayaknya langsung pulang saja. Waktunya anak-anak tidur." Ayu merapikan hijabnya.
Alifa ikut duduk di pangkuan Angga. Tepatnya di samping sang adik.
Mereka duduk di serambi untuk mengurai rasa lelah akibat keseruannya sambil menunggu Harini yang masih ada di dalam.
"Tapi aku hanya bisa menemani anak-anak hari ini." Menepuk lantai kosong yang ada di sampingnya. Memberi kode pada Ayu untuk duduk di dekatnya.
Malu, begitulah bahasa wajahnya mengatakan hingga hanya ada gelengan kecil. Jemarinya menggulung mencengkram ujung hijab yang dipakainya.
Ah, lama-lama Angga semakin mengagumi sosok janda tangguh itu. Ia sudah tak bisa menahan isi hatinya yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," imbuhnya di depan anak-anak.
Mereka berhak tahu apa yang akan dikatakannya.
"Apa?" tanya Ayu lirih. Menghindari tatapan Angga yang tak dapat dimengerti.
Sinyal-sinyal cinta dari pelupuk mata Angga memang terpancar jelas, namun hati Ayu yang pernah tersakiti seolah tak mempercayai nya.
"Sini!" Angga tetap kekeh menyuruhnya mendekat.
Ayu menggeser sedikit tubuhnya. Mengikis jarak namun tak sedekat yang Angga inginkan. Menyisakan tempat selebar tubuh mungil Alifa.
Angga mengalah, ia yang mendekat hingga keduanya duduk bersejajar layaknya pasangan suami istri.
Sedangkan ketiga anaknya duduk di depan mereka.
"Di sini, di rumah Allah ini aku akan mengatakan tujuanku padamu." Angga terlihat lebih serius daripada berhadapan dengan klien penting. "Aku ingin melamarmu." Menatap wajah Ayu dari samping yang membuat pipi sang empu semakin merona.
Hening
Harini yang hampir melangkahkan kaki di ambang pintu pun mengurungkan niatnya dan memilih mundur. Ia bersandar di dinding seraya mendengarkan percakapan mereka.
Semoga niat Angga tulus.
Rasa ragu kembali menyelimuti membuat Ayu sulit menjawabnya.
"Tidak usah kamu jawab sekarang. Aku akan sabar menunggu." Angga kembali menegaskan. Tidak ingin Ayu terdesak dengan keinginannya.
Merasa cukup memberi kesempatan pada mereka, Harini keluar dengan bibir yang dipenuhi senyuman.
"Kita ke mana lagi?" tanya Harini pura-pura tidak tahu tentang pembahasan yang baru saja terucap.
"Pulang, Mbak. Kayaknya anak-anak capek."
Angga berdiri dari duduknya. Membantu Hanan memakai sepatu. Mereka kembali ke mobil dengan perasaan yang jauh lebih baik.
Sudah hampir setengah perjalanan mereka meninggalkan Masjid menuju rumah Ayu. Angga baru teringat pesanan bu Winda yang terlupakan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Ayu yang bingung melihat tingkah aneh Angga.
Tidak ada jawaban, Angga beralih membenturkan kepalanya di setir yang membuat ketiga anak Ayu tertawa dengan tingkah lucunya.
Hanan yang melihat itu berdiri menyembul ke depan.
"Aku lupa beliin pesanan mama," ucap Angga penuh penyesalan.
Ayu ikut merasa bersalah karena tak mengingatkan. Sebab, ia pun sedikit lupa karena terhanyut dalam suasana yang menyejukkan.
"Memangnya pesanan mama mu apa?" tanya Ayu ragu.
Namun, ia mencoba mencairkan hatinya yang masih membeku. Sedikit demi sedikit membuka tirai cinta meskipun masih agak sulit.
"Terserah, pokoknya ayam kampung."
Ayu mengangguk paham maksud dari ucapan Angga.
"Aku bisa masak, tapi belum punya bahan."
Ucapan itu seperti sebuah mimpi bagi Angga. Ia langsung melajukan mobilnya menuju supermarket. Bukan tak bisa kembali ke restoran, akan tetapi itu adalah kesempatan emas baginya untuk mendekatkan Ayu dan mamanya.
Ayu membeli bahan-bahan yang akan dimasak. Sebagai ibu rumah tangga ia tahu kualitas yang baik dan bagus untuk mendapatkan hasil yang lezat.
Sementara Harini menjaga anak-anak di mobil.
"Ini juga ya?" Angga menunjuk bumbu masakan yang sering ia lihat di dapur rumahnya.
Tak sesuai harapan Ayu, Angga justru mengambil satu renteng dan meletakkannya di troli lalu disusun dengan belanja lainnya.
Mengambil beberapa camilan dengan jumlah yang banyak. Tak lupa susu untuk persiapan di rumah.
Tanpa sengaja seorang wanita menabrak Angga dari arah berlawanan hingga sang empu menjerit.
Ayu yang ada di balik rak bergegas berlari ke arah sumber suara. Menghampiri Angga yang nampak membungkuk sembari mengucapkan maaf.
O ternyata Rani, kenapa sih dunia ini sempit banget.
"Kamu gak papa?" Ayu menatap Angga dari atas hingga bawah.
Angga menggeleng tanpa suara. Mengibas-ngibaskan tangannya yang basah akibat ketumpahan air mineral.
"Kamu sudah selesai?" Angga memastikan.
Mengambil sarden yang ada di tangan Ayu.
Ayu menjawab dengan anggukan, sedangkan Rani bagaikan patung hidup yang menyaksikan keakraban pasangan sejoli yang sedang dimabuk asmara. Dadanya meletup-letup dan siap menyemburkan air mendidih di wajah wanita yang ada di depannya tersebut.
''Kita pulang." Ayu membantu Angga mendorong troli menuju kasir. Mengabaikan panggilan Rani yang menggema memenuhi ruangan.
"Lain kali kalau kamu bertemu dengan wanita tadi jangan diladeni. Dia hanya akan membuat masalah," bisik Angga di telinga Ayu.
__ADS_1
Lagi-lagi Ayu hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Ayu membongkar belanjaannya di dapur. Melihat beberapa makanan ringan yang dibeli Angga.
Meletakkannya di lemari samping meja makan. Percuma saja protes, pasti Angga tidak akan menggubrisnya.
"Di masak apa?" tanya Ayu dari arah belakang.
"Siapa yang kamu tanya?" sahut Angga memastikan.
Ayu terdiam, bingung mau menyebut Angga apa. Pasalnya pria itu adalah orang penting yang pasti tidak sembarang memanggil nama.
"Anda, Tuan," jawab Ayu menahan tawa.
Wajah Angga mendadak merengut mendengar panggilan Ayu. Ia lebih suka wanita itu memanggilnya dengan panggilan yang lebih mesra.
"Terserah kamu yang penting mama suka," jawabnya ketus.
"Baik, Dik," jawab Ayu yang lebih menjengkelkan bagi Angga.
Terserah sekarang kamu mau memanggil apa, tapi aku pastikan, jika menjadi istriku nanti kamu akan memanggilku dengan sebutan sayang.
Ayu memasak semur ayam kecap. Meskipun terdengar sederhana, masakan itu banyak disukai kalangan atas. Bahkan, salah satu sahabatnya pernah meminta untuk membuka restoran karena masakannya yang sangat enak.
Aroma masakan tercium dari arah ruang tamu menggoda perut Angga yang kembali lapar. Namun, ia hanya bisa menahannya sembari membayangkan wajah Ayu.
Tak lama kemudian, Ayu keluar membawa dua rantang dan meletakkan di depan Angga.
"Nanti kamu bisa komplain kalau masakannya kurang enak."
Angga berdiri, tangannya mengulur menyentuh pipi Ayu tanpa izin.
Sontak membuat sang pemilik terkejut dan mundur menjauh. Kembali mengusap bekas tangan Angga.
"Ada cabe," ucap Angga segera menurunkan tangannya.
"Baiklah, aku pulang dulu mama sudah menunggu. Salam untuk anak-anak." Menatap ketiga anak Ayu yang berbaring di kamar.
Angga berpamitan dengan Harini dan Ayu.
Baru saja keluar dari rumah, Angga kembali masuk menghampiri Ayu.
"Nanti kalau mama tanya aku jawab apa?" tanya nya konyol.
"Terserah kamu saja."
Angga tersenyum licik.
"Kalau gitu aku boleh bilang ke mama kalau ini dari calon menantunya, kan?"
Tanpa menunggu jawaban, Angga berlari meninggalkan Ayu yang nampak marah. Tak lupa juga mengucapkan salam dari arah luar.
__ADS_1