
"Kita mau kemana, Mas?" Ayu menatap ke arah luar jendela. Memastikan bahwa itu bukan jalan menuju ruko nya.
"Hari ini kita akan ke kantorku. Ada konferensi pers dengan beberapa media, dan aku akan memperkenalkan kamu di depan publik sebagai calon istriku."
Seharusnya hari ini Angga beristirahat melepas lelah, namun karena mendapat telepon dadakan ia harus segera datang memenuhi panggilan mereka.
Ayu menggeleng seketika. "Gak usah, Mas," tolak Ayu dengan wajah merona.
"Loh, kenapa? Kamu malu menjadi calon istriku?" tanya Angga curiga.
Ayu berdecak kesal. Tetap saja Angga beranggapan salah. "Bukan begitu, justru aku takut semua orang membicarakan tentang kita. Pokoknya aku gak mau, titik. Atau hubungan kita berakhir sampai disini," ancam nya.
Angga tak bisa mendesak lagi. Ia cukup tahu posisi Ayu saat ini. Meskipun baginya wanita itu adalah segala-galanya, belum tentu dimata orang lain. Pasti banyak yang beranggapan buruk mengingat janda dan umurnya yang selisih tiga tahun lebih tua darinya.
"Baiklah, Sayang. Aku tidak akan mengenalkanmu di publik, tapi berjanjilah bahwa kamu akan tetap menemaniku dari belakang," pinta Angga penuh harap.
Ayu mengangguk tanda setuju. Itu tidak sulit, bahkan tanpa diminta pun ia akan melakukannya.
Mobil yang dikendarai Angga sudah tiba di depan gerbang. Ayu semakin panik saat melihat puluhan wartawan memenuhi depan kantor milik Angga.
"Bagaimana ini, Mas? Aku gak mau mereka curiga," ucap Ayu panik.
Angga menghentikan mobilnya di tempat parkir paling depan. Ia tersenyum tanpa membuka pintu.
"Mobil ini terlalu buruk jika ditumpangi seorang pengusaha sepertiku, jadi mereka gak akan tahu kalau aku ada disini," terang Angga.
Ayu mengusap dadanya lega. Beberapa kali orang pun mengatakan hal seperti itu padanya yang sudah menjadi orang kaya. Namun, ia tak mengindahkan kata mereka dan tetap memakainya.
"Lalu, bagaimana caranya kamu masuk ke dalam?" tanya Ayu kemudian.
Angga terdiam, nampak berpikir keras untuk melakukan itu tanpa diketahui mereka.
"Kamu turun saja dulu, nanti tunggu aku di lantai tiga. Ada ruangan kecil yang berdinding kaca. Kamu masuk dan duduk di sana. Ambil buku atau apa, pokoknya pura-pura santai. Aku akan nyusul."
Ayu mengangguk setuju. Ia membuka pintu mobil lalu turun, sedangkan Angga tetap berada di dalam sembari menunggu waktu yang pas untuk keluar.
__ADS_1
"Permisi!" Ayu membelah kerumunan yang sangat padat. Lalu, masuk ke dalam. Meskipun sedikit bingung, akhirnya ia menemukan tempat seperti yang diucapkan Angga tadi.
Ayu duduk di sofa lalu mengambil buku sesuai perintah sang calon suami. Mengabaikan karyawan yang berbisik-bisik saat melihatnya.
Angga turun dari mobil. Ia membungkuk ke arah mobil yang lebih mewah kemudian merapikan jasnya dan berdiri tegak.
Ia berjalan gontai menghampiri Riska yang juga ada di tengah wartawan yang bekerja.
Baru beberapa langkah, wartawan sudah berhamburan menghampiri Angga. Mereka berdesak-desakan demi bisa mendapat gambar pria itu.
Meskipun ada keamanan yang berada di sisi kiri dan kanan, ia tak luput dari cubitan mereka yang gemas dengan ketampanannya.
"Kalau nyubit lagi, aku gak mau diwawancara," ancam Angga mengusap pipi nya yang terasa nyeri akibat jari nakal mereka.
"Ya sudah saya belai ya, Pak," ucap salah satu wartawan dengan lancang yang membuat Angga geram, namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa menghindari mereka yang mungkin akan melakukan lebih.
Angga masuk ke sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat Ayu berada.
Meskipun mereka terhalang orang-orang yang bertugas tetap saja Angga masih bisa melihat calon istrinya dengan jelas.
"Terimakasih sambutannya, ini terlalu berlebihan." Angga tersenyum menduduki kursi yang ada di atas panggung, sedangkan bagian samping ada direktur dan juga klien dari perusahaan luar negeri. Tak lama kemudian Tuan Louis menyusul karena ia pun akan memberikan hadiah istimewa atas kesuksesan Anga yang mampu menyelesaikan proyeknya dengan baik dan tepat waktu.
Meskipun Ayu tak bisa melihat Angga secara langsung. Ia bisa melihatnya dari layar televisi yang menyala. Wajahnya yang tampan tak luput dari sorotan mereka di depan mata.
Berbagai pertanyaan pun akhirnya membanjiri Angga. Mereka antusias menanyakan kunci keberhasilan yang diraihnya juga beberapa trik supaya bisa menyelesaikan misi dengan baik.
"Ada juga perempuan yang suksesnya melebihi saya," ungkap Angga dengan suara lugas.
Ayu mengernyitkan dahi, tanpa menyebut nama pun ia sudah tahu siapa yang dimaksud.
Semua orang saling pandang dan mengangkat bahu. Bertanya-tanya dengan sosok yang dimaksud Angga.
"Bahkan dia mulai usaha dari nol. Berkat kegigihannya, ia mampu melewati rintangan yang begitu banyak dan tajam. Saya yakin kalian akan lebih salut padanya." Angga meneguk segelas air putih.
"Siapa, Tuan?" tanya salah satu wanita yang sangat penasaran.
__ADS_1
"Namanya Ayu Lestari. Dia seorang penulis buku novel. Kalau Kalian ingin mengenalnya lebih jauh, silahkan cari di sosial media. Karena wajahnya saat ini sudah tak asing lagi. Tidak hanya itu, dia juga terjun di dunia perdagangan. Dan omsetnya sudah sangat besar."
Mereka berbondong-bondong membuka akun yang bernama Ayu lestari.
"Apakah ini akun nya, Tuan?" Seorang wanita memberanikan diri maju ke depan dan menyerahkan ponselnya pada Angga.
Ayu Lestari penulis amatiran. Angga membaca dalam hati.
Ia menscroll ke bawah, tidak ada satupun gambar wanita itu, namun ketiga anaknya sudah cukup memberi bukti bahwa itu akun milik sang calon istri.
"Betul sekali, tapi sayang fotonya gak ada."
"Wah, sayang sekali." Mereka terlihat kecewa, padahal dari tadi sudah ingin melihat sosok yang dibanggakan seorang Angga.
"Kapan Anda menikah, Tuan?" tanya wartawan selanjutnya. Sebab, ini tidak bisa ditinggalkan dalam konferensi pers kali ini.
Wajahnya yang tampan dan pekerjaanya yang mapan. Pasti tak luput dari seorang wanita.
Angga diam sejenak menatap ke arah kamera dengan lekat.
"Saya akan menikah minggu depan," jawab Angga yakin.
Ayu menundukkan kepala. Ia tak mungkin bisa menghindar saat Angga sudah menunjukkan keseriusannya pada publik.
"Apa sekarang calon istri anda ikut, Tuan. Di mana dia?" tanya yang lainnya.
"Ikut," jawab Angga cepat. "Saat ini dia pasti melihat saya ada disini, tapi maaf saya tidak bisa memperkenalkan pada kalian, cukup doakan kami supaya diberi kelancaran sampai hari pernikahan itu tiba."
Lagi-lagi mereka dibuat kecewa oleh Angga.
"Silahkan jika ingin mengucapkan sesuatu pada calon istri, Anda. Pasti dia akan sangat bahagia dan beruntung."
Angga mendekatkan bibirnya di depan mikrofon.
"Teruntuk calon istriku tercinta, terima kasih karena kamu sudah sabar menungguku. Aku janji akan menjagamu sampai raga ini tak mampu. Aku akan menemani hidupmu sampai kita menua bersama. I Love You. Terima kasih atas waktunya. Salam sukses."
__ADS_1
Tepuk tangan riuh mengiringi saat Angga berdiri dari duduknya