
''Aku suami mu.'' Ikram menunjuk dadanya sendiri. Meyakinkan Rani yang nampak tak mengenalnya.
Rani beralih menatap Ayu dan Angga bergantian. Kemudian menggelengkan kepalanya.
''Aku tidak mengenal kalian semua,'' ujarnya menutup kedua telinga.
Jantung Ikram seakan berhenti berdetak. Bagaimana bisa istrinya sendiri tak mengenalnya. Bahkan seolah menatapnya dengan tatapan asing.
Dokter mendekat dan memeriksa kondisi Rani. Sementara yang lain mundur dengan penuh pertanyaan.
''Apa Anda yakin tidak mengenal Tuan Ikram?'' tanya dokter dengan suara pelan namun menekankan. Menggeser tubuhnya menunjuk Ikram yang berdiri di belakangnya.
Rani menggeleng lemah. ''Aku tidak tahu siapa mereka.'' Menunjuk Angga Ayu dan Ikram bergantian.
Ikram tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah pada dokter yang menanganinya.
''Apa Anda tidak mengingat apapun?'' tanya Dokter serius.
Rani menggeleng cepat. Sedikitpun tidak ada memori yang tertinggal di otaknya hingga bagaikan bayi yang baru lahir.
''Saya tidak tahu apa-apa, bahkan saya juga tidak tahu siapa nama saya,'' ucap Rani lirih.
Angga menarik tangan Ayu untuk mundur. Meskipun kondisi Rani memprihatinkan tetap saja membuatnya tak suka dekat-dekat dengannya.
Dokter mendekati Ikram dan menepuk tangannya.
''Yang sabar, Tuan. Sepertinya Nyonya Rani mengalami amnesia retrograde. Dia tidak bisa mengingat apapun termasuk masa lalunya.''
Ikram menatap Rani dengan tatapan nanar. Tak menyangka wanita yang setahun di nikahinya itu tertimpa musibah besar.
''Ini akibat benturan yang terlalu keras pada kepalanya sehingga membuatnya tidak bisa mengingat apapun,'' lanjutnya.
''Bagaimana cara menyembuhkannya, Dok?'' tanya Angga dari belakang Ayu.
''Ada beberapa metode yang bisa dilakukan. Seperti, terapi okupasi. Terapi jenis ini mengajarkan pasien untuk mengenalkan informasi baru dengan ingatan yang masih ada.''
Angga mengangguk mengerti. Sedikit banyak paham tentang medis.
''Atau bisa dengan teori kognitif dan juga pemberian vitamin atau suplemen untuk mencegah kerusakan otak yang lebih parah.''
Angga masih mengangguk memahat apa yang dikatakan dokter.
__ADS_1
''Dan yang terakhir perubahan gaya hidup. Keluarganya bisa menamni pasien melakukan itu.''
''Baik, Dok. Terimakasih,'' ucap Angga.
Ayu mendekati Rani dan menyentuh tangannya.
''Apa kamu yakin tidak mengenalku, Ran? Aku mantan istrinya mas Ikram.'' Ayu mencoba untuk bercerita tentang masa lalunya.
Rani menggeleng cepat. Bibirnya bungkam seolah memendam banyak sesuatu.
Ayu menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan.
''Aku akan bantu kamu untuk mengingat semua nya,'' ucap Ayu lalu keluar.
Angga pun ikut mendekati Ikram. ''Aku yang akan membiayai perawatan Rani sampai sembuh,'' ucapnya menepuk lengan sang klien.
Baru saja beberapa langkah menuju pintu, Rani mengeluh sembari memegang kepalanya.
Ikram panik dan menghampiri sang istri. Sementara Angga pun sedikit mendekat melihat pasien yang nampak meringis kesakitan.
''Kamu gak papa, Ran?'' tanya Ikram memeluk Rani.
''Kepalaku sakit.''
''Sepertinya pasien butuh istirahat. Saya permisi dulu,'' pamit dokter lalu keluar dari ruangan Rani.
Kini tinggal Ikram dan Angga yang ada di tempat itu, sedangkan Ayu bersama anak-anak duduk di kursi depan.
''Aku akan menyuruh orang untuk merawat Rani. Kalau perlu aku akan memanggil dokter dari luar negeri,'' ujar Angga pada Ikram.
''Tapi aku mohon untuk besok jangan ganggu aku dan anak-anak Kasihan Adiba, dia ulang tahun.''
Ikram hanya bisa mengangguk setuju. Di satu sisi ia khawatir dengan Rani, namun juga tak ingin momen penting si bungsu terlewati dengan masalah lainnya.
Angga keluar menghubungi seseorang dan menyuruhnya datang ke rumah sakit.
''Kamu jangan khawatir, ada Ikram yang akan menjaga Rani. Sekarang kita pergi.''
Dari lubuk hati Ayu tak tega dengan musibah yang menimpa Rani, namun ia pun harus memikirkan kebahagiaan putrinya. Terlebih mereka sudah antusias dengan pesta yang akan diselenggarakan itu.
Ayu pamit dan menguatkan hati Ikram supaya bersabar. Sebagai mantan yang baik ia tak ingin pria itu larut dalam kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
''Hati-hati! Maaf, mungkin besok aku akan datang terlambat,'' ucap Ikram mencium kening Adiba.
''Gak papa, maafin mas Angga juga, dia gak sengaja nabrak Rani.''
Ikram memang tak mau memperpanjang masalah itu. Ia akan menyelesaikan dengan cara kekeluargaan. Apalagi Angga sudah membiayai semua perawatan Rani hingga sembuh.
Ayu dan Angga meninggalkan rumah sakit. Mereka membeli barang-barang yang belum didapat.
Meskipun hati Ayu sedikit tak tenang seperti sebelum kecelakaan, ia mencoba meredam hatinya sendiri dan terus tersenyum.
''Bagaimana kalau Rani tidak bisa sembuh, Mas?''
Ayu tak bisa membendung apa yang ditakutkan.
''Aku yakin bisa, walaupun tidak bisa mengingat masa lalunya, aku akan membantu dia untuk memulai hidup yang sekarang. Dan dia akan menjadi Rani yang baru. Semoga dengan begitu dia tidak jahat lagi seperti dulu,'' ucap Angga sembari menghentikan mobilnya.
Ia masuk ke toko kue terbesar di pusat kota. Menyuruh Hanan memilih kue yang ada di etalase juga memesan untuk acara ulang tahun Adiba.
''Jangan mahal-mahal, Mas. Uangnya bisa untuk beli yang lain.'' Ayu menarik tangan Angga yang hampir menyentuh kue mahal di depannya.
''Yang ini, Mbak.'' Menunjuk kue termahal yang ada di toko itu menatap Ayu sambil cekikikan.
''Sekali-kali bikin anak seneng gak papa lah,'' ucapnya tanpa merasa bersalah.
''Terserah, tapi aku harap hanya kali ini saja,'' ucap Ayu dengan tegas lalu keluar lebih dulu.
Usai membeli semua perlengkapan ulang tahun, Angga dan Ayu pun datang ke gedung yang akan menjadi tempat ulang tahun Adiba.
Mereka memastikan bahwa tidak ada kekurangan sedikitpun dan sesuai keinginan.
''Ini terlalu mewah, Mas.'' Ayu dan anak-anak mengelilingi ruangan yang penuh dengan dekorasi. Layaknya anak orang kaya tempat itu seperti istana princess. Mereka seperti berada di dalam negeri dongeng yang serba berwarna pink.
''Gak, ini biasa saja. Nanti pernikahan kita akan lebih mewah,'' goda Angga sedikit menggeser tubuhnya menjauh, takut terkena cubitan dari calon istrinya.
''Apaan sih.'' Ayu tersipu. Ia tak mau menanggapi ucapan Angga dan memilih fokus pada Alifa.
''Restu aja belum dapat. Ingat ya, Mas. Kalau kita gak direstui sama tante Winda, aku gak akan menikah sama kamu.'' Ayu mengingatkan kembali.
Satu-satunya rintangan yang berdiri kokoh hanya sebuah restu dari seorang ibu. Selebihnya pasrah dengan takdir dari Allah.
''Gak papa, aku akan berusaha membujuk mama. Aku akan sabar menghadapinya. Kita jalani sama-sama, karena sejatinya semua manusia itu sama. Janda ataupun perawan tidak masalah bagiku, karena Rasulullah saja menikahi Siti Khadijah yang sudah janda. Semua tergantung niat baiknya, pasti Allah akan meridhoi.''
__ADS_1
Ayu semakin kagum pada Angga. Satu persatu kepribadian pria itu muncul membuatnya jatuh cinta.