
Lima tahun berlalu
Kehidupan Ayu berbanding balik. Dulu ia yang hanya janda miskin dan sering dihina kini adalah seorang jutawan. Tidak hanya di dunia perdagangan dan beberapa bisnis, namun juga kepenulisan. Ia dikenal sebagai wanita tangguh yang bisa mengubah nasib buruknya.
Tak mudah, banyak rintangan yang berlalu lalang, namun Ayu tak mengenal lelah dan terus berusaha mencapai sebuah misi seperti yang diharapkannya.
Awalnya sempat putus asa saat toko nya hampir bangkrut karena sebuah fitnah dari pelanggan yang tidak bertanggung jawab, namun Ayu kembali bangkit mengingat masa depan putra putrinya. Semua itu pun tak lepas dari orang-orang terdekat yang selalu berada di belakangnya.
Kini ia menikmati hasilnya, bahwa kebenaran tidak mungkin kalah dengan kejahatan. Usaha tidak akan mengintai hasil. Jika niat baik, maka akan berbuah manis.
"Mama capek?" tanya Hanan membuka pintu.
Ayu tersenyum dan menggeleng. Ia memang tidak pernah mengatakan lelah saat didepan anak-anak, terlebih Hanan. Takut lelaki itu khawatir padanya.
"Aku Pijitin, mau?" tawar Hanan melepas tas nya dan meletakkan di sofa.
Menghampiri Ayu yang nampak sibuk dengan benda pipihnya.
"Gak usah, nanti juga sembuh sendiri. Mendingan kamu istirahat saja," suruh Ayu mengusap lembut rambut Hanan.
Seperti hari biasanya, bocah yang sudah menginjak remaja itu selalu ke kamar Ayu saat pulang sekolah, bahkan belum bisa tenang jika belum melihat keadaan sang mama.
Saat ini Ayu memang masih tinggal di ruko. Dan rencananya mereka akan pindah minggu depan menunggu rumah yang dibeli masih direnovasi.
Memanh tak sebagus rumah Angga, namun Ayu bersyukur bisa membeli dengan jerih payahnya sendiri tanpa bantuan siapapun.
Hanan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pertanda ada sesuatu yang diinginkan.
"Aku boleh ganti motor gak, Ma?" tanya Hanan ragu-ragu.
Ayu menarik napas dalam-dalam. Kemudian menyangga dagu dengan satu tangan nya. Menatap manik mata Hanan yang nampak malu-malu.
"Hanya tukar kok, gak beli," jelas Hanan dengan wajah memelas.
Usianya yang hampir enam belas tahun memang tak luput dari dunia luar, namun ia tetap mematuhi setiap peraturan yang Ayu buat. Sekalipun tidak pernah melanggar nya.
"Sebenarnya kamu itu suka motor yang bagus atau yang suaranya kayak guntur?" sindir Ayu mengejek.
__ADS_1
Hanan cekikikan. "Aku suka motor yang suaranya keras, Ma. Seperti punya temanku." Hanan menunduk, melirik wajah Ayu yang menatapnya intens.
"Terserah kamu, tapi ingat! Jangan digunakan untuk boncengan sama cewek," pesan Ayu meninggalkan Hanan.
Setelah pintu tertutup rapat, Hanan melompat kegirangan di atas ranjang. Itulah kenapa dia menganggap mamanya paling the best karena hanya wanita itu yang mengerti akan dirinya.
"Kalau boncengin nenek seru juga."
Hanan membayangkan naik motor bersama bu Winda, pasti wanita itu ketakutan dengan laju motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Ayu turun menghampiri beberapa karyawan yang menyiapkan makanan. Setelah tiga tahun terakhir, ia memang tak hanya mempekerjakan Ais dan Nita, namun ada beberapa karyawan yang masuk untuk membantu mereka. Sedangkan, ia sendiri sibuk menulis. Sesekali memeriksa pendapatan. Selain itu diserahkan pada orang kepercayaan.
Saat ini ada lima puluh buku yang ada di beberapa platform dan juga sebagian ada di best seller. Itu sudah cukup membuat Ayu sibuk untuk mengurusnya.
Tak berselang lama, Hanan menyusul dengan baju yang berbeda. Bocah itu memakai kaos t-shirt dengan jeans hitam serta rambut acak-acakan.
"Mau ke mana?" tanya Ayu tanpa mendekat.
Hanan menghentikan langkahnya menoleh ke arah Ayu yang menyapanya dengan tatapan selidik.
"Ingat! Jangan membawa gadis karena mama gak akan merestui sebelum kamu lulus kuliah." Ayu kembali mengingatkan dengan tegas.
"Aku tidak akan menikah sebelum mama bahagia dengan papa Angga.''
Seketika pipi Ayu merona mendengar itu, bahkan ia tak mampu berkata-kata.
Di usianya yang sudah menginjak tiga puluh enam tahun masih pantaskah dia menikah dan membina rumah tangga?
Atau akan tetap merawat anak-anak hanya seorang diri tanpa pendamping hidup?
Ah, ini sangat membingungkan, karena Ayu masih merasa nyaman menjanda. Ia memilih untuk bungkam dan tetap mengikuti alur yang mengalir.
"Cie…cie yang mau bertemu dengan calon suami," goda Nita sambil menaik turunkan alisnya dengan cepat.
Tanpa sengaja mereka pun pernah mendengar percakapan mesra antara Angga dan Ayu melalui video call.
''Tapi kok akhir-akhir ini pak Angga gak pernah menelpon, Ibu?'' tanya Nita kemudian.
__ADS_1
Senyum Ayu meredup. Benar, hampir lima bulan Angga memang tak pernah menghubunginya, dan jika di telpon pria itu selalu sibuk dan tak mau bicara, itupun dirasakan oleh Hanan.
Ada apa dengan Angga?
Namun, Ayu tak akan berburuk sangka dan berharap Angga memang sibuk seperti ucapannya.
''Apaan sih.'' Ayu tersenyum paksa, lalu pergi meninggalkan mereka.
Hanan mengikuti sang mama kemudian duduk di samping nya. Ia bisa melihat perubahan di wajah wanita tersebut.
"Bagaimana kalau mama gak jadi nikah?" tanya Ayu pada Hanan.
Hanan mengernyitkan dahi. "Gak bisa, pokoknya mama harus menikah dengan papa Angga," kekeh Hanan. "Dan itu gak boleh dibatalkan."
Meskipun mereka jarak jauh, Hanan yakin bahwa Angga tidak akan ingkar janji dan menyakiti mamanya.
Ayu mengerti dengan sikap Hanan, bahkan tidak hanya bocah itu, seluruh keluarga dan kedua putrinya pun berharap sama. Namun, ada yang menjanggal dihati Ayu. Ia takut kecewa seperti dulu.
"Tapi mama sudah tua, sedangkan papa Angga masih muda," papar Ayu mengusap punggung lebar Hanan.
Nita berdecak. Melintasi Hanan dan Ayu. "Kata siapa? Ibu masih sangat muda, dan pantas untuk menjadi pendamping pak Angga. Kami pasti akan berdoa untuk kebaikan Ibu dan dia."
"Iya, Bu. Lagipula apa salah nya. Jarang ada laki-laki seperti pak Angga. Walaupun di luar sana banyak wanita cantik dan menarik, tapi saya yakin dia masih setia dengan, Ibu," timpal Ais.
Ayu terdiam seolah ia terpojok dengan desakan mereka yang mendukung penuh tentang hubungannya dan Angga.
"Kita lihat saja nanti," ucap Ayu pasrah. Ia pun tak ingin mengelak sepenuhnya dari keadaan itu.
Ayu membuka ponselnya yang berdering. Ternyata itu pesan dari bu Winda yang mengundangnya untuk makan malam.
"Dari siapa, Ma?" Hanan mengambil alih ponsel Ayu lalu membacanya sendiri.
"Nenek ngundang kita makan malam, itu artinya aku gak bisa main dong," keluh Hanan menekuk wajahnya.
Tak lama kemudian ponsel Hanan pun ikut berdering. Itu dari teman-temannya yang ngajak nongkrong. Ia segera beranjak dari duduknya dan pamit.
"Jangan pulang malam, kita harus datang ke rumah nenek. Mama gak mau mengecewakan semua keluarga papa Angga," pesan Ayu pada Hanan.
__ADS_1
Hanan hanya menjawab dengan anggukan, dalam hatinya berkata,
Tidak janji, Ma.