Janda Tangguh

Janda Tangguh
Janji


__ADS_3

"Katanya kamu mau mengenalkan calon istrimu pada om?'' tagih Om Surya yang sangat penasaran dengan sosok Wanita yang disanjung Angga. 


Angga tersenyum kecut. Tidak mungkin ia mengenalkan Ayu sekarang, sedangkan hubungannya sendiri sedikit renggang. 


"Kapan-kapan om, jam segini dia kerja,'' jawabya malas.


Bu Winda hanya terdiam. Sebaik apapun jika menyangkut Ayu membuatnya tak mood untuk menyahut. 


"Ya sudah Mbak Yu yang sabar. Tentang jodoh Angga gak perlu dipikirin, kalau sudah waktunya pasti akan datang,'' tutur Om Surya menasehati. 


"Janda ataupun perawan gak masalah, dia juga ciptaan Allah. Terkadang janda malah lebih tahu dan berpengalaman karena dia sudah pernah menjalani rumah tangga. Mbak Yu gak ingat dengan  keluarga kami yang berantakan karena perjodohan?''


Bu Winda masih terdiam. Samar-samar dalam ingatan kembali sebuah masa lalu kelam hingga keluarga adik iparnya itu memilih pergi demi orang yang dicintainya.


"Kamu juga El, kalau cari laki-laki yang bertanggung jawab, jangan sampai menyesal di kemudian hari.'' Kembali mengingatkan Elisa untuk selalu hati-hati terhadap pasangannya. 


"Iya, Om,'' jawab Elisa singkat. 


"Sebaiknya kamu tinggal di rumah, gak baik anak perempuan tinggal di apartemen sendiri," lanjut om Surya. 


Elisa mengangguk setuju. Akan mencoba bertahan dengan keluarga Om Surya yang terkadang juga menjengkelkan. 


Om Surya pamit pulang. Angga langsung berlari ke kamar dan berbaring untuk mengurangi rasa lelah akibat seharian penuh bergulat dengan pekerjaan. 


Beberapa menit Angga memejamkan mata dering ponsel membuatnya harus terbangun. Ia bergegas mengangkatnya, dan berharap itu penting bukan hanya sekadar orang yang mengganggu istirahatnya. 


''Ayu, tumben dia menelponku?'' 


Angga mengangkat dan menyapa dengan berat. 


"Kita harus bicara, Mas. Aku ingin bertemu kamu,'' ucap Ayu pada Angga, ia sudah terlalu lelah untuk basa-basi. Hidupnya yang penuh lika -liku tak siap dicampur aduk dengan  masalah yang berbelit-belit. 


"Kapan, aku sibuk gak ada waktu.'' Angga mendengus kesal.


"Kalau begitu sekarang, aku sudah siap keluar. Terserah mau di mana.'' Ayu mengalah demi bisa mengutarakan isi hatinya. Meskipun saat ini sibuk menulis ia menyempatkan waktu sejenak demi titik terang. 


"Baiklah, kamu tunggu saja di rumah, sebentar lagi aku datang.''


Ayu merengut. Ia pikir Angga akan mengajaknya bertemu di sebuah tempat yang ada di luar, namun justru pria itu mengatakan akan datang ke rumahnya. 


Angga menyambar jaket yang ada di kursi lalu memakainnya. Merapikan rambutnya tak lupa menyemprotkan parfum di bagian tubuhnya.

__ADS_1


''Aku kan belum mandi.'' Mencium kanan kiri, ''masih wangi kok,'' pujinya pada diri sendiri kemudian keluar. 


"Kamu mau kemana, Ga? Jangan bilang bertemu Ayu," tebak Bu Winda yang tak meleset sedikitpun. 


"Gak, Ma. Mau cari angin.'' Angga berlalu meninggalkan bu Winda takut diintimidasi lebih dalam lagi.


Ayu duduk di tepi ranjang. Menyusun kata yang akan diungkapkan pada Angga. Menyelipkan benih cinta yang mulai merekah karena seonggok debu yang menyelinap masuk. 


Sebenarnya apa perasaan mas Angga padaku. Jika dia memang masih cinta kenapa harus ada wanita lain. Bukankah dia sudah tahu Rani itu istrinya mas Ikram seandainya cintanya memang bukan untukku kenapa harus Rani. 


Buliran bening menetes begitu saja. Hati Ayu terasa nyeri jika mengingat kejadian di kantor. Seolah Angga tak menganggapnya hadir dan lebih mementingkan orang lain. 


Pintu di buka dari arah luar diiringi sapaan salam. Ayu mengusap pipinya lalu keluar, seperti biasa ia memasang wajah tegar saat berada di depan orang lain. 


"Ada apa?'' tanya Angga berdiri didepan pintu. Matanya langsung mengarah ke kamar yang tertutup rapat.  


"Gak mau masuk?" tawar Ayu menggeser ke samping. 


"Gak usah." Angga nampak cuek. Memasukkan kedua tangannya ke kantong celana. Menghindari wajah Ayu yang ada didepannya. 


"Apa sudah ada perkembangan tentang Rani. Maksud aku, mungkin dia sudah mulai mengingat masa lalunya.'' Ayu mengawali pembicaraan. 


Beberapa orang yang melintas didepan pun menyapa Ayu dengan ramah. 


"Bakso bakso,"


Disaat Ayu mau bercakap tiba-tiba saja tukang bakso keliling lewat. 


Angga memanggilnya dan membeli dua mangkok. 


"Aku sudah makan."


"Makan lagi!'' paksa Angga yang tetap memasan dua mangkok. 


Dasar pemaksaan


Terkadang Ayu ingin mencakar wajah pria itu namun jika teringat saat di kantor ia ingin memaki pria itu juga. 


"Aku cuma mau mengingatkanmu, hati-hati dengan Rani, dia itu tidak sepolos yang kamu kira. Bukan suudzon tapi aku pernah menjadi korban dari keegoisan dia."


Tukang bakso datang dan meletakkan dua mangkok bakso didepan Ayu aldan Angga. 

__ADS_1


''Tinggalin aja, Bang! Aku beli mangkoknya sekalian,'' ujar Angga  membayar dengan uang yang lebih. Sekaligus untuk uang mangkoknya. 


Tukang bakso mengucapkan terima kasih pada Angga lalu pergi. 


"Kamu cemburu aku dekat dengan dia?'' tanya Angga menyelidik menatap mata Ayu dengan lekat. 


Ayu menggeleng cepat. ''Tidak ada gunanya aku cemburu, lagipula sebagai orang terdekat bukankah sudah kewajiban kita untuk saling mengingatkan?'' 


Ayu beralih menikmati baksonya itu yang sudah mulai menghangat, Sedangkan Angga pun ikut menikmatinya. 


Hanan keluar. Seperti biasa, ia langsung berhamburan memeluk Angga dengan erat. Meluapkan kerinduannya selama beberapa hari. 


"Papa kemana aja? Kenapa gak pernah datang ke rumah?'' tanya Hanan polos. 


"Papa sibuk, Nak. Papa janji kapan-kapan akan mengajakmu jalan jalan.'' Melirik Ayu yang masih menikmati baksonya. 


Apa dia tadi gak makan di rumah. Sepertinya lapar banget. 


"Besok aja, Pa. Aku mau nonton film di bioskop banyak temen-temenku juga lo Pa," ajak Hanan menceritakan pada Angga tentang teman sekolahnya yang sering nonton dengan keluarganya. 


"Boleh, sekalian ajak mama mu dan adik-adik.'' 


Ayu mendongak menatap Angga dengan intens. 


Judes banget manggil aku mama mu, apa dia benar-benar  udah gak cinta lagi sama aku dan lebih tertarik dengan Rani, kalau memang benar seperti itu kenapa harus dia dekat dengan Hanan. Kenapa gak pergi aja nonton dengan Rani. 


"Beneran kan pa?'' tanya Hanan lagi. 


Angga mengangguk menanggapi membuat Hanan kegirangan.


Malam semakin larut, akan tetapi Angga enggan untuk pergi. Angin malam berhembus merasuk menembus tulang namun ada setitik kehangatan yang menyelimuti.


''Sudah malam kamu gak pulang?'' Ayu mengusap tangannya yang mulai terasa dingin.


Angga melepas jaket lalu menggunakannya untuk menutup tangan Ayu.


''Kalau nulis jangan terlalu malam, gak baik.'' Angga mengalihkan pembicaraan.


''Aku janji mulai besok akan nulis siang jam istirahat."


Angga menghela napas panjang lalau berdiri. "Aku pulang," pamitnya, meninggalkan jaket di pangkuan Ayu.

__ADS_1


__ADS_2