Janda Tangguh

Janda Tangguh
Kekesalan Angga


__ADS_3

Angga meluapkan emosinya. Membuang bantal ke sembarang arah. Memporak porandakan kamarnya hingga seperti kapal pecah, namun ia memilih barang yang sekiranya tidak pecah dan menyisakan botol kaca. Otaknya terasa keruh membayangkan saat Ayu berdekatan dengan Ikram. Meskipun itu tak mungkin terjadi hatinya tetap cemas. Takut sang pujaan hati kembali menjalin asmara dengan mantan suaminya. 


Bukankah itu hal yang konyol? 


Sungguh, pemikiran yang sangat labil  untuk ukuran seorang CEO. 


"Awas saja kalau besok aku masih mencium bau parfum laki-laki itu. Akan kupastikan dia bangkrut," gerutunya. Memukul headboard dengan keras. 


Menjambak rambutnya dan mengerang. Menatap ponsel yang ia letakkan beberapa menit lalu. 


"Kenapa harus seperti ini sih?" Merutuki dirinya sendiri karena sudah memberi keputusan yang salah. 


Angga membuka pintu. Melambaikan tangannya ke arah ART yang melintas. 


Bibi mendekat dan membungkuk ramah. 


"Bersihkan kamarku, Bi!" suruh Angga menggeser tubuhnya. Memberi jalan pada bibi untuk masuk. 


"Ya ampun, ini kamar atau gudang?" Bibi geleng-geleng kepala heran.


Memungut satu persatu barang-barang yang teronggok di lantai. Merapikan beberapa benda yang berserakan tak karuan sambil ngomel. 


"Bibi harap Aden gak melakukan nya lagi. Kasihan istri Aden nanti," cetus bibi melirik Angga yang mengawasinya dari balik dinding. 


"Tergantung," bantah Angga duduk di sofa. Matanya tak teralihkan dari bibi yang sibuk memasang sprei. 


Bibi mendengus  kesal dan berkacak pinggang. Meskipun ia hanya seorang asisten rumah tangga namun tak takut dengan Angga. 


"Tergantung apa? Lima tahun lagi bibi sudah pulang. Lalu siapa yang akan membersihkan kamar Aden. Belajar lebih dewasa lagi jangan seperti anak kecil," bentak bibi panjang lebar. 


Angga hanya mendengarkan dari kuping kanan dan mengeluarkan dari kuping kiri. Baginya bibi hanya buang-buang petuah saja. 


"Ini semua gara-gara mama, Bi." Angga semakin kesal. 


"Memangnya ada apa dengan ibu?" tanya bibi berbisik. Mendekati Angga yang masih diliputi dengan kekesalan. 


"Mama menjodohkanku dengan Nara. Bibi tahu, kan? Gadis yang waktu itu ke sini?" Angga mengucapkan dengan lantang. 


Bibi mengingat-ingat satu-satunya gadis yang datang. 


"O, yang bajunya seksi itu?" 


Angga menjentikkan jarinya. "Benar, Bi. Aku gak suka sama dia, aku sudah punya pacar," ungkap Angga sembari membayangkan wajah Ayu saat tersenyum manis. 


"Kenapa gak diajak ke sini?" tanya bibi menyelidik. 

__ADS_1


Angga memejamkan matanya. "Mama gak setuju dengan pilihanku karena dia janda." Mengucapkan dengan nada berat. 


Bibi manggut-manggut. Ia pun tak bisa memberi solusi karena itu menyangkut masalah pribadi. 


"Ikuti kata hati, Aden. Bibi yakin akan ada jalan keluarnya." Bibi menepuk pundak Angga, meyakinkan pria itu untuk tetap memperjuangkan mana yang baik. 


Tak lama berselang, suara tawa menghiasi ruangan depan. Bibi segera keluar setelah menyelesaikan tugasnya. Menatap dua wanita yang sedang bersama bu Winda. Lalu kembali ke kamar Angga. 


"Ada tamu, Den. Kayaknya gadis yang kemarin ke sini," lapor bibi. 


"Hmmm…" jawab Angga dan memilih meringkuk di sofa. 


Tak lama kemudian Bu Winda datang menghampiri Angga. 


"Tante Ruli dan Nara sudah datang, Ga. Cepat keluar!" titah bu Winda ketus. 


"Iya," jawab Angga singkat tanpa ekspresi. 


Angga meraih ponselnya berharap ada pesan dari Ayu, namun ternyata harapannya sia-sia. 


Terpaksa Angga keluar dengan hati yang masih dipenuhi kekesalan. Ia menghampiri Nara dan mamanya yang asik bercanda di ruang tamu. 


"Malam, Tante," sapa Angga mengulurkan tangannya. 


"Kamu tampan sekali, Ga. Tante baru tahu kalau Angga kecil yang sering nangis itu sekarang berubah menjadi laki-laki yang gagah," puji Tante Ruli menepuk lengan Angga. 


Nara menunduk malu seraya menggeser duduknya ke tepi, sedangkan Angga pun duduk di tepi mengosongkan ruang tengah. Mereka terlihat canggung dan memilih memainkan ponsel masing-masing. 


"Ga, ajak Nara keluar supaya kalian mengenal lebih dekat lagi," suruh bu Winda mendekati Angga. 


"Tapi, Ma. Ini kan sudah jam delapan, lagipula aku ngantuk," tolak Angga sewot.


"Jangan bohong, Ga. Mama tahu kalau kamu baru bangun," bantah bu Winda yang membuat Angga tak bisa berbohong lagi. 


Terpaksa ia memenuhi permintaan mamanya. Mengajak Nara keluar dari rumah. 


"Jangan jauh-jauh, aku gak pernah jalan sama cewek malam-malam," ucap Angga  ketus. Membuka pintu mobil lalu masuk. 


Nara bergegas duduk di samping Angga. Meskipun nampak terpaksa, ia yakin bisa meluluhkan hati pria tersebut. 


Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil mendengarkan musik. Mengusir rasa cemburu yang masih menyelimuti hatinya. 


Apa mungkin Ikram ingin kembali pada Ayu? Oh tidak bisa, aku tidak akan membiarkan dia kembali pada calon istriku. 


"Kita berhenti di sana, Ga." Nara menunjuk restoran Jepang yang ada di ujung jalan. 

__ADS_1


"Oke," jawab Angga singkat mengikuti kata Nara. 


Nara turun lebih dulu, sedangkan Angga mengambil ponselnya lalu menghubungi Ayu. 


Tersambung namun tak diangkat. 


"Kamu ke mana sih, Sayang? Angkat dong." Angga sedikit cemas. Takut Ayu lebih mementingkan Ikram daripada dirinya. 


Merasa tak ada respon, Angga turun menyusul Nara yang sudah tiba di depan pintu. 


Mereka masuk duduk di kursi kosong bagian pinggir. 


Nara memesan makanan, sedangkan Angga hanya ikut dan tetap sibuk dengan benda pipih di tangannya. Ia tak memperdulikan sekeliling, lebih fokus dengan kabar Ayu dan anak-anak. 


Apa mungkin mereka sudah tidur? 


"Kamu lagi mikirin apa, Ga?" tanya Nara meraih tangan Angga. Namun, segera pria itu menarik nya kembali. 


"Aku lagi mikirin calon istriku. Kayaknya  sudah tidur," jawab Angga jujur. Sedikitpun tak ingin menutupi tentang Ayu. 


"Calon istri?" ulang Nara. 


Angga mengangguk membalikkan layar ponselnya ke arah Nara. 


"Ini calon istriku." Menunjuk foto Ayu yang nampak cantik dengan gaun dan hijab warna peach. 


Nara hanya bisa terdiam. Menatap wajah Ayu dengan intens. 


"Kalau kamu sudah punya calon istri, kenapa tante Winda menjodohkan kita?" tanya Nara balik. 


Angga mengangkat kedua bahunya. "Yang penting sekarang kamu tahu kalau aku sudah mempunyai calon istri. Artinya aku hanya menganggapmu sahabat tidak lebih, jadi jangan berharap kalau aku akan menuruti permintaan mama," papar Angga dengan jelas. 


Tapi sayang, Ga. aku akan tetap meneruskan perjodohan ini, karena aku suka sama kamu. 


Nara mengambil makanan dan meletakkan di depan Angga. 


"Pokoknya aku mau makanan di restoran itu, Ma," rengek Hanan yang baru saja turun dari taksi. 


"Baiklah, kita akan membeli makanan di sana." terpaksa Ayu menuruti permintaan Hanan. 


Akibat dipaksa untuk memaafkan Ikram, Hanan marah dan mengajak Ayu jalan-jalan menikmati indahnya kota. Mereka berkunjung ke toko buku dan juga sepatu. Setelah itu ke tempat lainnya.  


Tanpa sengaja, Ayu melihat Angga yang nampak asik menikmati makannya. Namun, bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan wanita yang ada di depannya. 


Sepertinya aku memang harus menjauhimu, Mas Angga. 

__ADS_1


__ADS_2