
Ada beberapa hal yang disiapkan Ayu pagi ini hingga membuatnya sibuk. Beruntung Hanan sudah bisa membantu mengambilkan baju untuk Alifa. Tak hanya itu, Hanan juga membantu sang adik memakainya. Menyuapi makan dan juga menyiapkan kebutuhan sekolahnya.
''Maafkan mama ya, Nak.'' Menghampiri Hanan dan Alifa yang ada di ruang makan.
''Gak papa, Ma. Santai saja. Lagipula aku bisa ngurus Alifa kok.'' Hanan membanggakan diri. Menunjukkan pada sang mama bahwa ia jauh lebih mandiri dari sebelumnya.
''Makasih, Sayang,'' puji Ayu meneguk segelas susu untuk menambah energi sebelum bekerja.
Semua sudah siap, jika Hanan bisa berangkat sendiri berbeda dengan Alifa yang harus diantar.
''Bi Ninik tolong tungguin Adiba ya!'' pinta Ayu pada bi Ninik yang berjalan menuju rumahnya.
Wanita itu mengangkat jempol tanda setuju.
Ayu bergegas melajukan motornya ke arah jalan raya. Membelah kendaraan yang berlalu lalang melintas.
Tak lama bi Ninik masuk. Seorang wanita datang dan berdiri di depan rumah Ainaya. Dari penampilannya wanita itu bukan orang sembarangan.
''Maaf, Mbak mencari siapa ya?'' tanya bi Ninik menyelidik.
''Saya mencari Ayu, Bu. Apa dia ada di rumah?'' tanya nya.
''Dia mengantarkan Alifa ke sekolah,'' jawab bi Ninik tanpa menyuruhnya masuk, takut wanita itu memiliki tujuan terselubung.
''Maaf nama Anda siapa?'' tanya bi Ninik kemudian.
'Nama saya Rani, Bu. Saya ada perlu dengan Ayu.''
Bi Ninik mengernyit. Nama itu seperti tak asing di telinganya, namun ia lupa dengan sosoknya.
Rani duduk di depan menatap ke arah ujung jalan yang menghubungkan dengan jalan raya.
Hampir tiga puluh menit, Rani melihat sosok yang dicari itu kembali dan memarkirkan motornya di depan.
Ayu yang baru saja melepas helm terpaku melihat Rani sudah ada di rumahnya.
Sebenarnya ada apa dengan Rani? kenapa dia mencariku? Apa ini ada hubungannya dengan masalah itu. Ayu menerka-nerka hingga lupa menyapa tamunya.
__ADS_1
Rani berhamburan memeluk Ayu dan menumpahkan air matanya di sana membuat sang empu bingung.
''Kamu kenapa, Ran?'' Ayu bertanya tanpa membalas pelukan itu, takut saat ini apa yang dilakukan Rani adalah sandiwara seperti waktu itu.
''Bantu aku, Yu. Bantu aku supaya mas Ikram memaafkanku. Bujuk dia supaya tidak menceraikanku,'' ungkap Rani dengan tersendat-sendat menahan tangis.
''Apa maksudmu?'' tanya Ayu pura-pura tak mengerti. Padahal, ia sudah bisa menyimpulkan dari kata-kata Rani tadi.
Rani melepaskan pelukannya hingga bisa bertatap muka dengan Ayu.
''Mas ikram akan menceraikan ku, Yu. Dan aku gak bisa berpisah dari dia.''
Ayu terdiam. Ia tak bisa menanggapi apa yang dikatakan Rani. Pasalnya itu masalah pribadi mereka.
''Kita bicara di dalam.'' Ayu menggiring Rani menuju ruang tamu lalu menutup pintu.
Seharusnya pagi ini ia berangkat ke ruko lebih awal, namun karena kedatangan Rani hingga membuat nya harus mundir.
''Maaf ya, Ran. Sepertinya masalah ini aku gak bisa bantu.'' Ayu menundukkan kepala. Dari lubuk terdalam ia ingin sekali membantu wanita yang beberapa menit lalu memohon padanya. Akan tetapi, ia juga tak bisa memaksa Ikram untuk bertahan. Terlebih kesalahan Rani sudah sangat fatal dan mempermalukan pria itu yang berstatus suaminya.
Rani semakin terisak. Entah itu adalah sebuah sandiwara atau nyata, tapi membuat Ayu ikut iba.
Jika kamu tahu kita sama-sama perempuan kenapa waktu itu kamu merebut mas Ikram dariku?
Peristiwa itu tak akan pernah dilupakan Ayu sampai kapanpun.
''Baiklah karena kamu memaksa aku akan mencobanya.'' Ayu pasrah, apapun yang terjadi ia harus bicara dengan mantan suaminya.
''Sekarang kamu tenang kan diri kamu dulu, nanti aku akan berbicara dengan mas Ikram,'' kata Ayu sembari memeluk Rani untuk yang kedua kali.
Rani pergi dengan hati yang sedikit lega. Meskipun belum tahu apa yang akan terjadi, setidaknya ia sudah mendapat bantuan dari Ayu.
Ayu melanjutkan aktivitasnya. Membuka map yang sudah dirapikan semalam lalu mengambil tas yang sudah berisi beberapa hal penting lainnya.
Sedangkan Adiba mandi dengan bi Ninik.
''Terima kasih ya, Bu. Mulai hari ini aku akan membawa Adiba ke toko,'' ujar Ayu pada bi Ninik yang sibuk menyiapkan baju untuk sang putri.
__ADS_1
''Kamu sudah punya tempat untuk jualan?'' tanya bi Ninik menyelidik.
Ayu tersenyum malu. Sebenarnya tempat itu belum bisa dikatakan miliknya, karena sepeser pun ia belum membayarnya.
''Tepatnya punya mas Angga, Bu. Dia menyewakannya padaku.''
Bi Ninik tak heran dengan pasangan itu. Pasalnya, Angga adalah orang yang terlampau baik dan akan menggunakan segala cara untuk membahagiakan orang yang dicintainya. Walaupun itu mengundang sensasi baru yang membuat semua orang kagum.
''Bismillah, semoga hari ini adalah awal yang baik. Kaaku tidak akan berharap pada siapapun kecuali pada Allah dan berusaha. Semangat Ayu.''
Ayu menyemangati dirinya yang belum pergi. Mengesampingkan permintaan Rani, menunggu waktu yang tepat untuk membahas itu lagi.
"Hati-hati ya," seru Bi Ninik ikut mengikuti langkah Ayu yang sudah siap berangkat.
Ayu menghentikan motornya di depan ruko yang ia datangi semalam. Di tempat itu lumayan sepi, hanya ada beberapa orang yang ada disekitar.
Hari ini ada beberapa barang yang datang hingga Ayu menyiapkan uang yang pas. Taj ayal, ia juga menguras semua siaa tabungan untuk modal pertama.
Baru berapa menit masuk, ponsel yang ada di tas Ayu berdering. Ia segera merogoh nya setelah menurunkan Adiba dari gendongan ny.
Ternyata itu adalah telepon dari Angga.
Ayu menerimanya dan mengucapkan salam dengan lembut.
Begitupun dengan Angga, meskipun terdengar berat tetap saja merdu di telinga.
''Apa kabar, Sayang?'' tanya Angga menatap Ayu yang sudah cantik jelita.
''Baik, kamu sendiri bagaimana?'' tanya Ayu balik. Mendekatkan wajahnya di layar. Menatap intens pada Angga yang ternyata masih berbaring diatas tempat tidur.
''Aku tidak baik,'' jawabnya malas.
''Loh, kenapa? Bukannya ini hari pertama kamu kerja, aku juga lo.'' Ayu mencoba untuk memberikan semangat pada Angga yang tampak lesu tak bergairah.
''Karena gak ada kamu. Mana mungkin aku bisa bekerja kalau separuh jiwaku berada di tempat yang jauh." Angga membuka mata lebar-lebar saat Ayu tersenyum kecil.
''Ada ataupun tidak, sama saja jangan lebay. Lagipula nanti kita bisa bicara lewat telepon.'' Ayu mengalihkan pandangannya saat Angga terus menatap nya.
__ADS_1
''Semangat ya, Sayang. Jangan sampai lupa makan dan jaga kesehatan. Kalau kamu butuh sesuatu bilang saja pada Riska. Dia yang akan membantumu.''
Ayu mengangguk cepat dan melambaikan tangannya sebelum memutus sambungannya.