
Hampir beberapa menit Elisa dan Ayu berhadapan. Kini tidak hanya Ayu yang mengingat masa kecil itu, akan tetapi Elisa yang umurnya baru 4 tahun pun samar-samar mengingatnya, namun ia tak begitu mengenal sosok sang kakak yang dibawa ke dalam mobil.
Ayu mengulurkan tangannya lebih dulu perkenalan.
"Kenalkan namaku Ayu Lestari," ucapnya menyebut nama lengkap. Elisa menerima uluran tangan itu dan menyebut namanya.
"Elisa." Ada getaran aneh saat mereka bersentuhan, bak listrik yang menyengat membuat keduanya membeku. Ayu melepaskan genggaman tangannya dan kembali duduk. Kini ia tidak bisa fokus dengan apa yang direncanakan dengan Angga, akan tetapi ia terus mengingat-ingat masa kecilnya dan orang-orang yang sudah jahat maupun baik di sekelilingnya.
Seolah gambaran mereka melintasi otaknya yang terkadang membuat Ayu kesal.
"Kamu nggak papa, kan?" Suara Angga mengejutkan Ayu yang tenggelam dalam lamunan semu. Sebuah kenyataan yang telah terlewati, akan tetapi luka itu tetap membekas di hati bahkan sampai kapanpun tidak akan pernah terlupakan.
"Kenalkan ini dia calon istriku," dengan beraninya Angga merangkul pundak Ayu yang nampak linglung.
"Aku tahu," jawab Elisa melepas tangannya dan meletakkannya di meja.
"Dari mana?" tanya Angga sinis.
"Kemarin kan Kakak sudah cerita sama om Surya."
Jantung Ayu berdegup kencang saat ia mendengar nama yang juga tak asing.
"Om Surya?" Ayu kembali mengulang nama yang diucapkan Elisa dengan bibir bergetar.
"Iya, Kak. Jadi kemarin kak Angga cerita sama om Surya kalau dia sudah punya calon istri. Orangnya cantik, berhijab. Pokoknya ciri-cirinya memang seperti, Kakak. Aku nggak salah tebak, kan?''
Elisa tertawa kecil. Baru pertama kali ia sudah setuju kalau Angga menikah dengan Ayu, entah statusnya apa ia tak peduli. Yang penting di mata Elisa mereka sangat serasi.
"Apakah om Surya yang kamu maksud adalah suaminya tante Siwi?" tanya Ayu memastikan.
__ADS_1
"Kakak kenal dengan om Surya? Iya, dia om Surya suaminya tante Siwi." Elisa menjelaskan.
"Apa nama kamu Elisa Ningrum?" tanya Ayu lagi.
lagi-lagi Elisa mengangguk cepat, ia masih belum menangkap siapa sosok yang ada di depannya, akan tetapi dari cara menyebut nama sepertinya wanita itu bukan orang yang asing karena hanya sebagian orang yang tahu nama lengkap Elisa.
"Anaknya Om Abian dan tante Rengganis?"
Elisa mengangguk lagi. Air matanya menetes seketika membasahi pipinya saat mendengar nama kedua orang tuanya disebut.
.
"Kamu adikku.'' Ayu ikut menitihkan air mata berhamburan memeluk Elisa. Meskipun gadis itu masih nampak bingung, ia yakin bahwa Elisa adalah saudaranya yang terpisah.
Ternyata Elisa yang dimaksud Angga adalah orang yang sama, yaitu wanita yang saat ini ada di dekapannya.
"Sebenarnya Kakak siapa?" tanya Elisa tanpa melepaskan pelukannya. Ia menemukan sebuah kehangatan lagi yang dulu sering pernah ia dapat, mungkin disaat itu ia belum mengerti akan sebuah rasa kasih sayangnya besar. Akan tetapi, rasa itu tidak akan pernah hilang walaupun waktu terus berlalu.
Ayu tak sanggup berkata-kata lagi. Seandainya jawaban dari Elisa adalah tidak, maka keluarganya benar-benar tercoret dari keluarga besar.
Elisa terdiam mengingat-ingat perkataan dari om Surya maupun tante Siwi juga dari mama dan papanya dulu. Bener, mereka memang tidak pernah membahas tentang saudaranya bernama Ayu Lestari. Mereka juga tidak pernah mengatakan nama itu, bahkan dari nasab keluarga yang tetap di buku besar pun tidak ada nama Ayu Lestari. Sebab, Elisa mengenal seluruh keluarganya bahkan sampai cicit dan semuanya.
"Maafkan aku, Kak. Aku akan menjawab jujur."
"Iya, aku mau kamu yang jujur." suasana jadi nampak mengharukan. Bu Winda yang ada di luar ruang makan hanya menatap mereka tanpa ekspresi, sedangkan Angga mencerna setiap kata-kata yang meluncur dari bibir Elisa maupun Ayu.
"Nama Kakak memang tidak ada di buku besar. Memangnya siapa nama orang tua, Kakak?"
"Inayah dan papa bernama Haidar."
__ADS_1
Elisa mengingat-ingat lagi, siapa tahu lupa. Ia akan bertanya lagi bahwa nama itu ada.
"Nggak ada, Kak. Aku nggak lihat nama itu.''
Ya Allah, begitu bencinya mereka pada orang tuaku sampai namanya saja tidak tercatat dalam keturunan dari keluarga papa.
Hati Ayu merasa tersayat sakit. Bahkan, ia sendiri tidak mampu menelan semua kekecewaan yang amat besar. Ia pikir meskipun dirinya tidak tercatat, orang tuanya masuk dalam keluarga, akan tetapi kenyataan itu bahkan jauh lebih pahit daripada empedu.
"Bagaimana dengan keadaan keluarga di sana? Apa Papa dan mama mu sehat?" tanya Ayu yang melupakan Angga sejenak.
"Mama dan Papa sudah meninggal. Aku tinggal bersama om Surya dan tante Siwi. Selain mereka, semua tinggal di luar negeri. Ada beberapa kerabat jauh yang tinggal di rumah eyang. Aku nggak tahu banyak tentang keluarga. Aku cuma lihat mereka saat pertemuan saja. Sekarang kakak tinggal di mana? Aku dengar dari Kak Angga Kakak punya anak 3?"
Ayu Mencoba tersenyum, tapi hatinya masih terasa sakit dengan kenyataan yang menimpa. Dia harus tetap berbagi kebahagiaan pada orang lain termasuk adiknya.
"Rumahku tak jauh dari sini kok. Kalau kamu mau, mampir aja.'' Elisa mengusap pipi Ayu yang penuh dengan air mata lalu memeluknya lagi.
"Sebenarnya mereka belum kenal sepenuhnya, tapi Elisa yakin bahwa wanita itu benar-benar kakaknya.
"Apa Kakak tidak ingin bertemu dengan om Surya?"
Ayu menggeleng, namun itu bukan isi hatinya. Sebenarnya ia ingin sekali memeluk, akan tetapi keberaniannya sangat kecil. Takut ditolak seperti waktu itu.
Bu Winda mendekat, ia tak tahu harus bicara apa dengan Ayu. Sedikit banyak Ia tahu tentang masalah yang menimpa keluarga besar Elisa, akan tetapi tidak terlalu mendalami karena mereka keluarga yang sedikit jauh.
"Ternyata Elisa yang kamu sebut adalah adikku juga Mas, sekarang aku punya keluarga Meskipun jauh setidaknya ada orang yang terdekat denganku.
Angga ikut tersenyum bahagia. Ternyata kehadiran Elisa adalah salah satu kunci kebahagiaan dari Ayu, bahkan raut wajah wanita itu sangat berbeda dari sebelumnya.
"Sekarang kamu bisa bebas bertemu dengan Elisa, tapi ingat jangan lupakan aku karena aku yang tetap dengan nomor satu." Ayu hanya bisa mengangguk dengan permintaan Angga.
__ADS_1
Sampai kapanpun kamu yang terbaik. Bukan hanya untukku tapi juga untuk anak-anak. Sehat selalu, Mas Angga ku tersayang.
Tekad Ayu semakin bulat dan akan memperjuangkan cintanya, walaupun kemungkinan kecil diterima, namun ia akan tetap berusaha.