Janda Tangguh

Janda Tangguh
Mengenang masa lalu


__ADS_3

Berat hati Ikram memakai seragam pemberian Angga. Menatap bayangannya dari pantulan cermin di kamar. Tidak ada yang salah dengan dirinya. Luka kecelakaan kala itu pun sudah sepenuhnya sembuh. Wajahnya tetap tampan meskipun umurnya sudah menginjak kepala empat. Namun, siapa sangka di balik itu hatinya remuk berkeping-keping. 


Harapannya ingin kembali dengan Ayu pupus sudah. Tidak ada lagi jalan untuk bersatu. Sebentar lagi ia hanya akan menyaksikan mantan istrinya itu bahagia bersanding dengan pria lain. 


Tangannya mengulur membuka laci. Mengambil foto pernikahan enam belas tahun lalu. Jemari nya mengusap wajah cantik yang dipenuhi senyum manis. 


Lugu, dan apa adanya. Gadis yang sempat memenuhi ruang hatinya kini hanya tinggal kenangan yang tak akan terlupakan sepanjang masa.


''Mungkin kebahagiaan yang kuberikan tak sebanding dengan rasa sakit yang kamu terima. Tapi aku bersyukur kamu mendapatkan laki-laki yang baik seperti pak Angga. Aku akan melepasmu dengan ikhlas seperti kau melepasku. Setidaknya aku beruntung pernah menjadi bagian dalam hidupmu.''


Mata Ikram berkaca-kaca. Ia tak sanggup membendung kesedihan yang kian mendalam jika teringat masa lalunya. Hatinya bak diremas-remas hingga ke ulu.


Tidak ada kata andai-andai karena sampai kapanpun tidak akan bisa terwujud. 


''Semoga kamu bahagia, Ayu Lestari  ibu dari anak-anakku.'' 


Ikram tersedu-sedu. Buliran bening mengalir deras membasahi pipi kokohnya. Sampai kapanpun akan selalu teringat dengan masa sepuluh tahun yang telah terlewati bersama. 


Harini masuk dan berdiri di samping sang adik. Mengusap kedua pipi pria itu. 


''Mbak tahu perasaan kamu, tapi inilah hidup. Penyesalan memang selalu datang di belakang. Tapi ingat, Allah pasti akan memberikan kebahagiaan dari arah lain. Jangan khawatir, sekarang Ayu sudah jatuh ditangan orang yang tepat. Anak-anakmu tidak akan terlantar. Mereka akan mendapat kasih sayang berlimpah dan kehidupan lebih baik.'' Mengelus kedua lengan Ikram yang masih terhanyut dalam tangis. 


Ikram mengangguk. Menguatkan hatinya dan mencoba untuk tersenyum saat melihat Ayu dan Angga nanti. 


''Semua orang memiliki jalan hidup masing-masing. Jadi tenang saja. Mbak yakin kamu juga akan mendapatkan istri yang baik dan mencintaimu apa adanya. Bukan karena hartamu semata.'' Memeluk sang adik dengan erat. 


Mencurahkan kasih sayang nya sebagai kakak sekaligus orang tua. 


Sekarang aku mengerti kenapa di dunia ada karma. Karena kejahatan memang pantas dibalas kejahatan, dan itulah yang aku rasakan saat ini. Semoga kamu dan Angga bahagia. 


Ikram melepas pelukannya. Menyimpan foto pengantin nya bersama Ayu dan meminta asisten rumah tangga membersihkan semua barang-barang yang masih bersangkutan dengan sang mantan. Mengambil kotak kado di atas nakas lalu keluar.


Berbagai karangan bunga berjejer rapi menghiasi rute jalan hingga beberapa meter. Serba-serbi mobil sudah memadati lokasi pesta. Beberapa penjaga pun dikerahkan untuk mengamankan acara. 


''Kayaknya kita parkir di sini saja deh.'' Harini membuka kaca mobil. Melihat keadaan luar yang sangat ramai.  

__ADS_1


''Tapi masih jauh, Ma. Panas pula.'' Joseph tak setuju dan tetap mengantri untuk mencari tempat parkir yang lebih dekat. 


Ikram tersenyum melihat kakak dan kakak iparnya itu berdebat. Hal sekecil apapun mereka pasti akan berbeda pendapat, namun justru dari itulah Joseph selalu rindu pada sosok Harini, katanya. 


''Kamu ini laki-laki tapi kayak perempuan saja, takut panas," cetus Harini dengan ketus. 


Joseph berdecak kesal. Menggeser tubuhnya. Mensejajarkan tangannya yang putih mulus itu dengan tangan sang istri yang nampak lebih gelap. 


''Kulitku bening. Sayang kan kalau kena panas, nanti hitam.''


Ikram menutup mulutnya menahan tawa setiap kali mendengar Harini di sindir oleh suaminya. Sedangkan anak mereka, hanya diam karena sudah terbiasa mendengar celoteh kedua orang tuanya.


''Sudah, kita ke sini mau datang ke pesta, bukan berdebat.'' Harini membuka pintu mobil lalu turun. Tak menghiraukan Joseph yang kekeh. Ikram pun mengikuti sang kakak  berjalan demi bisa secepatnya masuk ke dalam gedung. 


Tanpa sengaja, tangan Ikram menyenggol wanita tua yang juga berjalan. 


''Ma--maaf, Bu. Saya tidak sengaja.'' Ikram menangkup kedua tangannya. 


Namun, wanita tua itu justru meraih tangan Ikram dan menggenggamnya. 


''Tolong bantu Ibu untuk mencari Melati,'' pintanya dengan suara khas tua.


Harini ikut berhenti dan mendekati wanita tua yang masih kelihatan anggun tersebut. 


''Iya, tadi katanya mau parkir mobil. Tapi kok lama gak balik-balik,'' jawabnya dengan penuh ketakutan.  


''Bagaimana ini, Mbak?'' tanya Ikram bingung. 


''Kita ajak masuk saja, nanti biar pelayan yang mencari keluarganya,'' saran Harini menggandeng wanita itu. 


Terpaksa Ikram harus menjaga wanita itu di tempat ysng sedikit sepi, sedangkan Harini langsung bertemu dengan petugas keamanan. 


Mata Ikram tak teralihkan dari orang yang sudah renta itu. Seolah mengingatkan pada ibunya dulu. 


''Ibu tenang saja, pasti bentar lagi anak Ibu ketemu,'' ucap Ikram menenangkan. 

__ADS_1


Wanita itu mengelus-elus perutnya kemudian menggeser duduknya lebih mendekat lagi. 


''Ibu lapar, apa kamu bisa mengambilkan makanan?'' 


Ikram semakin kasihan. Ia memanggil Harini melalui sambungan telepon dan memintanya untuk mengambil makanan seperti permintaan wanita itu. 


''Memangnya Ibu ke sini sejak kapan?'' tanya Ikram dengan lembut. 


''Baru tadi pagi, tapi sudah dua hari ibu gak makan,'' ungkapnya.


Terdengar miris. Akan tetapi, Ikram tak sepenuhnya percaya saat melihat beberapa perhiasan melingkar di jari manis wanita tersebut.  


Kenapa anak nya tega tidak memberi makan dia. Jangan-jangan ibu ini memang sengaja dibuang?


Entahlah, Ikram hanya bisa menunggu kepastian nanti. 


Tak berselang lama seorang wanita cantik datang dengan wajah panik nya. 


Tanpa aba-aba wanita itu memeluk wanita yang ditemukan Ikram dan mengucapkan maaf. 


''Tadi aku nyariin Ibu di luar, tapi gak ada. Aku pikir Ibu pergi dari sini.'' Wanita itu melepas pelukannya. 


Wanita tua itu tersenyum sambil menepuk jidatnya. Kemudian tertawa kecil. 


''Gak papa, Ibu juga salah gak nungguin kamu,'' ungkapnya. 


Harini datang membawa makanan permintaan Ikram dan meletakkannya di atas meja. 


''Terima kasih, Mas. Mbak.'' Menatap Ikram dan Harini bergantian. ''Maaf ibu saya merepotkan kalian. Nama saya Melati,'' ucapnya merasa bersalah. 


''Gak papa. Kami senang bisa membantu kamu,'' ucap Harini. 


Ikram menatap sinis ke arah Melati. ''Tadi ibumu bilang lapar. Katanya gak makan dua hari. Apa itu benar?'' ucapnya ketus. 


Melati tersenyum manis. ''Ibu saya memang seperti itu, Mas. Dia pikun, sebelum ke sini dia sudah makan kok. Kalau bukan karena tante Winda aku juga gak akan mengajaknya. Dia sering kebingungan saat berada di tempat ramai seperti ini,'' terang Melati dengan lugas. 

__ADS_1


''Baiklah, kalau begitu kami permisi.'' Harini beranjak dari duduk nya. Diikuti Ikram dari belakang.


''Sekali lagi terima kasih, Mbak,'' ucap Melati mengulang. 


__ADS_2