
Beberapa menit kemudian, Wendi kembali dan pura-pura menepuk-nepuk kantong celananya. Celingukan. Seolah mencari sesuatu yang hilang. Masuk lagi dan memeriksa tempat duduknya tadi.
''Anda mencari apa, Pak?'' tanya penjual kopi ramah.
''Tadi saya meletakkan hp di sini dan saya lupa membawanya, tapi kenapa sekarang gak ada ya?'' tanya Wendi serius.
''Wah, maaf saya gak tahu, pas ngambil cangkir kosong bekas kopi Bapak sudah gak ada hp di situ. Apa mungkin jatuh di jalan?'' Penjual itu ikut cemas dan bingung, hingga mengangkat barang dagangan untuk membantu mencari.
Seisi warung pun ikut heboh. Kecuali satu orang yang nampak menikmati kopi hitamnya. Seolah tidak terjadi sesuatu padahal semua orang ikut panik.
''Apa Mas melihat hp saya?'' Akhirnya Wendi bertanya.
''Tidak,'' jawabnya singkat padat dan jelas.
''Baiklah, mungkin itu bukan rejeki saya.'' Wendi kembali keluar dan masuk ke mobil. Ia mencoba menghubungi nomor hp nya yang kini entah ke mana.
Beberapa orang menatap pengunjung yang berada dipojok.
''Mas, hp kamu berdering, angkat dong berisik,'' ucap salah satu pengunjung yang merasa risih.
Seketika pria yang duduk menyendiri itu merogoh ponsel dari saku celananya dan melihat nama yang berkelip.
Ini ni gara-gara gak sekolah, aku gak bisa baca. Kira-kira ini nama siapa ya?
Pria itu menggaruk kepalanya yang memang gatal karena kutu. Membayar minumannya dengan uang pecahan dua ribu lalu keluar. Tak peduli teriakan sang penjual yang penting ia sudah mendapatkan barang berharga.
''Sial. Aku gak bisa pakai, mungkin Joni bisa.'' Memasukkannya lagi lalu berjalan. Berlari kecil ke arah markas yang sering ditempati untuk menghabiskan waktunya.
Wendi turun dari mobil dan diam-diam mengikuti langkah pria itu setelah menelepon polisi. Ia tak mau mengambil resiko dan akan mengambil jalur cepat, karena banyak orang yang sudah siap menjadi saksi nantinya saat di kantor polisi.
''Gelap lagi.'' Wendi memasuki sebuah gang sempit, tidak ada lampu yang menyala. Sepertinya penghuni di tempat itu memang sudah pada tidur, sepi. Hanya suara serangga malam yang terdengar membuat bising telinga.
''Aku harus hati-hati, mungkin tadi dia sudah curiga padaku.''
Wendi menghentikan langkahnya. Tiba-tiba bulunya berdiri saat tertiup angin dari arah berlawanan. Ia membuka ponselnya lagi memastikan bahwa polisi sudah hampir tiba.
__ADS_1
Melanjutkan langkahnya mendekati lampu di sebuah rumah kosong yang terbuka. Mengintip di balik dinding memastikan bahwa di sana benar-benar orang, bukan kuntilanak atau dedemit lainnya.
Terdengar gelak tawa yang renyah dari sana membuat Wendi semakin yakin bahwa orang-orang itu adalah pencopet yang dimaksud warga.
''Kamu ini bodoh banget, maka nya sekolah biar bisa baca,'' ejek seorang lelaki berbadan tinggi dan kurus.
''Sudah terlambat. Aku gak bisa baca tapi happy kok, setiap hari bisa makan enak dari hasil copetan,'' ujar lelaki yang memegang ponsel bagus dan mahal di tangannya. Yaitu ponsel milik Wendi yang sengaja ditinggal di warung.
''Kapan lo sadar, Met. Sepertinya kita harus bertaubat sebelum ajal menjemput,'' kata pria berjambang yang berdiri memunggungi Wendi.
''Aku gak mau. Lagipula kalau kita taubat, hanya akan bekerja menjadi kuli dengan bayaran yang tak seberapa,'' tolak pria yang dipanggil, Met.
''Lebih baik kalian bertaubat, atau aku akan menyerahkan kalian ke polisi,'' sahut Wendi mengejutkan semua orang.
Mereka saling tatap dan lalu menatap Wendi dengan tersenyum licik.
''Siapa kamu berani memerintah kami.'' Menunjuk dadanya seolah tak ada yang mengalahkannya.
''Saya bukan siapa-siapa, tapi saya berhak menyadarkan kalian. Itu hp saya, kembalikan atau kamu akan mendekam di penjara.'' Bernada mengancam.
''Kamu mau ini?'' ucapnya menantang.
Wendi mengangguk ramah.
''Kalau mau ini silahkan ambil,'' goda nya lagi.
Sungguh, ini bukan pekerjaan Wendi harus basa-basi dengan orang yang bukan kalangan nya. Ia merasa jenuh dengan tugas dari Angga yang diluar nalarnya.
Aku bukan bodyguard tapi kenapa diberi tugas seperti ini?
Sedikit ada rasa takut yang hinggap melihat musuh berjalan ke arahnya. Nyalinya ciut untuk bermain kekerasan, keringat dingin yang bercucuran menjadi bukti rasa takutnya yang kian membuncah.
Namun, ia akan berdiri tegak jika itu menyangkut tentang dokumen atau laptop dan pekerjaan yang menguras otak.
''Ini hp kamu, kan? Ambil,'' tantang Memet yang berdiri tak jauh dari Wendi.
__ADS_1
Aku harus berani melawannya. Dia bahkan orang bodoh yang tidak bisa membaca. Masa iya aku kalah.
Wendi pun melangkah maju. Mengulurkan tangannya ke arah ponsel yang ada di tangan Memet. Mata keduanya saling tatap dan penuh dengan makna.
Namun, saat tangannya hampir menyentuh benda pipih itu, Memet segera mengantonginya lagi. Menjengkelkan.
''Saya penguasa di tempat ini, jadi kamu jangan macam-macam.'' Memet menunjuk wajah Wendi yang sudah pucat pasi. Sedikit beruntung lampunya remang, itu artinya mereka melihat Wendi yang sedikit samar.
Polisi ke mana sih? Bukannya tadi dia sudah dekat di kawasan ini?
Setelah memutar otaknya yang terlalu cerdas, Wendi memiliki cara untuk menaklukan Memet. Untung dia tadi sempat mendengarkan cerita mereka di dalam.
''Aku punya banyak uang, kalau kamu bisa menjawab pertanyaanku maka semua uangku akan menjadi milikmu,'' ucap Wendi mengeluarkan dompetnya yang sangat tebal.
Kedua mata Memet terpana melihat dompet yang ada di tangan Wendi. Seolah ia menemukan harta karun.
''Apa itu?'' tanya Memet serius.
''Kalau ada huruf m disambung dengan e disambung lagi dengan m kemudian e lagi dan di tambah t itu bacanya apa?'' tanya Wendi melipat kedua tangannya.
Beberapa orang yang ada di belakang Memet tertawa kecil melihat kebingungan sang sahabat.
Suasana yang tadinya mencekam kini berubah dengan tawa layaknya menonton komedi.
Memet menoleh ke arah temannya-temannya yang nampak komat-kamit. Mereka seolah memberitahu namun tak dipahami.
''Kamu berani menipuku?'' pekik Memet setelah tak tahu jawabannya.
Wendi tersenyum, ia yang tadinya akan menjebloskan mereka ke penjara mengurungkan niatnya. Miris dengan kondisi mereka tak yang mengerti baca tulis.
''Aku tidak pernah menipu orang. Aku hanya kasihan dengan kalian yang tidak bisa membaca. Sekarang, berikan hp itu dan kalian akan selamat atau kalian akan __"
"Tempat ini sudah di kepung,'' ucap suara berat dari arah belakang, depan, dan samping. Suara tembakan pun mengiringi membuat Memet dan kawan-kawannya terkejut. Ia tak bisa berkutik saat melihat beberapa polisi yang menodongkan pistol ke arahnya.
Wendi tersenyum penuh kemenangan, namun ada hal lain yang membuatnya terenyuh, yaitu tentang mereka yang tak berilmu.
__ADS_1