
"Seharusnya kamu intropeksi diri, Mas. Istri bukan barang yang bisa kamu tukar atau dibuang setelah mendapatkan yang lebih baik. Atau kamu akan meninggalkannya jika dia mempunyai kesalahan. Seperti yang dilakukan Rani saat ini. Tapi dia adalah manusia yang harus kamu bimbing. Jika memang dia melakukan kesalahan, itu bukan berarti kamu langsung menceraikannya, tapi cari tahu dulu kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu. Aku tidak sepenuhnya menyalahkan Rani, karena manusia tempatnya salah dan khilaf."
Ayu menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam.
Terdengar menohok namun itu adalah wejangan bagi Ikram yang sering berpikir pendek dan mengambil keputusan secara sepihak.
"Apa kamu yakin setelah bercerai dari Rani akan mendapatkan istri yang lebih baik?" imbuhnya.
Ikram mendongak. Menatap Ayu yang nampak serius. Tidak ada bedanya wanita itu dulu dan sekarang, tetap cantik meskipun memiliki tiga anak. Semakin tegas dalam tutur sapanya. Tidak mudah goyah walau badai menerpa.
"Belum tentu. Karena kebaikan seseorang tidak akan terlihat jika tertutup dengan keburukan. Aku hanya mau memberi saran, tolong pikirkan sekali lagi. Pernikahan itu bukan sekedar janji yang diucapkan melalui mulut, namun juga hati. Kamu berani berjanji tapi kenapa dengan mudahnya kamu ingkari. Setidaknya beri waktu pada Rani untuk mengubah hidupnya. Berikan tempat ternyaman supaya dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh," tutur Ayu panjang lebar.
"Jangan seperti ku, karena kesibukan merawat anak-anak aku lupa ada kamu yang butuh aku. Dan disaat kamu memutuskan memilih Rani, disitulah aku berpikir bahwa semua yang kita anggap baik belum tentu sama dengan pasangan kita. Aku pun tidak menyalahkan Rani sepenuhnya, tapi semua itu salahku yang tidak bisa menjagamu dengan baik." Mata Ayu mulai berkaca-kaca.
Mengupas tuntas apa yang selama ini menjadi penyebab perceraian. Meskipun bukan sepenuhnya seperti itu tetap saja ia yang bersalah.
Ikram menggeleng cepat. Tangannya terangkat menghentikan ucapan Ayu.
"Maafkan aku, Yu. Semua Ini bukan salahmu, tapi salahku. Aku yang tidak bersyukur mempunyai istri sepertimu. Aku yang egois dan lebih mementingkan orang lain daripada keluarga kita. Sekarang aku tahu siapa yang seharusnya aku pertahankan dan aku lepas. Tapi semua itu tidak ada gunanya lagi," papar Ikram merasa bersalah.
Mengusap wajahnya dengan kasar mengingat ucapan Ayu yang ada memang sebuah fakta.
"Sekarang pulanglah! Pikirkan sekali lagi. Jangan sampai kamu salah memilih, karena kebahagiaan itu tidak diukur dari kecantikan atau kebaikan seseorang, akan tetapi bagaimana kita menerima dan mensyukurinya."
Ayu berdiri lebih dulu dan meletakkan tasnya di jok belakang.
"Kamu mau ke mana?" tanya Ikram yang menyusulnya dari belakang.
"Aku mau pindah. Mulai hari ini aku dan anak-anak akan tinggal di ruko. Kalau kamu ingin melihat mereka datang saja. Kalau gak, juga gak papa. Anak-anak tetap makan dan sekolah tanpa bantuanmu," cecar Ayu ketus.
__ADS_1
Ada-ada saja, kawin cerai kawin cerai seperti sapi, gerutu Ayu dalam hati.
Ikram mendekati Ayu." Yu, apa kamu mau menganggapku sebagai abang."
Ayu menoleh ke arah Ikram yang berdiri di samping motornya. Menatap nya dari atas hingga bawah. Tidak ada yang berubah, tetap Ikram yang tampan dengan style yang mempesona. Namun, ucapannya lembut dan tidak seperti pada umumnya.
"Maksud nya?" tanya Ayu memastikan.
"Maksudku kita berhubungan baik seperti adik dan kakak," terang Ikram.
Ayu mendadak gugup. Bukan karena sebuah pengakuan yang mengejutkan namun karena status itu. Sebab, saat ini ia harus memikirkan Angga yang mungkin akan cemburu melihat kedekatannya dengan Ikram.
Ayu menghela napas panjang lalu berkacak pinggang.
"Aku pikirkan lagi nanti," jawab Ayu bergegas memakai helm nya. Mengucapkan salam lalu menjalankan motornya.
Ikram tersenyum kecil. Disaat keadaan hatinya kalut justru kemarahan Ayu yang membuat nya lebih tenang.
Seperti janjinya pada Angga, Ayu akan sering berkunjung ke rumah untuk menjenguk wanita itu dan akan memastikan keadaannya.
"Peluk nenek ya!" bisik Ayu di telinga Alifa saat mereka turun dari motor.
Menanamkan kebiasaan baik pada anak-anak untuk lebih dekat dengan keluarga Angga, terutama pada Bu Winda.
Ayu mengambil makanannya dari jok, sedangkan Alifa masuk lebih dulu.
"Nenek," teriak Alifa berlari menghampiri Bu Winda yang duduk santai di ruang tengah.
Bu Winda tersenyum merentangkan kedua tangannya. Siap menyambut kedatangan bocah itu. Tidak ada kebahagiaan yang tersisipkan selain melihat kedatangan Ayu dan anak-anaknya.
__ADS_1
"Cucu nenek sudah pulang?" tanya nya mencium kening Alifa dengan lembut.
Alifa mengangguk tanpa suara, menatap Ayu yang baru membuka pintu.
"Assalamualaikum, Tante. Apa kabar?" tanya Ayu menghampiri Bu Winda dan meletakkan makanannya di atas meja. Memeluk wanita itu seperti yang dilakukan Alifa.
"Baik, Yu. Cuma hari ini belum makan, kepikiran sama Angga." Wajah bu Winda sedikit redup jika mengingat tentang putra semata wayangnya yang kini jauh di mata.
"Tante kan bisa menelpon dia. Kalau gak mau, biar aku yang ngomong sama mas Angga untuk menghubungi, Tante." Ayu mengambil makanannya dan membawanya ke belakang. Menyiapkannya di meja makan dengan bantuan bibi.
Kemudian memanggil bu Winda dan mengajaknya makan.
"Aku pasti akan ke sini setiap hari. Tapi waktunya gak menentu, tergantung kesibukannya."
Bu Winda bernapas lega, setidaknya ada Ayu yang kini menjadi penghibur disaat kesepian. Sebab, Elisa dan om Surya pun jarang ke rumah karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
''Apa gak sebaiknya kamu tidur di sini?'' tawar Bu Winda untuk yang kesekian kali
Ayu menggeleng. Menarik kursi lalu duduk. Menatap bu Winda dengan lekat.
''Kapan-kapan aku akan menginap disini. Tapi gak janji juga, Tante. Di toko sudah mulai ada pelanggan, dan sekarang aku tinggal di sana. Malam, aku juga ada kerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan."
Bu Winda manggut-manggut mengerti. Tidak ingin memaksakan Ayu untuk memenuhi permintaannya.
''Lalu apa rencana kamu setelah Angga pulang nanti?'' tanya Bu Winda di sela-sela makannya.
Ayu tersipu malu. Apabila ia mengatakan rencana yang disusun, maka menikah adalah jawabannya. Namun, Ayu tak ingin terlalu buru-buru dan mengikuti alur yang berjalan. Tidak ingin berharap penuh takut kecewa jika Allah tak meridhoi.
''Aku pasrah sama Allah. Tante berdia saja yang terbaik.''
__ADS_1
Ayu melanjutkan makannya, tak ingin membahas perihal yang belum terjadi di kemudian hari dan akan fokus dengan usahanya saat ini.