
Angga membuka pintu rumahnya tanpa mengetuk. Mengucapkan salam berkali-kali. Meletakkan tas Hanan dan Alifa di kursi. Matanya menyusuri ruangan yang tampak sepi.
"Mama," teriak Hanan sembari melepas bajunya. Alifa berjalan ke ruang makan mengambil air minum.
Tiba-tiba suara gemericik Air dari kamar mandi terdengar pertanda Ayu di dalam sana.
Tanpa sengaja Angga melihat Adiba meringkuk di atas ranjang. Ia membuka pintu kamar dan memastikan bahwa sang buah hati baik-baik saja.
"Mama di kamar mandi, Nak."
"Biasanya Alifa gantinya di mana?" tanya Angga pada Hanan yang nampak memasukkan uang ke dalam celengan.
"Ada di kamar mama, Pa. Di lemari kecil," jawabnya
Angga mengangguk. Mengumpulkan baju kotor anak-anak dan meletakkannya di keranjang belakang tepatnya di samping tempat cucian. Kemudian tanpa izin ia masuk ke kamar Ayu mencari baju untuk Alifa.
Angga menoleh ke arah meja kecil yang ada di samping ranjang. Ada beberapa obat di sana membuatnya penasaran.
"Obat siapa ini? Siapa yang sakit?" Angga mengambil botol obat paracetamol lalu meletakkannya lagi.
''Apa mungkin Ayu sakit kepala? Kenapa gak periksa saja.'' Keluar dari kamar lalu mengganti baju Alifa.
Tak lama kemudian terdengar pintu terbuka Ayu. Angga bergegas ke belakang menghampiri Ayu yang nampak pucat.
"Kmu sakit?" tanya Angga menyelidik.
Ayu tersenyum paksa. Satu tangannya memegang kepalanya yang tertutup hijab.
"Cuma pusing,'' jawabnya enteng berjalan tertatih-tatih.
Tanpa aba-aba Angga mengangkat tubuh Ayu dan membawanya ke kamar. Membaringkannya dengan pelan layaknya pengantin baru.
Jangankan untuk teriak, untuk protes saja Ayu tak mampu. Sekujur tubuhnya benar-benar lemas dan sakit.
Hanan dan Alifa ikut naik ke atas ranjang. Mereka memeluk sang mama dari samping. Sedangkan Angga menelpon dokter untuk datang.
"Lain kali kamu gak boleh seperti itu, mas." Ayu mencoba untuk marah, namun tenaganya yang terkuras habis tak mampu membuat Angga takut.
''Kalau kamu gak mau kusentuh sekarang, kita nikah saja. Dan aku akan bebas merawatmu, menyentuh dan memegang pipimu. Menyisir rambutmu, bahkan membuka bajumu.'' Angga menghitung dengan jarinya apa saja yang boleh dilakukan jika mereka menjadi pasangan suami istri.
Disaat sakit Ayu masih bisa tertawa dengan ucapan absurd Angga. Bagaimana bisa ia tega memutuskan hubungan, sedangkan Angga sangat mengharapkan dirinya.
__ADS_1
"Aku jadi teringat dengan Om __" Ayu menghentikan ucapannya, ia tak ingin mengingat masa kecilnya yang penuh dengan duri itu. Kini baginya, semua sudah berlalu, tak perlu mengungkit mereka yang tak mau mengakuinya.
Angga keluar sambil menerima telepon dari dokter Yeni. Ia melambaikan tangannya ke arah wanita cantik yang nampak kebingungan di ujung jalan.
"Ya ampun ngapain kamu di disini, Ga? Sebenarnya siapa yang sakit?'' tanya wanita itu dari balik telepon. berjalan menghampiri Angga yang terus melambaikan tangannya.
"Calon istriku yang sakit, cepetan."
Yeni yang berdiri tak jauh dari Angga pun mematikan ponselnya. Matanya mengabsen setiap bagian rumah yang sederhana. Jauh dari kata mewah dan berbanding balik dnegan kehidupan Angga.
"Ini rumah calon istrimu?'' tanyanya dengan rasa tak percaya.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Angga balik.
Wanita itu menggeleng dan masuk.
"Jangan berpikir aneh-aneh. Cinta itu misteri dan tidak akan ada yang tahu akan berlabuh pada siapa. Dia tinggal di rumah ini karena memang tidak mau menerima fasilitas dariku,'' jelas Angga sebelum Yeni berprasangka buruk.
"Iya iya, kamu gak mungkin tega membiarkan orang yang kamu cintai itu sengsara.''
Mata Yeni menatap Hanan dan Alifa juga Adiba.
"Mereka anak-anakku, kenapa?'' ucap Angga sebelum Yeni bertanya.
"Kamu kum __"
"Nggak lah, pikiran mu jorok banget sih,'' sergah Angga menoyor jidat sang sahabat yang selalu berpikir jelek tentangnya.
''Kamu gak perlu tahu, sekarang periksa.'' Menyungutkan kepalanya ke arah Ayu yang memejamkan mata.
Yeni masuk dan menutup pintu. Tak mengizinkan Angga masuk ke dalam. Sebab, pria itu hanya akan mengganggunya dengan pertanyaan yang tak penting.
Yeni mengeluarkan stetoskop dan alat yang lain dari tas nya. Duduk di tepi ranjang. Kembali menatap Hanan dan Alifa yang memeluk wanita yang berbaring di depannya.
Masih muda tapi anaknya banyak, dia janda atau __"
Untuk yang kesekian kali Yeni berpikir negatif tentang Angga.
Ah, gak mungkin anaknya Angga, mereka gak mirip Angga kok
Yeni memeriksa tekanan darah Ayu. ''Normal.'' Menunjukkan angka yang muncul.
__ADS_1
"Mereka anakmu?'' tanya Yeni basa-basi. Ia benar-benar penasaran dengan status wanita yang saat ini menjadi pasiennya.
"Iya,'' jawab Ayu singkat.
"Maaf kalau saya lancang, apa benar mereka anakanak Angga?" tanya Yeni ragu-ragu.
Melihat dari penampilannya yang tertutup tidak yakin bahwa wanita itu adalah simpanan, namun kata-kata Angga seolah mendorongnya untuk mencari tahu.
Ayu tersenyum. "Bukan, mereka anak dari suamiku yang pertama.''
Dasar si Angga sialan bener-bener gak sembuh jiwa gila nya.
Yeni membuka pintu kamar menyuruh Angga masuk. Memberikan resep obat yang harus ditebus.
"Lain kali Mbak gak boleh kelelahan. Harus bisa mengatur waktu, saya sarankan istirahat yang cukup dan jangan terlalu dipaksakan.'' Yeni berdiri dari duduknya. Menatap Angga dan Ayu dengan tatapan intimidasi.
"Terima kasih, Dok. Maaf merepotkan,'' ucapnya menangkup kedua tangan. Berusaha untuk tidak membalas tatapan Angga yang menyeramkan.
Selama ini Ayu sering mengingatkan dia dan Bu Winda tentang menjaga kesehatan dan hidup sehat, namun lupa dengan diri sendiri.
Angga mengantar Yeni hingga ke depan lalu masuk ke kamar. Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.
"Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu bekerja lagi. Cukup di rumah menjaga anak-anak.'' Angga kembali mengingatkan.
"Gak bisa, Mas. Aku gak mau berpangku tangan, sedangkan anak-anak membutuhkan aku.'' Ayu bangun dan bersandar di headboard.
Angga sudah kehabisan cara membujuk Ayu. Disatu sisi dia tidak ingin wanita itu memaksakan diri untuk bekerja, sedangkan ia belum punya hak untuk melarangnya.
"Apa kamu mencintaiku, Yu?'' tanya Angga bersungguh-sungguh.
Ayu tercengang. Tidak biasanya Angga terlihat serius dan berbicara dari hati, namun saat ini ia melihat ada kesungguhan di wajah pria tersebut.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa hubungannya dengan aku sakit?'' Ayu ingin penjelasan.
"Kalau kamu memang mencintaiku tolong dengarkan aku.'' Angga sedikit bergeser maju mengikis jarak antara keduanya.
"Jangan bekerja, aku yang akan membiayai hidupmu dan anak-anak.''
Ayu mengangguk. Mungkin dengan begitu Angga tidak terus memaksanya untuk berhenti bekerja.
"Makasih ya, kamu selalu tahu apa yang aku mau.''
__ADS_1
Bunyi notif dari ponsel Angga terdengar. Itu bukan dari mama nya yang minta dijemput, melainkan dari Rani yang mengundang makan malam di rumah Ikram.