
Rasa khawatir dan cemas lenyap seketika setelah mendengar jawaban dari Ayu. Kini Angga berharap mendapatkan restu dari sang mama. Dengan begitu, ia bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius. Akan tetapi, itu tidak mudah dan masih butuh perjuangan besar untuk meruntuhkan hati bu Winda.
"Aku tahu cara meluluhkan hati mama."
Angga memakai jam tangan nya lalu keluar.
Suara tawa renyah terdengar dari arah ruang tamu membuat Angga penasaran. Ia melangkah pelan lebih mendekat lagi.
"Eh Angga," sapa bu Winda menghampiri Angga yang berdiri di samping dinding. Wanita itu tersenyum ramah. Menepuk lengan sang putra pelan.
"Nara datang ke sini, dia bawain kita makanan." Menunjuk rantang yang tersusun rapi di atas meja.
Angga memalingkan pandangannya ke arah lain. Enggan menatap wanita lain selain Ayu. Terlebih dari segi penampilan, Nara bukanlah wanita idamannya.
"Kita sarapan yuk! Mama juga mau bicara sama kamu." Mengedipkan satu matanya ke arah Nara kemudian mengajak mereka ke meja makan.
Suasana terasa canggung. Meskipun Nara mencoba untuk akrab, tidak dengan Angga. Pria itu hanya akan menjawab singkat jika ditanya, selebihnya memilih diam menikmati makanan yang susah ditelan.
"Apa hari ini kamu sibuk, Ga?" tanya Nara dan sela-sela makannya.
"Hmmmm… " jawab Angga sembari menatap layar ponselnya.
"Sayang banget. Rencananya hari ini aku mau ajak kamu datang ke pameran di salah satu butik teman aku." Nara nampak lesu dengan jawaban Angga.
Bu Winda tersenyum. "Kamu kan bisa atur jadwalnya, Ga. Kasihan Nara, dia membutuhkan support darimu," bujuk bu Winda menekankan.
Tak seindah yang dibayangkan mata dan pikiran bahwa pagi ini akan segera bertemu dengan sang pujaan hati dan anak-anaknya, justru duri kembali merintang di depan Angga. Ucapan bu Winda seolah perintah yang harus dipatuhi.
Jika bukan karena mengikuti saran dari Ayu, mungkin Angga sudah pergi dan mengabaikan permintaan mamanya. Namun, demi cinta dan kasih sayang yang overdosis ia mau melakukan apapun demi wanita itu.
"Baiklah, aku akan mengantar Nara," jawab Angga dingin.
Semoga ini awal yang baik. Doa bu Winda dalam hati.
Angga dan Nara sudah berada di mobil. Mereka masih saling diam dan menelisik dengan pemikirannya masing-masing.
"Kata tante Winda hari Kamis lusa kamu ulang tahun?" tanya Nara memecahkan keheningan.
Angga menghela nafas panjang, "Iya." Memelankan laju mobilnya saat melihat lampu merah menyala.
"Acaranya jam berapa?" tanya Nara sok akrab.
"Kayaknya tahun ini aku gak mau buat acara besar-besaran. Cukup merayakannya dengan keluarga kecilku," ungkapnya lagi.
"Keluarga kecil, maksud kamu?"
__ADS_1
Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakan pada Nara bahwa aku sudah mempunyai calon istri.
"Keluarga kecilku. Dia calon istri dan anak-anakku. Aku akan merayakannya dengan mereka," terangnya.
Nara tak terkejut karena sebelumnya bu Winda sudah menceritakan tentang wanita yang disebut Nara.
"Tapi kata tante Winda, akan ada pesta di rumah," bantah Nara seperti ucapan bu Winda.
"Terserah, yang penting aku akan tetap merayakannya dengan calon istri dan anak-anakku.
Nara semakin kesal. Seolah Angga terus memuji niat itu dari pada dirinya.
Secantik apa sih dia sampai membuat Angga kepincut. Akan kubuktikan bahwa aku lebih dari pada perempuan itu.
Mobil memasuki kawasan butik seperti yang ditunjuk Nara. Bertepatan dengan itu ponsel Angga berdering, nama berkelip mampu mengembangkan senyum di sudut bibirnya.
"Ada apa, Sayang?" ucapnya lantang, memamerkan kemesraannya di depan Nara.
Jangan ditanya, saat ini wajah Ayu pun bak kepiting rebus.
''Maaf ganggu, aku cuma mau nanya motor kemarin yang dibawa sopir kamu," ucap Ayu gelisah.
Sebab, tak hanya pekerjaan namun ia juga belum mengantarkan Alifa ke sekolah, sedangkan Hanan pun masih di rumah karena ban sepedanya bocor.
Angga menepuk jidatnya. Ia lupa mengatakan pada sopir untuk mengembalikan motornya di rumah Ayu.
Ia menutup sambungannya lalu meminta Nara untuk turun.
"Katanya kamu mau menemaniku?" protes Nara sembari membuka seatbelt.
"Tapi aku ada urusan mendadak, dan ini gak bisa diganggu gugat. Cepat turun atau aku akan memaksa mu," bentak Angga semakin panik. Takut anak-anaknya terlambat sekolah.
Nara berdecak kesal. Terpaksa ia turun daripada harus menerima kemarahan dari Angga.
Ayu kembali melihat jam yang melingkar di dinding ruang tamu. Lalu menoleh ke arah ujung jalan. Berharap Angga segera datang menjemputnya.
"Gimana kalau aku terlambat, Ma?" Hanan merengek takut.
Ayu merangkul pundak kecil sang putra dan menenangkan nya.
"Gak sayang, nanti mama akan membantumu menjelaskan pada ibu guru."
Hanan meneteskan air mata teringat peraturan yang tertera di sekolahan.
"Tapi katanya kalau terlambat akan dihukum, Ma," ucap Hanan tersendat menahan tangis.
__ADS_1
Ya Allah mas Angga, kamu ke mana sih?
Tak lama kemudian suara klakson mobil terdengar di ujung jalan. Ayu dan anak-anak bergegas menghampirinya.
Hanan berlari mendahului mamanya dan Alifa. Namun, langkah bocah itu berhenti melihat gerangan yang turun dari mobil.
Papa, seru nya dalam hati.
Ya, Ternyata itu adalah mobil Ikram, bukan Angga.
Ikram tersenyum melihat ketiga anaknya berada di dekatnya. Meskipun tak bisa menyentuh setidaknya melihat mereka baik-baik saja.
"Mas Ikram," sapa Ayu terkejut. Ia menarik tangan mungil Alifa mundur. Sementara Hanan pun ikut mundur.
"Kalian mau sekolah? Sini biar papa antar." Ikram membuka pintu mobil bagian depan.
Hanan bingung, disatu sisi ia ingin segera tiba di sekolah, namun di sisi lain enggan berada di dekat sang ayah yang sudah mengabaikannya.
Ayu tertunduk, ia pun tak bisa melarang mengingat keadaan yang sangat genting.
Hanan menoleh ke arah sang mama, seolah tatapan itu meminta sebuah jawaban darinya.
"Terserah Abang saja, Mama ikut," jawab Ayu pasrah.
Sebagai seorang ibu, ia pun tak mengingkari jika anak-anak tetap darah daging Ikram. Dan tak sepatutnya menjauhkan mereka.
Hampir saja melangkah, sebuah mobil berhenti di belakang mobil Ikram membuat Ayu bernafas lega.
Akhirnya mas Angga datang juga.
Ayu tersenyum tipis, sedangkan Adiba langsung melambaikan tangannya ke arah Angga yang baru saja turun.
"Maaf Papa terlambat," ucap Angga tanpa peduli keberadaan Ikram.
Ia segera membukakan pintu bagian depan dan belakang.
Tanpa berpikir panjang Hanan dan Alifa langsung masuk ke mobil Angga.
Sedangkan Angga mendekati Ayu yang masih ada didepan mantan suaminya.
"Pagi, Pak," sapa Ikram membungkuk ramah.
"Pagi," jawab Angga singkat mengambil alih Adiba yang ada di gendongan Ayu.
"Maaf tadi papa terlambat ada urusan sedikit." Mencium kedua pipi Adiba dengan lembut. Menunjukkan kasih sayangnya pada bocah itu di depan ayah kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Ayo masuk! Nanti Hanan terlambat," ajak Angga pada Ayu yang masih mematung di tempat.
Ayu pun ikut masuk ke mobil takut Hanan terlambat.