Janda Tangguh

Janda Tangguh
Kepergok


__ADS_3

Ayu bukan anak kecil lagi. Ia sudah menjadi ibu dari tiga anak yang kini sudah besar. Merawat tanpa bantuan dari mantan suami atau orang lain. Mengerahkan tenaga mencari nafkah hanya demi mereka supaya bisa hidup dengan layak. Merasakan pahit manisnya kehidupan selama beberapa tahun seorang diri. Paham mana yang harus dilakukan dan mana yang seharusnya tidak dipikirkan. 


Seiring berjalannya waktu ia pun hanya bisa berdoa dan berusaha. Sebab, itu adalah jalan satu-satunya untuk mengurangi beban yang membelenggu. Menjadikan kesabaran itu sebagai kunci dari akhir cerita hidupnya nanti. 


''Kamu gak kerja, Mas?'' tanya Ayu pada Angga yang baru saja membuka pintu ruangan. 


''Kerja, tapi aku kangen sama kamu.'' Mencium kening Ayu dari arah belakang. Menggoda dan terus mengusik sang istri yang nampak sibuk mengetik. 


Baru dua jam mereka berpisah, Angga sudah tak tahan jika hanya melihat foto Ayu. Ia ingin menghirup dalam aroma tubuh wanita tersebut. Merasakan sensasi yang membuatnya terhanyut ke alam lain. 


''Jangan modus, Bang,'' cicit Ayu tanpa menghentikan jarinya yang asyik menari di atas keyboard. Menganggap kerinduan Angga hanya gombalan liar belaka. 


''Beneran, kalau gak percaya tanya saja pada hatiku.''


Ayu tak bisa menahan tawa. Terpaksa ia mematikan laptopnya demi menyambut kedatangan sang suami. 


''Hai hati, sebenarnya siapa yang kamu rindukan?'' Menunjuk dada Angga yang tertutup kemeja putih. 


''Kamu, Sayang,'' jawab Angga lirih. 


''Apa kamu yakin hanya merindukanku?'' tanya Ayu memastikan. 


''Iya, aku yakin, hanya kamu yang aku mencintai selama nya,'' jawab Angga masih dengan suara imutnya. 


Pintu diketuk dari luar  membuyarkan mereka. 


''Masuk!'' Ayu mendorong tubuh Angga. Pura-pura merapikan hijabnya yang memang sudah rapi. 


Walaupun suami istri tetap malu jika kemesraan nya itu disaksikan orang lain, terlebih karyawannya sendiri. Apalagi saat ini berada di tempat umum. Harus menjaga sikap meskipun atasan. 


Ternyata Ais yang datang. Wanita itu memberikan sebuah undangan pada Ayu. Ya, surat yang ditunggu dari kemarin, kini sudah tiba. Namun sayang, bukan orangnya sendiri yang mengantarnya. 


''Maaf, Bu. Kata pak Ikram gak bisa mampir karena ada urusan penting dan mendadak,'' ucap Ais menjelaskan. 


''Baiklah, terima kasih.'' Sedikit kecewa, tapi ya sudahlah, yang penting diundang oleh sang mantan. 


Ayu membuka undangan itu dan melihat nama sang calon pengantin. Melirik ke arah Angga yang duduk di sofa.


''Ikram Kusuma dan Ayu lestari.''


''Whatt???''


Seketika Angga melempar ponselnya dengan asal sembari beranjak. Menatap Ayu dengan tatapan mengintimidasi. Seolah itu adalah kabar terburuk yang pernah didengar sepanjang hidupnya. 

__ADS_1


''Beneran, mungkin salah cetak kali ya?'' ucap Ayu menahan tawa.  


Angga bergegas menghampiri Ayu dan merebut undangan itu. Memastikan jika sang istri salah menyebut nama. 


Ya, ternyata ia hanya terkena tipuan. 


"Gak ada nama Ayu Lestari di sini," ucap Angga menunjuk nama Melati Sukma. 


"Emang gak ada. Kenapa?" tanya Ayu tersenyum simpul. 


Tanpa aba-aba Angga mendaratkan sebuah ciuman lembut. Menekan tengkuk leher hingga ciuman itu terasa lebih dalam. 


''Ayu Lestari hanya milikku dan sampai kapanpun akan menjadi milikku.'' Angga mengusap bibir Ayu lalu kembali ke sofa. Melanjutkan membalas pesan dari Wendi. 


''Iya, sekarang kamu pergi sana! Aku mau lanjutin kerja,'' usir Ayu serius. Ia tak mungkin bisa fokus jika ada Angga yang terus mengganggu. 


''Janji dulu kamu gak akan melirik laki-laki lain.'' Angga memasukkan ponsel ke saku jas.  


Menatap Ayu yang mengangkat kedua jarinya. ''Aku janji, Sayang. Sekarang pergilah, aku mohon,'' pinta Ayu mengiba. 


Angga segera pergi, bukan karena memenuhi perintah Ayu namun karena ada rapat mendadak. 


Mobil Angga berhenti di bawah lampu merah. Betapa terkejutnya saat tak sengaja melihat Hanan duduk bersanding dengan gadis yang waktu itu datang ke rumah. Mereka berada di sebuah cafe yang tak jauh dari kantornya.


Angga mengambil gambar Hanan dan Chika lalu kembali melajukan mobilnya setelah lampu menyala hijau. Menghentikannya tak jauh dari tempat Hanan berada. 


Mengambil ponsel dan menghubungi laki-laki tersebut. 


''Halo, Pa,'' sapa Hanan mengawali pembicaraan. Suaranya terdengar tenang dan suara bising kendaraan tetap terdengar. 


''Kamu ada di mana kok berisik?'' tanya Angga memancing. 


Terdengar suara tawa. ''Sekolah, Pa. Memangnya kenapa?'' tanya Hanan masih dengan tawa kecilnya. 


Angga menghela napas panjang. 


''Baiklah, hati-hati! Jangan sampai kamu membohongi mama dan papa,'' jawab Angga menyindir kemudian menutup teleponnya. 


Hanan mencerna kalimat terakhir dari Angga. Meneguk jusnya yang tinggal sedikit. Matanya celingukan ke sana ke mari mengabsen pengunjung yang ada di sekelilingnya. 


Kenapa papa bicara seperti itu, jangan-jangan dia melihatku?


Jantung Hanan berdegup kencang. Menelan jusnya dengan susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-pori. 

__ADS_1


''Chik, aku harus pergi,'' pamit Hanan buru-buru. 


Chika ikut pergi mengikuti Hanan dari belakang. 


''Ada apa?'' tanya Chika memastikan. 


Hanan memanggil kendaraan yang melintas. ''Nanti aku ceritakan, sekarang  pergilah, kita tidak bisa boncengan lagi.''


Hanan membuka pintu mobil, mempersilakan Chika masuk. 


Semoga tidak ada yang tahu. 


Hanan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Berharap apa yang ditakutkan benar-benar tidak terjadi. 


Papa Angga gak mungkin bicara asal. Apa selama ini dia mengawasiku, atau membayar orang untuk memata-mataiku. 


Hanan sedikit kacau. Menghentikan motornya di dekat taman kota. 


''Aku harus bicara apa, kalau bohong akan lebih salah lagi.''


Berdecak kesal atas kesalahan yang diperbuat. 


Aku harus minta bantuan oma.


Memakai helmnya kemudian membelah jalanan menuju rumah bu Winda. Hanya wanita itu satu-satunya yang bisa menolongnya saat ini. 


Kedatangan Hanan memang tak asing lagi, namun sikapnya yang lebih manja membuat bu Winda bertanya-tanya. 


''Kamu kenapa? Dimarahin mama?'' tebak bu Winda. 


Hanan menggeleng tanpa suara. ''Gak, Oma. Aku hanya ingin main saja,'' jawabnya santai. 


Bu Winda menyuruh pelayan menyiapkan makanan untuk Hanan. Meminta mereka merapikan tempat tidur. 


''Malam ini aku boleh menginap di sini, kan Oma?'' tanya Hanan penuh harap. 


''Boleh, Oma senang kalau kamu mau menginap di sini. Tapi kamu dan mama gak ada masalah, kan?'' tanya Bu Winda menyelidik. 


Tidak biasanya Hanan menginap di rumahnya dan itu terdengar aneh. 


Hanan menggeleng lagi. Sebab, ia belum tahu apa yang terjadi nanti jika mamanya mengetahui tentang kejadian tadi. 


Apa aku minta bantuan oma saja, tapi itu pasti akan membuat mama semakin marah. 

__ADS_1


Hanan memilih langsung ke kamar. Meracik alasan untuk membela diri jika seandainya Angga benar-benar memergokinya.  


__ADS_2