
Tidak ada tempat ternyaman kecuali berada di tengah keluarga Ayu dan anak-anak. Angga merasa hidupnya sempurna layaknya pria yang lain jika berada di dekat mereka. Semua masalah yang membelenggu lenyap seketika. Angga menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya memberi kode pada Ayu untuk segera duduk. Banyak yang ingin dia bicarakan di antaranya masalah akhir-akhir ini.
"Dimana anak-anak?" tanya Angga celingukan.
''Anak-anak tidur di kamar. Mereka kecapekan,'' jawab Ayu menunjuk Hanan yang meringkuk.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, dan setelah ini kita akan fokus pada mama.''
Ayu menatap Angga yang nampak serius.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Mas?"
''Ini tentang kejadian __" Tiba-tiba bunyi ponsel berdering menghentikan Angga yang hampir menjelaskan semuanya. Ternyata itu telepon dari Rani. Angga segera mengangkatnya dan menyalakan loudspeaker.
"Halo Rani," sapa dengan suara ramah seolah-olah mereka adalah sahabat dekat.
"Halo, Mas. Kamu di mana? Kepalaku pusing," keluhnya dengan suara gemetar.
"Aku ada di rumah Ayu, apa gak ada orang di rumah?" tanya Angga balik. Melirik Ayu yang nampak cemberut. Ia yakin kalau wanita itu cemburu.
"Gak ada, Mas. Bisa nggak kamu ke sini sebentar, temani aku, mas Ikram belum pulang."
Genit banget sih, Dasar perempuan gak tau diri, sukanya sama laki-laki yang sudah menjadi milik orang. Padahal sudah punya suami sendiri, gerutu Ayu dalam hati.
Angga hanya bisa menahan tawa melihat bibir Ayu yang komat-kamit kayak mbah dukun baca mantra.
"Gimana ya? Kayaknya nggak bisa Ran. Aku harus temani Ayu, dia sendirian di rumah," balas Angga dengan asal mencari alasan supaya Rani tidak membujuknya lagi.
"Ayo lah, Mas. Sebentar saja, hari ini mas Ikram juga nggak ada di rumah aku takut sendirian.''
Angga mengepalkan kedua tangannya geram. Baru kali ini menemui wanita seperti Rani, menyebalkan.
__ADS_1
"Baiklah aku akan segera ke sana. Tunggu Aku!'' ucapnya meyakinkan.
Lalu memutus sambungannya, kemudian Angga menghubungi seseorang. Entah itu siapa, Ayu pun tidak tahu. Yang pastinya Angga terlihat serius saat berbicara.
"Sekarang juga kamu cepetan ke sana, aku akan nyusul." Angga mengakhiri pembicaraannya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, memeriksa anak-anak ke kamar. Memastikan mereka sudah terlelap lalu memanggil bi Ninik untuk menjaganya.
Angga tak lupa memberikan upah yang besar pada wanita itu untuk menjaga anak-anaknya dengan baik.
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Ayu. Angga tak menjawab, ia mengajak Ayu ke kamar kemudian menutup pintu yang membuat wanita itu takut plus panik, terlebih akhir-akhir ini Angga sering membuatnya terkejut.
"Nanti kamu akan tahu semuanya. Sekarang kamu ganti baju."
Angga mengambil paper bag yang dibeli dari kemarin kemudian meletakkan di atas ranjang. Meminta Ayu segera memakainya, sedangkan ia menunggu di luar.
"Setelah ini hanya satu halangan kita. Yaitu mama. Semoga dia cepat memberi Restu."
Ayu menatap penampilannya di depan cermin. Baju itu memang terlalu mewah di tubuhnya. Seolah-olah Angga sudah tahu apa yang ia sukai. Dari hal yang paling kecil pun Angga tak pernah melupakan atau mengabaikannya, kemudian memakai make up tipis dan juga memakai hijab yang senada serta high heels tinggi seperti keinginan pria itu. Jangan ditanyaz wajahnya saat ini bahkan melebihi gadis-gadis yang baru berumur 20 tahun. Tubuhnya yang ramping dan tingginya yang semampai bak model membuat Ayu menjadi salah satu wanita idaman setiap lelaki.
"Kok cantik banget sih? Kalau seperti ini aku malah gak mau pergi. Mendingan kita ke kamar yuk!" godanya menarik tas tangan Ayu hingga ke depan pintu kamar. Namun, Ayu segera menepisnya hingga tas itu terlepas dan jatuh.
"Apa sih Mas, nggak banget deh. Kita sudah tua, ngapain juga pakai gombal-gombalan segala.'' Angga menatap wajah Ayu yang nampak cantik jelita kemudian ia menggendongnya menuju ke depan. Tak lupa pamit pada Ninik yang duduk di depan teras sambil membaca buku.
"Semoga lain kali buku ku dicetak ya Mas, pasti aku senang banget.''
"Aamiin, dan kamu akan menjadi wanita yang sukses dan dikenal semua orang, itu kan yang kamu mau?"
Angga melajukan mobilnya menuju rumah Rani seperti permintaan wanita itu. Tak lupa ia memastikan bahwa orang yang dihubungi tadi juga datang.
"Sebenarnya ada apa sih, Mas? Apa kita mau acara makan lagi seperti kemarin di rumah Rani?"
"Tidak, ini bukan masalah makan. Nanti kamu juga akan tahu sendiri. Pokoknya diem aja, dengarkan nanti apa yang aku katakan."
__ADS_1
Ayu membisu, menerka-nerka apa yang akan dikatakan Angga. Pasalnya pria itu terlihat serius bahkan lebih serius dari biasanya.
Selang 30 menit Ayu dan Angga sudah tiba di rumah Ikram. Ada beberapa orang yang berdiri di depan gerbang, mereka memakai baju yang sama layaknya seorang Bodyguard.
"Siapa mereka, Mas? Biasanya di rumah mas Ikram nggak ada Bodyguard?"
"Dia orang suruhanku," jawab Angga.
"Suruhan?'' ulang Ayu terkejut. Sejak kapan Angga punya orang suruhan seperti mafia-mafia? Kehidupannya selama ini memang mewah, tapi Angga tidak pernah memakai jasa orang untuk melayaninya. Bahkan, pria itu kemana-mana hanya membawa mobil sendiri layaknya anak muda zaman sekarang.
"Memangnya apa yang kamu mata-matai?" tanya Ayu polos, ia tidak tahu-menahu tentang ini, terlebih ia selalu cuek dan hanya mengurus dirinya sendiri.
"Sekarang kita masuk!'' ajak Angga lalu menghampiri kedua orang yang berjaga di depan gerbang.
"Apa Ikram ada di rumah?" tanya nya.
"Tuan Ikram tidak ada di rumah, Pak."
"Oke, kalau gitu aku akan menghubungi dia." Lantas, Angga menelepon Ikram yang ternyata sudah ada di jalan menuju rumah.
Aku harap kali ini kamu akan sadar dan menjadi dirimu sendiri. Itulah kata hati Angga yang dari kemarin ingin diucapkan.
"Mas Angga!" teriak Rani dari arah teras sambil melambaikan tangannya, Angga pun membalas lambaian tangan itu diiringi dengan senyuman manis semanis madu.
"Senyum-senyum aja terus, kalau lihat yang bening aja seperti itu,'' gerutu Ayu sambil membenarkan tasnya. Alih-alih menatap ke arah lain, tidak mau wajahnya dilihat olehnya.
"Nggak boleh cemburu, Sayang. Aku milikmu, kamu milikku kita satu untuk selamanya. Tidak ada yang bisa memisahkan kita walau sebesar apapun itu rintangannya."
Terkadang Angga memang terdengar konyol dengan gombalannya, namun pria itu selalu menepati semua janjinya seperti kemarin.
Semoga kita berjodoh. Karena aku gak mau kamu terluka terlalu dalam.
__ADS_1