
Angga meninggalkan Hanan yang masih diselimuti rasa bersalah karena berbohong pada mamanya. Ia pun juga harus menenangkan Ayu. Terlebih, wanita itu sangat kacau dengan tingkah putra pertamanya. Tanpa mengetuk pintu, ia masuk dan duduk di samping sang istri. Mengusap pipinya dengan lembut. Membantu mengurai rasa kesal yang saat ini mungkin masih menyesakkan dada.
''Kamu yang sabar, mungkin Hanan hanya khilaf.'' Angga mengucap dengan hati-hati.
Seketika Ayu menoleh menatap Angga dengan tatapan tajam. Sedangkan pria itu sendiri, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sudah dipastikan akan mendapatkan semprotan sudah berani membela Hanan.
''Aku seorang ibu, Mas. Hatiku sakit jika diabaikan seperti ini. Dari kecil aku merawatnya mati-matian. Mendidiknya untuk mengenal agama dengan baik. Hanya berharap dia itu menjadi anak yang sholeh. Ya, memang tidak sepenuhnya dia harus memenuhi apa yang ku mau, tapi setidaknya dia tahu batasannya dan tidak menantangku.''
Ya, meski terdengar menekan, itulah Ayu. Ia mendidik dengan caranya sendiri tanpa mendapat protes dari orang lain. Tidak ada kata gagal dalam hidup kecuali pernikahannya. Sebab, ia memang tak sanggup jika harus di duakan. Dan memilih untuk menjanda, membuktikan bahwa wanita tak selemah yang mereka katakan.
Angga meraih pundak Ayu dan membawa ke dekapan nya. Mencium kening wanita itu dengan lembut. Sesekali membisikkan kalimat yang menyejukkan. Sebagai seorang suami sekaligus ayah ia tahu perasaan mereka yang pasti sangat berbeda. Bahkan berbanding balik.
''Aku tahu, sekarang tenangkan dirimu dulu. Yakinlah Hanan kemarin hanya khilaf.''
Rasa kesal itu kembali mencuat saat bibir tipis Angga kembali membela Hanan.
Ayu menegakkan tubuh kembali. Mengusap pipinya yang dipenuhi air mata. Melengos ke arah lain.
''Marah lagi? Susah juga meluluhkan hati mu.''
Angga mencoba untuk merayu Ayu kembali dengan kata-kata cinta. Ah, biarlah itu sedikit lebay yang penting ia bisa menarik perhatian seorang Ayu Lestari.
''Sekarang sudah gak marah, kan?'' Angga mengangkat dagu Ayu dan menatap manik matanya yang nampak sayu.
Ayu mengangguk pelan. Kembali mengusap sisa air matanya.
''Yakinkan bahwa Hanan itu anak baik, dan dia tidak akan keluar dari norma,'' ucap Angga merapikan hijab Ayu lalu memeluknya.
Hanan yang dari tadi mengintip dibalik pintu terpaksa harus ke kamar setelah pembicaraan antara papa dan mamanya itu usai.
Ia mengirim pesan pada Chika untuk bertemu di dekat sekolah sebelum mereka masuk. Memantapkan diri untuk menahan perasaan, dan akan lebih fokus pada cita-citanya. Tak ingin mengecewakan Ayu yang berjuang penuh membuatnya seperti ini.
__ADS_1
''Aku harus bisa membuat mama bangga, bukan malu.'' Janji pada dirinya sendiri.
Bersiap memakai seragam sekolah lalu turun ke ruang makan.
Hening
Tidak ada yang bersuara, hanya terdengar dentuman sendok dan piring saling bersahutan. Sesekali Ayu berpesan pada Alifa dan Adiba untuk tidak nakal di sekolah, sedangkan Angga hanya sesekali menimpali dengan perkataan singkat.
''Nanti siang papa jemput kalian, sekalian kita ke kantor mama,'' ucap Angga.
Alifa dan Adiba bersorak hore, kesenangan. Sebab, dengan begitu mereka bisa bermain dengan beberapa karyawan yang bekerja di kantor sang mama.
''Kayaknya aku juga pulang lebih awal, Pa. Aku boleh ikut gak?'' Hanan mencoba mencairkan hati Ayu yang membeku.
"Terserah," jawab Ayu ketus.
Hanan melanjutkan makannya. Ia tak berbicara lagi. Takut mendapat jawabnya yang seperti tadi.
Mereka beralih duduk di taman samping rumah. Saling berhadapan. Sedikit santai seperti biasa.
"Ada apa, Pa?" tanya Hanan melepaskan suaranya yang sempat tercekat karena rasa takut.
"Papa juga pernah muda sepertimu. Papa juga pernah jatuh cinta saat sma, tapi papa harap itu tidak membuatmu hilang arah," terang Angga dengan jelas.
"Ingatlah pengorbanan mama selama ini. Dia hanya ingin kamu memiliki masa depan yang cerah. Jangan hanya karena wanita kamu lupa tujuan awal. Mungkin terdengar kejam, tapi maksud mama itu sangat baik dan mulia. Dia hanya ingin membuat anak-anaknya sukses."
"Iya, Pa," jawab Hanan singkat. Mencerna petuah dari papa sambungnya yang begitu bijak.
"Sebenarnya kemarin mobil Chika mogok. Aku menjemputnya di tengah jalan. Dan kebetulan juga ban motorku bocor, karena terlambat aku dan dia bolos."
Hanan menceritakan tentang kejadian yang tak sengaja itu. Meskipun masih banyak jalan untuk sekolah mereka terlanjur terperangkap dalam kesalahan, akhirnya Hanan mengganti bajunya dengan blazer sebelum pergi.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kamu berangkat saja, buktikan pada mama kalau kamu bukan laki-laki pecundang dan bisa dipercaya." Meninju lengan Hanan dengan pelan. Lalu masuk dan kembali ruang makan.
Sementara Hanan langsung pamit pergi ke sekolah.
"Tadi kamu bicara apa dengan Hanan?" tanya Ayu pada Angga.
"Gak bicara apa-apa, Ma. Cuma memperingatkan dia saja." Mencubit dagu Ayu dengan lembut.
Membangun suasana hatinya yang masih nampak memburuk. Hanya dia, yang mampu mengembalikan mood Ayu.
Seperti pesannya melalui WA, Hanan menghentikan motornya di dekat sekolah. Menunggu Chika yang belum muncul juga.
"Apa jangan-jangan Chika lupa." Melihat jam mewah yang melingkar di tangannya. Menoleh ke kanan dan kiri berharap gadis itu segera menemuinya sebelum jam sekolah masuk.
Benar saja, tak lama berdiri di bawah pohon beringin, sebuah mobil alphard berwarna hitam pekat berhenti di depannya.
Ya, Chika memang anak seorang pengusaha kaya raya hingga kendaraan yang dipakainya pun berkelas. Begitu juga dengan Hanan, namun ia tak begitu menonjol dan memilih gaya hidup sederhana.
Chika turun dari mobil. Wajahnya terlihat cantik dan imut, terlebih lesung pipinya itu terlihat sangat menggoda iman. Siapapun pasti akan cepat jatuh cinta padanya termasuk Hanan.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Chika dengan lembut.
Hanan menundukkan kepala, seakan hatinya terasa berat untuk memutuskan. Serangkaian kata yang sudah tersusun rapi kini kocar-kacir, terkalahkan oleh kata cinta. Ya, rasa itu memang membuatnya hampir melupakan wejangan mamanya. Namun, kini ia sudah tersadar dan ingin segera bangun dari mimpinya.
Menikah muda tak masalah, hanya saja Hanan tidak memiliki keberanian sebelum mempunyai pekerjaan yang mapan.
"Maaf, Chik. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini," ucap Hanan singkat padat dan jelas.
Mata Chika meremang. Cairan bening mulai berjatuhan begitu saja membanjiri pipi mulusnya. Bibirnya terdiam menahan getaran pundaknya yang naik turun menandakan bahwa gadis itu menangis, mungkin sangat kecewa dengan ucapan Hanan.
"Aku minta maaf, ini bukan karena aku tidak mencintaimu lagi. Tapi kita masih sekolah. Banyak yang harus kita pikirkan. Jika berjodoh pasti Allah akan mempersatukan kita," ucap Hanan lalu memakai helm nya lagi. Ia tak sanggup melihat air mata yang terus menetes di pipi sang kekasih, ralat mantan kekasih.
__ADS_1