Janda Tangguh

Janda Tangguh
Terbongkar


__ADS_3

Angga dan Ayu masuk lebih dulu sambil menunggu Ikram pulang. Mereka bercakap membahas sesuatu yang tidak penting, sesekali Angga menyinggung nama Arsy.


"Arsy siapa ya, Mas. Kok aku nggak tahu?"


"Beneran nggak tahu apa pura-pura gak tahu?" Angga memutar bola matanya malas.


Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuh Rani dan menembus pori-porinya. Ia menggeser tubuhnya sedikit jauh dari Angga kemudian  memanggil Bibi untuk segera membawakan minuman.


"Aku beneran nggak tahu, Mas. Yang aku tahu sejak kecelakaan itu hanya kamu, Ayu, Mbak Harini dan Mas Ikram. Hanya kalian yang aku kenal sekarang dan aku nggak tahu siapapun itu." 


"Oh.'' Angga hanya ber o ria seraya manggut-manggut. Matanya tak teralihkan dari layar ponsel yang ada di tangannya dan mengetik sesuatu di sana.


"Oh iya, Sayang. Kemarin ada perhiasan limited edition loh, yang baru keluar, katanya dibeli sama salah satu istrinya pengusaha ternama di sini, kamu mau nggak?"


"Mau aku beliin?" tawar Angga pada Ayu yang ada di depannya.


Apaan sih mas Angga, baru beberapa minggu aku dibelikan, kenapa nawarin kayak gitu?


Ayu tak menjawab. Ia memutar otaknya untuk bisa menangkap  maksud yang diucapkan Angga.


"Boleh," jawab Ayu tanpa sadar. Entah, itulah yang ingin keluar dari bibirnya, seolah-olah ini tidak murni sebuah percakapan. Tapi ada sesuatu dibalik yang Angga katakan.


"Baiklah, besok aku akan memesannya untuk kamu."


''Sepertinya Rani juga sudah punya?'' Menatap cincin berlian yang ada di jari manis wanita itu.


Rani nampak tersenyum kecut kemudian menggulung jemarinya sambil tersenyum kikuk.


"Ini dari Mas Ikram. Dia baik banget sudah membelikan aku perhiasan, tapi aku nggak tahu kalau ini limited edition. Aku kira ini berlian biasa.'' menunjukkannya pada Angga. 


Disaat mereka berbicara serius, tiba-tiba pintu depan terbuka. Ikram datang dengan wajah lelahnya. Tidak seperti biasanya yang tak acuh, kali ini Rani bergegas menyambutnya dengan ramah. Mencium punggung tangannya lalu memeluknya dan mencium pipi pria itu.


Ada apa dengan Rani? Apa dia kesambet?" Ikram mengangkat kedua bahunya.


Ia tidak tahu apa isi otak dari wanita yang ada di depannya itu, tapi dia merasa sangat aneh disambut spesial dan istimewa. 

__ADS_1


''Ada Pak Angga juga.''


Dua orang ikut masuk mengikuti langkah Ikram. Mereka berdiri di depan ruang tamu, sedangkan Ikram duduk di samping Rani, ruangan itu seperti ruangan polisi yang sedang mengintimidasi seorang perampok.  


"Maaf kalau kedatanganku mengganggumu.''


''Ada apa sebenarnya ini, Pak? Apa ada masalah dengan pekerjaan kita? Atau Bapak butuh bantuan saya?" tanya Ikram ramahm


"Ini bukan masalah bisnis atau pekerjaan, tapi masalah pribadi. Ini semua tentang istri kamu.'' Menunjuk wajah Rani dengan jari telunjuknya.


Rani yang masih berpura-pura polos dan lugu sesekali memijat pelipisnya.


Ikram menatap Rani lalu beralih menatap Ayu dan juga Angga bergantian.


"Maksud Bapak apa? Apa istri saya melakukan kesalahan?"


"Jelas!" jawab Angga cepat-cepat.


Sedikitpun tak ingin menutupi lagi.


''Kesalahan istri kamu sudah fatal, dia sudah membohongi ku. Bahkan, dia menggunakan kecelakaan itu sebagai kedok untuk mengelabuhi aku, sekarang aku akan bongkar kebusukan istri kamu!"


"Aku nggak menyinggung kalau kamu lupa ingatan." Angga tertawa menang, belum apa-apa Rani sudah membuka aibnya sendiri.


Meskipun itu tak jelas, orang yang cerdas akan berpikir tentang apa yang mereka bahas saat ini.


"Apa tadi aku bilang akan membahas tentang amnesia, tidak kan?'' Angga masih basa-basi. Menurutnya ini sangat lucu plus menyenangkan. Baru kali ini ia melawan seorang wanita yang notabenenya adalah istri dari kliennya sendiri. 


"Sekarang kamu jawab! Katakan sejujurnya, atau aku yang akan membongkar rahasiamu?" Angga sedikit menekankan dan berharap Rani tidak berbelit-belit. Cukup meminta restu dari mamanya yang membuatnya pusing bukan urusan yang lain seperti ini.


"Apa maksud kamu, Mas? Aku tidak mengerti?" Rani masih berani mengelak. Seolah-olah ia tidak tahu apa-apa. Padahal, dia sendiri adalah otak dari masalah itu hingga saat ini taruhannya bukan sekedar harga diri, tapi harta suaminya.


"Kalau kamu nanti nggak mau jujur dan terus berbohong, aku akan ambil saham suamimu, dan Ikram akan jatuh miskin."


Untuk kali ini bukan hanya Rani yang takut, Ayu pun tidak bisa membayangkan bagaimana sosok mantan suaminya itu hidup tanpa harta, pasti akan lebih menyedihkan daripada dirinya yang dulu juga tidak punya apa-apa.

__ADS_1


"Mas yang bener dong kalau ngomong?" tegur Ayu 


"Aku sudah benar, Sayang. Kamu maunya yang bener gimana sih?" Angga pun ikut menimpalinya.


"Susah banget ngomong sama kamu ya. Lebih baik aku diem." Akhirnya Ayu membisu, ia tak ingin ikut campur tentang masalah yang belum dimengerti.


"Cepat katakan di depan suamimu atau aku yang akan bocorin rahasia kamu?"


Gawat, bagaimana kalau mas Ikram tahu, pasti dia akan marah besar, sedangkan mas Angga sendiri dia sudah tahu semuanya, aku harus bagaimana?


Rani bingung, ia tidak tahu minta tolong sama siapa. Saat ini ia bagaikan maling yang tertangkap basah, apalagi dua orang yang berdiri berbadan kekar itu seolah-olah menatapnya tajam.


"Aku minta maaf, Mas." Tiba-tiba saja Rani duduk bersimpuh di depan Ikram. Ia mencium punggung tangan pria itu dan menangis.


"Ada apa ini? Jelaskan dulu, aku tidak tahu?" Ikram menarik tangan Rani.


"Sebenarnya aku __" Rani mendongak, wajahnya melas ia harap Ikram tidak marah dan membencinya.


"Sebenarnya kamu apa? Cepat katakan!''


''Cepat katakan atau dua orang ini akan mengatakannya sekarang?" imbuh Angga tak sabar.


Berharap Rani sudah siap untuk membuka suara. "Sebenarnya aku sudah sembuh dari amnesia, Mas."


"Apa!" ucapan itu membuat darah Ikram mendidih. Kedua tangannya mengepal lalu mendorong tubuh Rani hingga terbuang dan terhempas meja.


Sebenarnya Ayu pun cukup puas dengan kenyataan itu, akan tetapi ia kasihan pada Rani yang memohon-mohon permintaan maaf pada suaminya.


"Sudah Mas, bicarakan saja sama Rani baik-baik, aku dan mas Angga pulang dulu.''


Ayu tak butuh penjelasan lebih lebar lagi. Ia tahu perasaan Rani saat ini pasti malu bercampur aduk dengan takut. Takut kalau Ikram akan berbuat hal yang serius.


"Ayo Mas kita pulang!"


 ''Pada akhirnya kamu nggak ada gunanya, tapi aku akan tambahin uang kalian," bisik Angga pada kedua bodyguard-nya lalu pergi.

__ADS_1


Akhirnya aku bisa menyelesaikan satu masalah, semoga setelah ini mama akan merestui hubunganku dengan Ayu.


Angga masih saja cemas sebelum ia mendapatkan restu dari mamanya.


__ADS_2