
Ayu membaringkan Adiba di atas pembaringan. Menghimpitnya dengan guling di bagian kiri dan kanan. Menyuruh Hanan untuk segera mandi lalu menyiapkan makan malam.
''Sabunnya habis, Ma,'' teriak Hanan dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Ayu meletakkan pisau lalu mengambil sabun yang ada di lemari belakang. Kemudian melanjutkan masaknya. Sedangkan Alifa, bocah itu bermain dengan beberapa mainan yang dibelikan om Surya.
Ponsel berdering kembali menghentikan aktivitas Ayu yang hampir menyalakan kompor.
''Siapa sih ini? Jangan bilang kalau mas Angga.'' Hampir seharian penuh ia dan pria itu berpisah, namun seakan masih berada di dekatnya.
Senyum yang hampir mengembang kembali redup saat melihat nama yang berkelip di layar.
''Rani, ngapain dia meneleponku?''
Jari Ayu mengambang bimbang antara menerima atau tidak, mengingat kejahatan yang dilakukan wanita itu. Terlebih Angga sudah mewanti-wanti supaya tidak berhubungan lagi dengannya.
Bagaimana kalau ini penting?
Ayu meletakkan ponsel nya di atas meja. Mencoba untuk tega pada orang yang sudah hampir dua kali merenggut kebahagiaannya.
''Dia kan tahu rumahku, kalau memang butuh pasti akan datang ke sini,'' gumamnya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Hampir sepuluh panggilan tak terjawab membuat Ayu penasaran apa yang akan dikatakan wanita itu. Namun, ia tetap berusaha untuk menghargai dirinya sendiri dengan tidak mudah terpengaruh pada orang-orang yang pernah menyakitinya.
Hanan keluar dari kamar mandi dan mendekati Ayu. Mencium aroma makanan yang sudah hampir matang.
''Kalau papa Angga di sini, pasti dia sudah bilang lapar,'' ucap Hanan sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Ayu terkekeh. Ternyata selama ini Hanan memperhatikan kebiasaan Angga yang konyol itu.
''Cepetan ganti baju! Nanti masuk angin!'' titah Ayu pada Hanan yang mengendus-enduskan hidungnya.
''Kata papa Angga nanti kalau dia pulang sudah harus melihatku menjadi laki-laki yang dewasa dan bertanggung jawab. Dia juga ingin melihatku menjadi anak yang berbakti pada mama,'' ungkap Hanan seperti yang dikatakan Angga sebelum berpisah.
Ayu hanya menimpali dengan senyuman tipis.
__ADS_1
Tak lama kemudian suara ketukan pintu membuyarkan Ayu yang teringat dengan tingkah-tingkah konyol Angga.
''Siapa yang datang malam-malam seperti ini? Gak mungkin mas Angga, kan? Atau jangan-jangan Rani?'' terka nya.
Ayu merapikan hijabnya. Membersihkan barang-barang yang ada di ruang tamu lalu membuka pintu.
Bukan orang yang disebut, melainkan wanita cantik yang bekerja di kantor Angga. Dia adalah Riska.
''Ada apa Mbak ke sini?'' tanya Ayu yang lupa mempersilahkan tamunya masuk.
''Maaf, Bu. Saya ke sini hanya ingin menyampaikan amanah pak Angga,'' ucap Rani membuka tas yang dibawanya.
Ayu mempersilahkan masuk lalu menutup pintu. Tak lupa membuat minuman untuk wanita tersebut.
''Memangnya mas Angga pesan apa?'' tanya Ayu penasaran.
Hanan hanya bisa mengintip di balik pintu kamar.
Riska membuka sebuah map berwarna hijau lalu memberikannya kepada Ayu.
''Ini adalah ruko yang bisa Anda gunakan untuk berjualan. Tempatnya nyaman dan juga strategis, ada dua lantai yang memudahkan Anda untuk membawa anak-anak. Di sana juga sudah tersedia perabot rumah tangga lengkap dan juga kamar tidur. Jadi Anda tidak perlu khawatir dan cemas.''
''Maaf, aku tidak bisa menerimanya,'' tolak Ayu tanpa basa-basi.
Riska tersenyum kecil.
''Dengarkan dulu penjelasan saya, Bu!'' pinta Riska serius.
Ayu menatap wajah sang sekretaris yang nampak cantik itu.
''Pak angga tidak memberikan ini secara cuma-cuma, karena beliau tahu bahwa Anda tidak akan menerimanya. Maka dari itu beliau menyuruh Anda menyewa nya. Tentang pembayaran boleh di awal atau akhir dan juga boleh dicicil sesuai kemampuan.''
Ayu yakin itu hanya alasan Angga supaya ia mau menerimanya. Namun, dia tak mungkin mengecewakan usaha pria itu.
''Baiklah, aku setuju. Nanti aku akan lihat tempatnya. Kira-kira berapa harga perbulan yang harus aku bayar?" tanya Ayu curiga, ia takut penghasilannya tak sesuai dengan tempat sewanya.
__ADS_1
Riska menunjukkan harga yang ditulis oleh Angga. "Kata pak Angga bisa ditawar kalau Anda tidak mampu, Bu," ucapnya seperti apa yang dikatakan Angga sebelum pergi.
Dia meremehkanku.
''Aku setuju,'' jawab Ayu tanpa berpikir panjang. Ingin membuktikan pada Angga bahwa tak selemah yang pria itu kira.
''Jika tidak sibuk saya bisa mengantar Anda sekarang, Bu. Masalah nya besok ada rapat penting yang harus saya pimpin." Riska melihat jam yang melingkar di tangannya. Memastikan waktunya masih cukup untuk mengantar Ayu ke lokasi.
''Tapi sudah hampir malam, Mbak. Adiba juga sudah tidur." Ayu menatap Adiba yang meringkuk di atas ranjang.
''Gak papa, biar aku yang jaga.'' Bi Ninik menyahut dari ambang pintu depan. Seolah semua sudah direncanakan sebelumnya.
Tak ingin merepotkan Riska yang sangat sibuk, terpaksa Ayu ikut pergi dengan wanita itu.
''Hati-hati, Yu. Semoga sukses," ucap bi Ninik sembari menatap punggung Ayu berlalu.
Tidak butuh waktu lama, Riska dan Ayu sudah tiba di depan sebuah ruko yang lumayan mewah.
Ayu menatap bangunan itu dari dalam mobil. "Apa ini milik mas Angga atau dia menyewa dari orang lain?" tanya Ayu menyelidik.
Riska melepas seatbelt. "Ini bisnis antara Ibu dan pak Angga. Jadi hanya ada dua pihak, itu artinya tempat ini murni milik pak Angga, dan tidak ada pihak ketiga lagi.
Ayu mengangguk mengerti.
Ada-ada saja caranya.
Ayu turun. Kini semua sudah jelas bahwa Angga tetap memantaunya meskipun dari jauh. Terbukti pria itu sudah menyiapkan beberapa fasilitas yang dibutuhkan tanpa Ayu minta.
Riska membuka pintu depan. Nampak di ruangan bawah itu sangat luas. Ada beberapa lemari dan kursi juga etalase baru. Beberapa barang yang ada di bagian pojok.
"Ibu bisa meletakkan barang-barang yang akan dijual di sini.'' Menunjuk salah satu ruangan luas yang ada di sebelah kiri. "Kemudian ini tempat pecking.'' Menunjuk yang sebelahnya. Lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah. ''Ini tempat istirahat untuk karyawan.'' Menunjuk ke arah utara. ''Yang ini ruangan ibu untuk mengatur semuanya.'' Riska membuka pintu ruangan yang ada di tengah.
''Kamar mandi dan dapur ada di sana, Bu.'' Menunjuk ke arah belakang. Setelah puas mengabsen lantai bawah, Riska mengajak Ayu ke lantai atas. Baru saja tiba di ujung tangga, Ayu sudah dimanjakan dengan beberapa gambar yang terpajang di dinding. Sebuah lukisan indah nan mewah menghiasi tempat itu.
''Yang di sini khusus untuk Ibu dan anak-anak. Siapapun tidak boleh membawa barang-barang ke atas. Seandainya bagian bawah kurang luas, maka ibu tinggal bilang dan akan ditambahi ruangan lain.''
__ADS_1
Ayu merasa puas dengan tempat itu dan bersalaman dengan Riska. ''Katakan pada mas Angga aku setuju dan akan menggunakan tempat ini untuk berjualan.''
Bukan tak ingin mengucapkan secara langsung, namun Ayu menghindari gombalan Angga yang mungkin akan membuatnya tak fokus.