Janda Tangguh

Janda Tangguh
Orang suruhan


__ADS_3

Angga dan Ayu masuk ke ssbuah restoran yang ada di tepi danau itu. Mentari sudah sepenuhnya terbenam, diganti dengan pancaran lampu yang menyinari. Tempat itu memang sangat indah dengan gemerlap cahaya yang mengelilingi, namun tak seindah hati Angga yang mulai cemas. 


"Kamu yakin ini tempat nya?" bisik di telinga Ayu.


Matanya terus mengelilingi ruangan yang dominan dengan patung dan juga lukisan kuno. Di setiap sudut ada benda-benda antik yang memanjakan mata. Cukup menarik untuk berpose.


"Kita duduk disini saja." Ayu menarik tangan Angga. Menyungutkan kepalanya ke arah kursi kosong yang ada di dekat mereka berdiri. 


Ada beberapa pengunjung yang nampak menikmati hidangannya. Sang waitress datang dan menghampiri mereka. 


"Maaf, Mbak. Apa tadi ada seorang perempuan yang menanyakan nama Ayu Lestari?" tanya Angga pada wanita cantik itu. 


"Belum, Pak. Mungkin belum datang," jawabnya dengan ramah. 


Angga memesan dua minuman panas. Lalu meraih ponsel milik Ayu. 


Dilihat dari pesan yang terkirim, orang itu memang seperti sudah mengenal Ayu. Akan tetapi, ia sedikit curiga karena tak menyebutkan nama. 


Jangan-jangan ini hanya jebakan saja. 


Angga mengirim pesan kembali dan mengatakan bahwa sudah sampai. Lalu menanyakan nama nya. 


Maaf, Bu. Saya masih ada di jalan. 


Itulah jawaban dari orang yang masih misterius. 


Angga sedikit waswas. Lantas, ia menghubungi penjaga untuk meningkatkan keamanan di toko. Juga meminta Ikram dan anak-anak supaya tidak keluar dari tempat itu. 


Sudah hampir lima menit menunggu. Belum ada tanda-tanda orang yang datang menemuinya. Kebanyakan pengunjung yang masuk adalah pasangan pemuda pemudi. 


"Apa mungkin dia lupa alamatnya?" tanya Ayu konyol.


Angga hanya bisa menahan tawa. Mengusir rasa cemas yang dari tadi menyelimutinya. 


"Gak mungkin lupa. Mungkin saja bannya kempes," jawab Angga asal. Ia menyeruput minuman yang baru datang. 


Tak berselang lama, nampak wanita cantik berjalan dari arah luar.  Tanpa bertanya, wanita itu menghampiri Ayu dan Angga yang sibuk berbincang. 


"Maaf Bu Ayu, saya terlambat," ucapnya menangkup kedua tangan. 

__ADS_1


Ayu tersenyum kecil. Mempersilakan wanita itu duduk. Otaknya terus mengingat-ingat wajah wanita muda yang sudah mengetahui namanya itu. 


Kok aku lupa dengan dia?  


Tak biasanya Ayu melupakan orang yang sudah dikenal. Bahkan, dari raut wajahnya pun nampak asing.


Angga terdiam, sesekali melihat wajah Ayu yang sedikit kikuk.


Jika mereka saling kenal, gak mungkin Ayu canggung seperti itu. 


Angga mulai menangkap bau keanehan di wajah sang calon istri. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permainan yang sudah dimulai. 


"Masa Ibu lupa? Nama saya Monalisa."


Ayu tersenyum lirih, ia masih belum mengingat wanita itu, tapi pura-pura saja mengenalnya. 


"O, iya maaf. Karena banyak klien saya jadi lupa," ucap Ayu merasa bersalah. 


Gak kenal juga gak papa, cukup mengenalku saja, gerutu Angga dalam hati. 


"Maaf saya mengganggu waktu ibu. Tujuan saya mengajak ibu bertemu di sini untuk membicarakan tentang kerja sama. Tadinya saya mau datang ke toko, tapi kata teman saya Ibu sibuk dengan persiapan pernikahan dan mungkin ketemu di sini bisa lebih fokus," ucap Monalisa panjang lebar. 


"Memangnya kerja sama apa, Bu?" tanya Ayu memastikan. 


Monalisa membuka tasnya dan mengambil map berwarna hijau. Lalu, meletakkan di depan Ayu. 


"Saya juga memiliki toko yang tidak terpakai. Dan saya ingin membukanya lagi, tapi gak ada modal. Apa Ibu bisa meminjamkan uang ke saya. Atau saya bisa mengambil barang dari toko Ibu, nanti kita bagi hasil," ucapnya memelas. 


Ayu membuka map itu dan membaca satu persatu tulisan yang tertera. Seperti ucapan Monalisa beberapa detik lalu, wanita itu meminta bantuannya dan akan bagi hasil keuntungannya.


"Lihat deh, Mas!" Ayu menyerahkan kertasnya pada Angga. Meminta bantuan pria itu untuk memutuskan. Bukan tanpa alasan, Ayu hanya ragu untuk terikat sebuah perjanjian dengan orang yang menurutnya asing. 


"Kenapa namanya harus diganti? Ayu kan punya logo sendiri? Seharusnya kalau Anda memang mau bekerja sama itu tetap  menggunakan produknya Ayu, bukan yang lain." 


Angga mengutarakan isi hatinya yang sedikit menjanggal. 


"Sebuah perusahaan tetap akan mengakui miliknya sendiri daripada produk lain. Jika itu terjadi, maka yang ada akan berbeda, jelas logo dari pihak pertama tidak diakui karena sudah ganti nama dengan yang kedua. Saya tidak setuju," tolak Angga terang-terangan. 


Ia meletakkan kertas itu di tempat semula dan mengembalikannya pada Monalisa.

__ADS_1


Monalisa nampak kebingungan dan tidak bisa berkutik lagi. Ia memasukkan map itu dengan cepat lalu beranjak dari duduknya. 


"Maaf, kalau Ibu tidak mau menerima tawaran saya gak papa, permisi." Meninggalkan tempat itu dengan cepat. 


Aneh, sepertinya dia hanya orang suruhan, tapi siapa yang mau menipu Ayu. 


Angga menghabiskan kopinya. Menatap Ayu yang masih tercengang dengan apa yang terjadi. Jika tidak ada Angga, mungkin ia sudah menandatangani tanpa banyak bertanya. 


"Kita pulang, sudah malam.'' Angga menilik jam yang melingkar di tangannya. Mereka meninggalkan tempat yang tak berfaedah itu. 


"Mas," panggil Ayu dari belakang. 


Angga menghentikan langkahnya yang hampir tiba di dekat mobil. Ia menoleh ke arah sang calon istri yang tampak ketakutan. 


"Aku jadi ingat jalan sepi tadi. Apa malam-malam begini ada yang lewat. Aku takut." 


Angga menahan tawa. Meraih tangan Ayu dan membawanya ke mobil. 


"Gak akan ada apa-apa. Aku sudah siapkan semuanya, jadi jangan takut. Gak mungkin ada hantu juga di sana," ucap Angga meyakinkan. Meskipun ia sendiri sedikit cemas. 


Ayu setuju dan masuk ke mobil. Melantunkan doa dalam hati sebelum mobil meninggalkan tempat parkir. 


Benar saja, setiba nya di tempat yang jauh dari perkampungan itu terasa sangat gelap gulita. Hanya ada beberapa lampu yang menyala redup menjadi penerang, itupun berjarak sangat jauh. 


Tak henti-hentinya Ayu mengucapkan doa dalam hati. Meminta perlindungan demi keselamatan mereka berdua. 


"Tutup mata, Sayang," ucap Angga memecahkan keheningan. 


Ayu melakukan apa yang Angga minta tanpa protes. Berharap semua baik-baik saja. 


Tak lama kemudian, ada beberapa orang berdiri di depan mobil Angga. Tanpa aba-aba Angga pun menyalakan sirine polisi yang sudah ia pasang sebelum berangkat hingga beberapa orang yang tadi berjejer kini berhamburan meninggalkan tempat ke arah yang berbeda. 


"Jangan buka mata kamu," ucap Angga kemudian. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu dan berharap tidak ada lagi orang yang ingin mencelakainya. 


Mobil sudah memasuki sebuah perkampungan membuat Angga lega. 


"Sekarang buka mata kamu!" suruh Angga. 


Perlahan Ayu mengikuti instruksi Angga dan ia pun bernapas lega setelah melewati tempat yang sangat menyeramkan itu. 

__ADS_1


__ADS_2