Janda Tangguh

Janda Tangguh
Berkumpul


__ADS_3

Angga terus menatap wajah cantik Ayu yang berdiri di depannya. Seolah tak ada bosan baginya untuk tetap menikmati indahnya ciptaan Allah yang begitu sempurna. Jika ada yang mengatakan setelah menikah wanita tak lagi spesial di mata suaminya, itu salah. Justru semakin hari cinta Angga semakin menggunung hingga ia terkadang tak mampu untuk menampungnya. Selalu rindu dan rindu setiap kali berpisah. Terasa hampa saat berjauhan dan begitu harinya dilalui. 


''Kenapa sih, Mas? Aku terlihat tua ya?'' Ayu menunduk malu saat sepasang mata Angga menatapnya tanpa berkedip. 


Angga mengangkat dagu Ayu hingga tampaklah wajah cantik yang dipulas dengan sedikit make up itu. 


''Kamu cantik, aku mencintaimu.''


''Gombal.'' Ayu tersipu. Menepuk lengan Angga dan kembali menatap bayangannya dari pantulan cermin. 


''Benar, Sayang.'' Angga meletakkan tangannya di perut sang istri, mengecup pundak wanita itu berulang kali lalu beralih ke pipi. Menyingkap jilbabnya yang menutupi dada dan mendekatkan pipinya disana. Ah, itu tempat yang paling nyaman bagi Angga saat ini. Menghirup dalam aroma parfum seraya membayangkan sesuatu yang menggetarkan jiwa dan membuatnya tergolek lemas. 


''Jangan memancing, Mas. Katanya mau makan malam di luar?'' Ayu kembali mengingatkan. 


Sekuat tenaga Ayu menahan sesuatu yang mulai bergejolak saat bibir Angga mulai menyusuri lehernya. 


''Kayaknya makan malamnya kita tunda,'' bisik Angga. Tangannya mulai menyentuh bagian-bagian yang membuatnya mabuk kepayang. Melepas hijab Ayu yang sudah melekat rapi lalu mengelus rambut wanita itu dengan lembut. Memberikan sentuhan menghangatkan. 


''Aku mau.'' Angga mengangkat tubuh Ayu tanpa izin dan membawanya ke ranjang. Membaringkan nya dengan pelan. Mengganti lampu terang dengan lampu redup. Hingga suara percakapan itu lenyap berganti dengan napas yang saling bersahutan. Sunyinya malam, dinginnya angin berhembus dari balik tirai kembali menjadi saksi bisu bersatunya dua insan atas nama cinta.


Angga yang baru saja memejamkan mata kembali terusik saat merasa ada yang menyentuh pipinya. Terpaksa ia harus membuka matanya lagi untuk memastikan.


''Ternyata kamu belum tidur?'' Memiringkan tubuhnya. Mendekap Ayu dalam pelukannya. "Mau lagi?"


''Aku lapar, Mas. Adiknya belum makan lo dari siang,'' keluh Ayu menahan perutnya yang mulai keroncongan.


Angga terkekeh, ia segera bangkit dan memakai pakaiannya lagi. Menyalakan lampu terang dan mengambil ponselnya. Ternyata baru jam sembilan malam. Itu artinya masih banyak waktu untuk bisa berduaan.

__ADS_1


''Mau makan di mana?'' tanya Angga lembut.


''Makan di rumah saja, aku malas keluar." Ayu pun ikut terbangun dan memesan makanan kesukaannya.


''Makasih untuk yang tadi. Kembalikan tenagamu. Mungkin aku akan mengulanginya lagi setelah makan nanti,'' goda Angga menaik turunkan alisnya.


Ayu hanya bisa tersenyum tanpa menolak, karena itu kewajiban baginya.


Pagi kembali menyapa begitu cerah. Bayangan pergulatan malam tadi membuat Ayu tersipu. Tapi apa daya, itu adalah kewajiban yang harus ditunaikan saat sang suami meminta sebuah hak. Tak munafik, ia pun juga menginginkan belaian setelah hampir enam tahun menjanda.


Hari ini Ayu berencana bertemu dengan Mirna. Sejak pertemuan saat itu mereka mulai dekat dan mengakrabkan diri sebagai rekan dari suaminya yang sesama pebisnis hebat. 


''Mau aku antar?'' tawar Angga duduk di tepi ranjang. 


Ayu menggeleng tanpa suara. Senyum merekah saat melihat suaminya sangat tampan dan seragam kantornya. 


Cukup unik jika didengar, Angga bukanlah orang miskin. Pria itu memiliki banyak kelebihan dan pasti banyak wanita sempurna yang mengharapkannya. Namun, malah menjatuhkan pilihannya pada seorang janda untuk mendampingi hidupnya. Bukankah itu hal yang aneh?


''Tujuanku menikah bukan karena ingin bersenang dengan mereka yang suka mengurus dirinya sendiri. Tapi aku butuh sosok seorang ibu yang bertanggung jawab atas anak, dan istri yang patuh pada suaminya. Aku banyak mengenal perempuan. Tapi, hanya kamu yang mampu bersemayam dalam hatiku." Mendekap Ayu yang nampak merona.


Pujian-pujian itu sering terlontar dari sudut bibir Angga. Akan tetapi, itu tak membuat Ayu tersanjung. Justru adalah sebuah amanah baginya untuk bisa menjadi lebih baik lagi. 


Mereka berpamitan. Mobilnya pun berjalan beriringan. Kemudian berpisah dan mengambil jalur berlawanan karena perbedaan tempat.


Ayu datang ke sebuah cafe mewah milik mama nya Chika. Ia diantar oleh seorang pelayan untuk menemui sang pemilik yang katanya sudah datang. 


"Selamat pagi, Mbak Ayu." Mirna menyambut sang calon besan dengan hangat. 

__ADS_1


Ya. Begitulah Mirna menyebutnya. Ada harapan besar ingin  menjadikan Hanan sebagai menantunya di masa mendatang. 


"Pagi, wah ternyata sudah pada datang. Maaf, saya terlambat. Maklum harus urus anak-anak dan suami." Ayu menyapa beberapa orang yang sudah hadir. Kali ini tidak hanya dengan Mirna, namun dengan beberapa wanita sosialita juga di sana. Mencoba bergabung dan memperkenalkan diri sebagai istri pengusaha Angga Syahputra Wijaya. 


"Saya dengar-dengar Mbak Ayu ini mantan istri Pak Ikram yang juga pengusaha itu?" tebak salah satu di antara mereka. 


Ayu tersenyum dan mengangguk membenarkan pernyataan itu. Ia pun tak pernah menyangkal pernah menjadi bagian dari hidup Ikram dan memberikan tiga orang anak.


"Tapi kok dulu gak pernah gabung sama kita-kita," timpal yang lainnya. 


Ayu terdiam. Bingung mau menjawab apa, tidak mungkin ia bercakap jujur bahwa Ikram melarang keluar dan menyuruhnya sibuk mengurus anak-anak. Itu hanya akan membuka aib mantan suaminya di masa silam.


"Beda suami beda pergaulan, Jeng. Mungkin dulu mbak Ayu berkumpulnya bukan sama kita." Mirna membuka suara. Mengalihkan perhatian mereka yang fokus mengorek masa lalu Ayu. 


Suasana kembali menghangat meski sesekali mereka menyinggung Ayu, namun Mirna menjadi tebing untuk melindungi sang calon besan. Ingin membuat wanita itu nyaman seperti hal nya yang dilakukan Hanan pada Chika.


"Oh ya, mbak Ayu. Terima kasih karena kunjungan Mbak waktu itu, kini nilai Chika bagus-bagus. Dia rajin belajar." Mirna menepuk pelan lengan Ayu.


"Hanan juga, semoga mereka berdua bisa menggapai cita-citanya," balas Ayu sambil tersenyum. 


Pertemuan itu memberi banyak pelajaran bagi Ayu. Sebagai anggota baru ia mulai beradaptasi dengan baik. Menempatkan diri dan tidak terlalu menonjolkan kekayaannya. Tetap sederhana, baginya banyaknya harta bukan jaminan bisa berada di tengah orang kaya namun kebaikannya lah yang mampu membawanya hingga seperti saat ini. 


"Terima kasih karena Mbak Ayu mau bergabung dengan kami." Seorang wanita dengan tatanan rambut di cepol itu mengatupkan kedua tangannya.


"Sama-sama, Bu. Saya juga senang bisa berkenalan dengan kalian," jawab Ayu ramah dan sopan.


Ayu pulang lebih dulu karena sedikit mual, takut mengganggu yang lain saat makan.

__ADS_1


__ADS_2