Janda Tangguh

Janda Tangguh
Berpisah


__ADS_3

Mentari belum sepenuhnya terbit, namun Ayu sudah berada di rumah Angga. Tak seperti biasanya yang menyambut dengan muka masam, kali ini Bu Winda langsung memeluk Ayu saat wanita itu masuk ke dalam rumah.


''Mas Angga di mana, Tante?'' tanya Ayu menatap pintu kamar Angga yang tertutup rapat.


''Biasa, habis Shubuh dia itu tidur lagi. Mungkin sekarang juga masih tidur.'' Bu Winda membongkar kebiasaan Angga setiap pagi.


Ayu meletakkan makanannya di meja makan. Menyuruh anak-anak untuk diam di tempat. Kemudian ia membuka pintu kamar Angga Lalu melepas sepatunya. Takut mengusik Angga yang nampak berbaring di atas pembaringan dengan memeluk guling.


Ini adalah hari terakhir mereka bertemu, itu artinya setelah ini tidak ada lagi Angga bersama Ayu.


Semoga Allah selalu melindungimu, Mas. Semoga Allah selalu menjagamu. Dimanapun kamu berada, aku selalu berdoa yang terbaik untuk kamu dan tante.


Ayu melangkahkan kaki dengan pelan tanpa suara. Ia menghampiri ranjang lalu geleng-geleng melihat keadaan kamar yang begitu berantakan. Selimut dan bantal tak kartu-karuan.


Dasar pemalas, apa dia tidak pernah merapikan selimutnya sendiri?


Tanpa sengaja Ayu menginjak baju Angga yang teronggok di lantai hingga tubuhnya terhuyung dan terjatuh di atas ranjang.


''Aduh...'' Ayu meringis saat kakinya terasa keseleo.


Angga yang merasa ketiban sesuatu pun perlahan membuka mata. Betapa terkejutnya saat melihat wajah Ayu begitu dekat dengan wajahnya.


''Ngapain kamu di sini, Sayang?' kamu salah masuk kamar?'' ucap Angga yang masih ngelantur.


Mengucek matanya. Menjernihkan pandangannya. Ia belum sadar sepenuhnya akan tetapi menyadari bahwa orang yang saat ini bersandar di dadanya adalah Ayu. Wanita yang paling ia cintai selain ibu.


''Bukan salah masuk kamar, Mas. Aku memang sengaja ke kamar kamu.'' Ayu menggosok kepalanya yang terasa nyeri akibat terbentur dada Angga.


''Benarkah?'' Angga tertawa lebar. Pagi ini pria itu sangat tampan dengan baju koko dan juga sarung membuat Ayu terpana.


''Kunci pintunya dulu dong, nanti ada yang lihat,'' pinta Angga konyol.


Seketika tangannya dipukul oleh Ayu. ''Gak mau ah, apaan sih, aku ke sini cuma mau bilang, kalau aku bawa makanan. Cepetan keluar anak-anak udah nungguin." Ayu membungkuk, hal tak terduga pun ia lihat dari kolong ranjang.


''Astagfirullah Mas Angga, kenapa kamu jorok sekali sih? Apa ini?'' Mengangkat kain segitiga lagi yang berwarna maroon.

__ADS_1


''Itu bersih, kok. Tadinya aku mau masukin ke koper tapi meleset,'' kilah Angga.


Terpaksa Ayu membuka koper milik Angga lagi lalu memasukkan barang-barangnya yang masih ketinggalan. Menyuruh pria itu turun dan merapikan selimutnya.


''Kamu dan anak-anak bsia tidur di sini.''


Bukan tipikal seorang Ayu yang mudah menerima tawaran, jawabannya tetap menggeleng.


''Kamu mau ngantar aku ke bandara juga, kan?'' tanya Angga tanpa mengalihkan matanya dari wajah Ayu.


Ayu mengangguk. Itu adalah janjinya pada ketiga anaknya. Mereka ingin melihat Angga naik pesawat.


''Berjanjilah kalau kamu akan setia padaku. Jangan memilih yang lain. Jangan kembali pada ke Ikram.''


Permintaan macam apa itu?


Ayu tersenyum. Untuk terakhir kalinya ia memberanikan diri mencium punggung tangan Angga yang bersembunyi di balik selimut.


''Aku janji, Mas. Meskipun kita belum akad, aku akan setia dan tidak akan menerima lamaran orang lain. Aku akan menunggu kamu lima tahun dan berjuang membesarkan anak-anak. Lima tahun aku akan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan lima tahun aku hanya ingin melihat fotomu. Percayalah padaku! Meskipun ini bukan janji di hadapan Allahz aku tidak akan mengingkari nya.


''Lepaskan, Mas. Aku teriak nih," ancam Ayu yang merasa merinding. Meskipun tidak bersentuhan secara langsung, kelakuan Angga sudah keterlaluan. Perlahan Angga melepaskan pelukannya.


Membiarkan Ayu turun. Jika itu tidak dilakukan, maka Angga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebab, ada sesuatu yang sudah meronta-ronta ingin terlepas dari sarangnya.


Ayu merapikan hijabnya lagi. Ia takut orang di luar sana menuduhnya melakukan yang tidak-tidak. Lantas, menyiapkan baju yang akan dipakai Angga berangkat.


''Sekarang kita keluar makan dulu!'' ajak Ayu pada Angga yang masih nampak malas dan berbaring di atas ranjang.


Mungkin ini adalah perpisahan untuk mereka, akan tetapi Angga menganggap ini adalah awal dari perjuangan untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan yang nyata. Sebab, setelah ini ia akan lebih bebas hidup bersama Ayu dan anak-anaknya. Memang tidak mudah untuk mencapai sebuah tujuan. Akan tetapi, dengan niat yang baik dan tulus pasti semua itu akan tiba saatnya.


''Aku pasti akan merindukan mu, masakanmu, juga senyumanmu.'' Angga mengunyah makanannya dengan pelan.


Jam terus berputar


Kini Angga dan keluarganya serta Ayu sudah ada di bandara internasional. Mereka masih berada di mobil karena masih ada beberapa menit lagi sebelum Angga benar-bebar pergi.

__ADS_1


''Cium papa dong.'' Angga menunjuk pipinya tepat di depan Alifa dan Adiba.


Ayu memilih diam membisu dan menyimpan sejuta ungkapan yang terpendam.


''Jangan sedih lagi.'' Tangan Angga mengulur menyentuh hijab Ayu.


''Apa kamu tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?'' Angga menggoda Ayu yang dari tadi terus membisu.


''Ucapan yang seperti apa?'' tanya Ayu balik.


Hatinya terlalu kalut untuk melepaskan Angga. Namun, ia pasrah dengan takdir dari yang Esa.


''Terserah kamu, yang penting aku menyukainya.''


Ayu menoleh ke kanan kiri. Ternyata tidak ada siapapun selain ia dan Angga. Anak-anak pun ikut yang lain.


Ayu mendongak, mensejajarkan pandangannya dengan Angga. ''Aku mencintaimu, Mas Angga.'' Ayu mengucap dengan lugas.


Angga tak percaya, itu bagaikan sebuah mimpi. Ungkapan cinta dari bibir Ayu adalah satu-satunya kenangan yang terpahat di hatinya.


''Apa kamu mau mengulanginya lagi?'' pinta Angga memohon.


Ayu menjinjit. Mendekatkan bibirnya tepat di telinga Angga lalu mengucap. ''Aku mencintaimu, Mas Angga.''


Tanpa aba-aba, Angga memeluk Ayu dengan erat. Biarlah, setidaknya itu akan menjadi obat saat dirinya peegi nanti.


''Cepat kembali, aku menunggumu!''


''Aku juga mencintaimu, sangat sangat mencintaimu.''


Angga turun dari mobil. Ayu mengikutinya dari belakang.


Sekali lagi Angga berpamitan dengan keluarga. Ia tak henti-hentinya mencium ketiga anak Ayu. Terutama pada Hanan.


''Buktikan pada papa kalau kamu akan menjadi abak hebat. Saat pulang nanti, papa harap kamu sudah punya kemampuan lebih.''

__ADS_1


Hanan mengangguk lalu hormat.


__ADS_2