Janda Tangguh

Janda Tangguh
Bujukan Angga


__ADS_3

Suasana rumah semakin ramai. Dalam sekejap mata, Angga mampu menghipnotis ketiga anak Ayu. Mereka tak lagi merasa canggung, bahkan berani bercanda dengan pria tersebut. Sesekali  Alifa mengusap wajah kokoh nya dengan lembut dan manja. 


"Panggil papa!" pinta Angga berbisik seraya melirik Ayu yang sibuk menyiapkan makanan di meja makan. 


Hanan yang duduk di samping Angga hanya bisa mencerna perkataan itu. Ia sudah mulai paham ucapan yang menyangkut tentang orang dewasa. 


"Papa." Itu bukan suara Alifa atau Hanan, melainkan suara Adiba yang duduk di pangkuan Angga. 


Mereka bergelayut manja, layaknya anak dan papa kandung. Ayu yang melihat tingkah mereka ikut terharu.


"Anak pintar." Mencium pucuk kepala Adiba kemudian mengangkat satu jempolnya. 


"Mulai sekarang Hanan juga harus panggil om dengan sebutan papa," suruh Angga pada Hanan yang dari tadi nampak anteng. 


Hanan mengangguk, setidaknya dalam sekali pertemuan ia sudah merasa nyaman dengan keberadaan pria itu. 


"Tapi ada satu syarat, Om," ucap Hanan kemudian. 


Wah, ternyata tak hanya mamanya, anaknya juga pinter banget. Tapi gak papa deh, demi mendapatkan Ayu aku rela menerima syarat apapun dari Hanan. 


"Apa?" tanya Angga harap-harap cemas. Takut syarat yang diajukan Hanan berat dan ia tak bisa memenuhinya. 


"Om jangan pernah menyakiti mama seperti yang papa lakukan. Aku tidak mau melihat mama menangis ataupun bersedih, jika itu terjadi aku tidak akan memaafkan Om dunia dan akhirat," ucap Hanan dari hati. 


"Asssiiiaaaap." Angga mengangkat tangannya tanda hormat hingga membuat ketiga anak Ayu tertawa terbahak-bahak. 


Harini menghampiri Ayu lalu duduk di samping nya.


"Apa kamu mencintai Angga?" Harini menuang air ke dalam gelas. 


Apapun jawaban Ayu, ia harus siap dan tidak boleh berharap lagi dengan wanita itu. 


Ayu menggeleng tanpa suara. Untuk saat ini hatinya masih tertutup rapat dan akan fokus pada anak-anak. 


"Tapi sepertinya dia sangat mencintaimu,"  imbuhnya lagi. 


Ayu tersenyum kecut menganggap ucapan Harini itu konyol. 


"Angga itu pemimpin perusahaan yang terpandang. Mana mungkin dia jatuh cinta padaku. Aku saja belum tahu dia punya istri apa belum."


"Belum," sahut Angga tiba-tiba dari balik dinding. 


Entah sejak kapan pria itu datang, Ayu dan Harini tak menyadarinya. 

__ADS_1


"Aku belum punya istri," jelasnya lagi. 


Kedua bola mata Ayu membulat sempurna. Terkejut dengan penuturan pria itu. 


Dilihat dari wajahnya yang tampan dan pekerjaannya yang mapan, pasti banyak wanita yang menginginkannya hingga membuat Ayu tak percaya. 


"Itu bukan urusanku.'' Ayu berdiri dari duduknya. Mencari jalan untuk bisa pergi dari Angga. Namun, ia sekarang terjebak dalam ruangan itu. Hanya ada satu jalan, yaitu di dekat Angga. 


"Ayo, Ma! Kita jalan-jalan," rengek Hanan dari belakang Angga. 


Tidak ada pilihan lain, Ayu menyetujui permintaan sang buah hati. Mungkin dengan begitu dia bisa terhindar dari pria menyebalkan itu. 


Angga bergegas keluar dari rumah Ayu. Menggiring Alifa dan Adiba serta Hanan menuju mobilnya. Sebab, mereka adalah senjata yang paling ampuh supaya bisa dekat dengan Ayu. 


"Aku bisa pergi sendiri, Pak," tolak Ayu mengikuti langkah Angga dari belakang. 


Harini menahan tawa melihat kekesalan Ayu. Ia tak protes dan mulai mendukung hubungan mereka yang nampak unik dan lucu. 


"Tapi anak-anak maunya sama aku, Yu." Angga kekeh dan tetap membawa anak-anak masuk ke mobil. 


Ayu melipat kedua tangannya. Memasang wajah kesal saat Angga cengengesan menaik turunkan alis. Seakan tak bersalah sudah membuatnya marah. 


''Sebenarnya mereka anakmu atau anakku sih?'' Ayu menunjuk ke arah mobil Angga yang tertutup rapat. Tak terima karena Angga lebih berkuasa atas anak-anaknya daripada dirinya sendiri. 


Ayu semakin geram. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti drama yang mulai berjalan. 


''Silahkan masuk, Mbak!'' Angga membuka pintu untuk Harini.


Kini di luar mobil itu hanya ada Angga dan Ayu. Mereka saling berhadapan layaknya musuh yang siap bertarung. 


Hening 


Ayu enggan masuk ke dalam mobil. Ego nya masih tinggi dan belum rela menerima tawaran Angga, namun ia tak bisa lepas dari pria itu karena ketiga anaknya sudah berada dalam genggaman. 


''Baiklah, untuk kali ini kamu menang. Lain kali aku tidak akan mengizinkan mu menemui anak-anak lagi,'' ucap Ayu ketus. 


Angga membuka pintu bagian depan lalu mempersilahkan Ayu masuk. 


Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang. 


Sedikitpun Angga tak takut dengan ancaman Ayu, justru ia akan menunjukkan ketulusan nya yang sangat besar. 


Seperti permintaan anak-anak, mobil berhenti di pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Layaknya keluarga bahagia. Mereka masuk saling beriringan. Angga menggendong Adiba, sedangkan Hanan bergandengan dengan Harini. Ayu menuntun Alifa. 


''Kita kemana dulu?'' tanya Angga menunjuk beberapa toko yang ada di lantai satu. 


Hanan menunjuk ke arah wahana permainan yang ada di samping kanan. 


Tanpa banyak berpikir, Angga menggiring mereka ke sana. Ini pertama kali ia harus berperan sebagai seorang ayah. Meskipun statusnya masih tahap pendekatan. 


''Apa kamu belum percaya kalau aku benar-benar ingin menjadi ayah mereka?'' Angga menghampiri Ayu yan nampak cemberut. 


''Belum,'' jawab Ayu singkat. 


''Bukti apalagi yang kamu inginkan?'' tanya Angga serius. Sebagai seorang pria sejati ia tak main-main dengan ucapannya.


''Sebenarnya kamu tidak perlu membuktikan apa-apa. Percuma saja, karena aku tidak akan percaya padamu,'' jelas Ayu dengan gamblang. 


Baru saja berbalik badan, Ayu melihat Ikram dan Rani berjalan ke arahnya. Mereka saling menautkan tangan layaknya pasangan romantis. 


Ayu memutar tubuhnya lagi hingga kembali bertatapan dengan Angga. 


''Bantu aku!" ucap Ayu tanpa suara. 


Angga melirik Ikram sekilas lalu tersenyum menyeringai. 


''Harus ada upahnya,'' bisik Angga menekankan. 


Dua pilihan yang sangat sulit. Jika mundur, maka Ayu harus siap dipermalukan Rani. Akan tetapi jika memilih maju, maka ia harus memberi upah pada Angga.


''Baiklah, aku akan memberimu upah,'' jawab Ayu cepat.


Angga meraih pucuk hijab Ayu dan mengikat dengan ujung kemeja nya. Pertanda mereka tak bisa dipisahkan.


''Pagi, Pak,'' sapa Ikram ramah. 


''Pagi. Ngapain kamu di sini?'' tanya Angga menyelidik. ''Kamu membuntuti aku dan Ayu?'' imbuhnya lagi. 


Ayu memejamkan matanya sejenak. Semakin kesal dengan Angga, namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena saat ini masih butuh bantuan dia. 


''Tidak, Pak. Saya hanya ingin menemani istri saya belanja,'' ungkapnya. 


Angga meraih pinggang ramping Ayu. Menggunakan kesempatan singkat itu sebaik mungkin untuk bisa menunjukkan pada Ikram bahwa mantan istri pria itu adalah miliknya.  


''Belanja saja, jangan khawatir! Anak-anak aman bersamaku.'' Menepuk dadanya, menyombongkan diri di depan Ikram. Bahwa tanpa hubungan darah ia bisa membahagiakan mereka.

__ADS_1


Merasa malu, Ikram memilih pergi dari tempat itu. 


__ADS_2