Janda Tangguh

Janda Tangguh
Jalan keluar


__ADS_3

Hanan duduk di samping Chika. Ia pun bisa melihat ketakutan di wajah gadis itu, bahkan tampak pucat pasi saat Ayu menanyakan namanya. Entahlah, apa yang terjadi setelah ini, sudah dipastikan Ayu akan melarangnya untuk berhubungan dekat dengan gadis itu. 


''Kalian yakin hanya berteman saja?'' tanya Ayu memastikan kembali. 


Dari sorot matanya sudah nampak mengintimidasi. 


Chika dan Hanan saling tatap kemudian mengangguk bersamaan. 


Bibirnya terkunci tak berani membuka suara. Seolah Ayu adalah polisi yang menginterogasi perampok yang tertangkap. 


Angga menepuk pelan tangan sang istri. Menyungutkan kepalanya ke arah Chika yang menunduk. 


''Chika,'' panggil Ayu dengan suara lembut, namun bak monster di telinga sang gadis. 


''Iya, Tante,'' jawab Chika cepat-cepat. 


Tidak ingin membuat Ayu marah ataupun salah menilainya. 


''Tante tahu kamu anak baik. Sekarang kamu jawab yang jujur,'' tanya Ayu mulai ke inti. 


Chika mengangguk. Memasang telinganya untuk mendengar pertanyaan Ayu supaya tidak salah menjawab. 


''Apa kamu menyukai Hanan?'' tanya Ayu menyelidik. 


Aku harus jawab apa. Kalau bohong pasti tante Ayu marah, tapi kalau jujur, Hanan tahu dong perasaan aku. Kenapa tante Ayu gak tanya Hanan sih?


Keringat dingin bercucuran menebus pori-pori. Gugup melanda hingga mampu membuat gadis itu terpaku.


Angga berdehem memecahkan keheningan yang terjadi. Sebagai seseorang yang juga pernah di posisi Hanan dan Chika, ia paham dengan mereka. 


''Hanan apa kamu menyukai Chika?'' 


Loh kok jadi aku? Bagaimana ini? Aku sudah janji pada mama gak akan pacaran sebelum lulus nanti, tapi kenyataannya aku suka sama Chika. 


Sama seperti Chika, ia pun di ambang kebingungan. 


''Ayo jawab! Atau mama akan melarang kalian berhubungan lagi.''


''Iya, Tante. Saya menyukai Hanan.''


''Iya, Ma. Aku menyukai Chika.''


Hati Chika dikelilingi kupu-kupu, akhirnya cinta nya tak bertepuk sebelah tangan. Meskipun banyak rintangan kokoh, setidaknya tahu isi hati pria yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


Mereka menjawab serempak. Seolah memang sudah kompak untuk mengutarakan isi hatinya.


Angga menahan tawa. Ia pun bisa apa, selain memberi restu pada mereka yang saat ini di mabuk cinta monyet. 


Ayu menarik napas dalam-dalam. Sebagai seorang ibu harus mengambil keputusan yang tegas pada mereka yang belum waktunya untuk menjalin asmara. 


''Sebenarnya mama gak suka kalian berhubungan dekat. Mama hargai perasaan kalian. Mungkin ini akan terdengar kejam. Tapi maaf, untuk saat ini mama belum bisa merestuinya. Kalian gak boleh pacaran sebelum lulus kuliah nanti,'' tegas Ayu.


Hanan bahkan sudah tahu itu pasti akan terjadi jika hubungannya bocor, namun ia juga harus menghargai keputusan sang mama demi kebaikan semuanya. Termasuk cita-citanya. 


''Iya, Ma. Aku ngerti. Tapi aku dan Chika boleh kan berteman?'' tanya Hanan penuh harap. 


''Aku janji gak akan jalan-jalan dengan Chika kecuali karena tugas atau yang berhubungan dengan sekolah,'' pinta Hanan.


Ayu mengangguk setuju. 


''Kamu gak marah sama tante, kan?'' tanya Ayu pada Chika. 


Chika mengangguk. Bibirnya masih terlalu kelu untuk berbicara. 


''Makasih ya, tante harap kamu ngerti. Tante hanya gak mau kalian gak fokus dengan sekolah. Masa depan kalian itu masih panjang. Jadi jangan buang-buang hanya untuk sesuatu yang gak berguna,'' tutur Ayu panjang lebar. 


''Iya. Ma.'' Hanan dan Angga serempak. 


''Kapan kita ke rumah Irma?" Angga melihat jam yang melingkar di tangannya.


''Sekarang lah, nanti dia nungguin.''


Ayu merapikan jilbabnya lalu menyangklong tas yang ada di pangkuannya.


''Kamu naik apa, Chik?'' tanya Ayu pada Chika yang masih betah duduk. 


''Naik taksi, Tante,'' jawab Chika jujur. 


''Pulang bareng tante aja. Hanan masih banyak pekerjaan, tu kamarnya kayak kapal pecah belum di beresin,'' ajak Ayu. 


Chika langsung setuju dan mengikuti langkah Ayu, sedangkan Hanan hanya bisa melihat mereka yang mulai menjauh. 


Angga mendaratkan mobilnya di depan rumah Irma. Tak seperti biasanya yang dipenuhi penjaga dan pelayan, rumah itu nampak sepi tak berpenghuni, bahkan gerbangnya pun tertutup rapat. Tidak ada mobil satupun di garasi yang terbuka. 


''Kamu yakin Irma di rumah?'' tanya Angga ragu. Ia pikir rumah se sepi itu tak ada penghuninya.


''Sebentar, aku telpon dulu.'' Ayu mengambil ponselnya lalu menghubungi sang sahabat. 

__ADS_1


Aktif, tapi tak diangkat. 


''Kita masuk saja yuk, Mas. Mungkin dia ada di dalam.''


Angga membuka gerbang. Mereka berjalan menuju pintu depan kemudian mengetuk pintu. 


Tak berselang lama pintu terbuka lebar. Irma berhamburan memeluk Ayu dan menangis di pelukan wanita itu. 


Ayu bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya saat ini. Pasti kacau. 


''Kamu yang sabar. Pasti ada jalan.'' Ayu mengusap punggung Ikram yang bergetar hebat. 


"Di mana suamimu?" tanya Angga selanjutnya. 


"Ada di dalam, dia lagi ngurus beberapa sertifikat yang akan diserahkan ke bank." Irma melepaskan pelukannya mengusap pipinya yang dipenuhi air mata. 


"Silahkan masuk!"


Ayu dan Angga duduk di ruang tamu. Mereka bercakap kecil sembari menunggu Irma yang memanggil suaminya. 


Seorang pria gagah keluar dari salah satu ruangan diikuti Irma dari belakang. Dia adalah Rudi, mereka duduk di depan Ayu dan Angga dan langsung membicarakan masalah yang membelit. 


"Kurasa itu sangat mudah," ucap Angga menimpali. Ia sudah belajar dari beberapa kasus yang pernah ditangani. 


"Aku akan bantu kamu," ucap Angga tanpa berpikir panjang. 


"Benarkah? Tapi ini butuh dana yang sangat besar, Tuan," ucap Rudi memastikan. 


Ya, walaupun Angga harus membatalkan pembangunan resort yang kedua di pulau cinta, tidak masalah yang terpenting saat ini bisa membantu seseorang yang membutuhkan bantuannya. 


"Gak papa, nanti aku akan mengurus semuanya." Kamu datang ke kantor dan aku akan mempertemukanmu dengan pengacara yang akan mengurus semuanya," ucap Angga menjelaskan. 


Ayu bisa melihat senyum kecil di sudut bibir Irma. Meskipun semuanya belum tuntas setidaknya ada harapan untuk bisa bangkit lagi. 


Selain membahas pasal bisnis, Ayu dan Angga juga menceritakan masalah pribadinya saat bulan madu. Cukup hangat didengar, karena masalahnya sudah berakhir di sini. Menjadi istri seorang Angga adalah kehidupan baru dengan jalan yang berbeda dari sebelumnya.


"Kamu tau gak, Mas? Pertama kali aku buka rekening itu juga dengan bantuan Irma," ucap Ayu menunjukkan kartu atm miliknya. 


"Iyakah? Kenapa gak minta bantuanku?" ucap Angga konyol. Selalu menanggapi pembicaraan itu dengan candaan versi nya. 


"Karena kamu itu laki-laki yang paling menyebalkan di muka bumi ini, jadi untuk apa minta bantuanmu," cetus Ayu. 


Mengingat awal bertemu Angga, itulah momen yang sangat menjengkelkan bagi Ayu, dimana ia harus mengantar celana segitiga ke kantor. 

__ADS_1


"Tapi sekarang ngangenin, kan?" tanya Angga menggoda. 


Ayu hanya bisa tersenyum simpul karena yang dikatakan Angga itu benar adanya. 


__ADS_2