Janda Tangguh

Janda Tangguh
Marah


__ADS_3

Di ruang makan rumah Ikram suasana Hening. Hanya dentuman sendok dan piring yang terdengar. Sesekali Ayu melirik ke arah Rani yang terus menawari Angga makanan. 


"Sudah.'' Angga menahan tangan Rani yang hampir meletakkan lauk di piringnya. 


"Kamu makannya sedikit lo, Mas,'' tegur Rani pada Angga. 


Ikram meletakkan sendok dan garpu. Menatap Ayu dan Angga. Selama makan ia pun mengambilnya sendiri, namun Rani malah melayani Angga yang notabene nya adalah tamu undangan. 


''Aku sudah biasa makan sedikit,'' jawab Angga diiringi dengan senyuman. 


"Oh iya, jam berapa kalian ke rumah sakit?'' tanya Angga memecahkan keheningan. 


Ayu dan Ikram saling diam. Mereka bergulat dengan pikiran masing-masing. 


"Jam delapan,'' jawab Rani tanpa meminta persetujuan Ikram. 


"Baiklah, aku akan ikut. Aku Akan memastikan keadaanmu baik-baik saja.'' Angga melanjutkan makannya tanpa menoleh ke arah Ayu. 


Apa dia marah karena tadi. Tapi kenapa harus berubah seperti itu  segala sih. 


Hati ayu merasa kesal. Namun, ia mencoba tetap tersenyum dan pura-pura tidak terjadi apapun.


Harini dan Adiba datang. Mereka terus tertawa sambil berlarian di ruang depan. Ayu meninggalkan meja makan dan bergabung dengan Harini, sedangkan Angga masih berada di tempat dengan Rani dan Ikram. 


"Adiba makin pintar ya, Yu. Aku jadi kangen liburan dengan kalian,'' ucap Harini memangku Adiba. 


Ayu merapikan rambut si bungsu. "Iya, Mbak. Mereka harus belajar mandiri seperti ibunya. Mungkin setelah ini aku akan lebih giat lagi bekerja. Apalagi Hanan membutuhkan biaya yang lumayan besar.'' 


Angga bisa mendengar ucapan Ayu, namun ia tak menimpali dan memilih sibuk bicara dengan Rani dan Ikram. 


"Kamu perempuan yang kuat, Yu. Mbak yakin kamu bisa melewati ini semua. Jangan pernah menyerah. Allah pasti akan mendengar semua doa doamu.''


Angga mempercepat kunyahan nya dan meneguk air putih. Tanpa disadari ia menyenggol tangan Rani hingga gelas yang ada di tangannya terjatuh dan pecah. 


Suara yang nyaring membuat Harini dan Ayu menoleh. Mereka menghampiri Angga yang nampak membersihkan celana. 


"Maaf, Mas. Aku gak sengaja.'' Rani mengambil lap lalu mengelap celana Angga.

__ADS_1


"Gak papa.'' Angga mencoba mencegah tangan Rani, namun wanita Itu tetap kekeh dan terus membersihkan bajunya sambil terus mengucapkan kata maaf. 


Ayu yang melihatnya pun hanya berpaling. Hatinya terasa nyeri melihat Angga yang nampak menikmati sentuhan dari Rani. 


"Mama pulang.'' Pinta Adiba menarik baju Ayu. 


"Iya Sayang, sebentar lagi kita pulang.'' 


Angga langsung beranjak dari duduknya menghampiri Ayu dan Adiba. 


"Mau pulang sekarang?'' tanya Angga memeriksa layar ponselnya. 


"Aku bisa pulang sendiri, kamu gak usah repot-repot antar aku.''


Tanpa menjawab, Angga menggendong Adiba dan membawanya keluar. 


"Tunggu, Mas,'' teriak Rani dari meja makan. 


Angga menoleh menatap Rani yang berjalan ke arahnya. 


"Maafkan aku, Mas. Saat ini gak ada orang yang membuatku nyaman selain kamu. Aku tahu ini salah, aku tahu sudah punya suami, tapi aku mohon bantu aku untuk mengingat semuanya.'' 


"Iya, gak papa. Aku akan bantu kamu sampai sembuh.''


Mendengar ucapan Angga membuat Rani sedikit tenang dan tak cemas seperti hari yang lalu. 


Rani melambaikan tangannya ke arah Angga yang berjalan menuju pintu.  


Senyum merekah menghiasi bibirnya bagaikan gadis yang menemukan pujaan hatinya. 


"Bukannya aku melarang kamu dekat dengan Angga,'' cetus Ikram tiba-tiba mengejutkan Rani yang masih tenggelam membayangkan kebaikan Angga.  


''Tapi kamu harus jaga jarak dengan dia. Kamu istriku, sedangkan Angga adalah calon suami Ayu, kamu harus tahu posisi dia.'' Ikram mengingatkan, namun itu tak membuat Rani luluh justru ia menangis  tanpa sebab. 


"Aku ini belum mengenal siapapun, Mas. Dan aku rasa mas Angga bisa membantuku. Kenapa gak boleh?''


Ikram merengkuh tubuh Rani dan menenangkannya. "Bukan gak boleh, tapi kamu harus tahu kalau dia sudah milik orang lain,'' jelas Ikram. 

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju ruamah, Ayu hanya diam. Sedangkan Angga pun sama. Mereka hanya membuka suara saat Adiba mengoceh, selebihnya membisu bagaikan orang asing yang tak saling kenal. 


"Besok aku gak datang ke rumah, mau anterin Rani ke rumah sakit,'' ucap Angga datar.


"Kamu marah?'' tanya Ayu dengan nada rendah.


"Enggak, untuk apa marah? Bukankah kamu yang menyarankan ini dan aku akan membantu Rani berobat hingga sembuh.'' 


Gak gitu juga, Mas.


Ayu hanya bisa mengucap dalam Hati. Ia tidak ingin melawan Angga yang wataknya lebih keras dan sensitif. 


"Dan mungkin aku juga akan jarang kerumahmu karena mau membantu Elisa pindahan.''


"Elisa?" ulang Ayu mengucap. 


"Kenapa? Kamu cemburu?'' cetus Angga tanpa pikir panjang. 


Elisa. Siapa yang dimaksud mas Angga. Apa dia perempuan yang dijodohkan dengan mas Angga, atau... Ah, Ayu menghentikan otaknya untuk tidak memikirkan apapun. Ia lebih memilih untuk diam dan mencoba mengusir rasa cemburu yang menyelimuti. 


"Gak papa, aku bisa nganterin anak-anak sendiri kok,'' ucap Ayu malas. Entah apa yang dipikirkan Angga, saat ini ia pun tak tahu. Yang penting tidak ingin merepotkan dan bisa melakukan apapun tanpa meminta bantuannya. 


Angga menghentikan mobilnya tanpa membukakan pintu untuk Ayu. Lantas, ia langsung melajukan mobilnya ke arah kantor tanpa ada adegan perpisahan seperti biasanya. 


"Segitunya kamu marah padaku, Mas. Niatku baik, tapi kalau kamu menganggapnya salah terserah. Inilah aku dan aku membebaskanmu untuk memilih siapa saja.''


Di tengah perjalanan menuju rumah tiba-tiba saja Ayu teringat pada seseorang. 


Rambutnya yang sering dikuncir kuda itu kembali melintas seolah mengingatkan masa kecilnya yang jauh dari kata bahagia. Masa yang seharusnya dipenuhi dengan kebahagiaan justru dibelenggu oleh sebuah penderitaan karena sebuah perbedaan.


Perbedaan antara keduanya membuat keluarga Ayu dikucilkan dan tak dianggap hingga mereka memilih untuk pergi. Meninggalkan keluarga besarnya demi mendapatkan hidup yang layak.


Seandainya kamu ada di sini pasti heran kalau anakku sudah tiga. Padahal kita sudah berencana akan menikah di umur dua puluh lima tahun. Apa sekarang dia sudah menikah atau sama sepertiku?


Gak mungkin Elisa yang dimaksud Mas Angga adalah Elisa saudaraku. 


Lagi-lagi Ayu menepis semua angan-angan yang sulit terjadi. Ia langsung pulang mengeluarkan motornya untuk menjemput Alifa dan Hanan. 

__ADS_1


Disaat motor Ayu sudah ada di depan, ia baru sadar bahwa motornya bocor dan tak bisa ditumpangi.  


"Astagfirullah, pasti nanti terlambat lagi". Ayu menghubungi guru sekolah untuk menemani Hanan dan Alifa sebelum ia sampai. Ayu menuntun motornya menuju bengkel dan sebelum membawanya untuk menjemput anak-anak. 


__ADS_2