
"Ini semua salahku, Ma. Andai saja aku memaafkan papa mungkin kecelakaan ini gak akan terjadi," ucap Hanan penuh penyesalan.
"Gak ada yang salah, jangan terus menyalahkan diri sendiri," jawab Ayu mengusap punggung Hanan yang naik turun.
"Aku gak mau papa meninggal, Ma. Aku gak akan bisa maafin diriku sendiri, aku sangat menyayanginya." Melepas pelukannya dan menatap wajah Ayu dengan intens.
Ayu ikut berlinang air mata melihat putranya itu runtuh. Tak menyangka di balik kebencian yang setiap kali diutarakan menyimpan berjuta kasih sayang yang terpendam.
"Mama yakin papa akan baik-baik saja. Kamu gak dengar tadi dokter bilang kalau papa sudah melewati masa kritis nya?" ucap Ayu menenangkan.
Hanan mengusap kedua pipinya. Benar apa kata sang mama, Ikram pasti akan baik-baik saja seperti harapannya.
Pintu kembali dibuka dari arah dalam. Ayu dan Hanan mendekati dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan papa, Dok?" tanya Hanan antusias.
Dokter pria itu tersenyum tipis ikut menepuk lengan Hanan yang nampak kacau. "Tenang saja, pasien bisa diselamatkan. Tapi lukanya masih harus dirawat secara intensif."
"Alhamdulillah," ucap Ayu dan Hanan serempak. Mereka mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Setidaknya ia bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dokter.
"Apa saya bisa menjenguknya, Dok?" tanya Hanan menatap Ikram yang berbaring di atas brangkar.
"Silakan! Tapi jangan diganggu dulu, biarkan dia istirahat."
Sebelum masuk ke dalam Angga datang. Pria itu tak jauh beda dengan Hanan dan Ayu, ikut panik saat mendengar kabar tentang kecelakaan yang dialami Ikram.
"Kamu gak papa, kan?" tanya Angga pada Hanan.
"Aku baik, Pa." Memeluk Angga lalu masuk ke dalam.
Sementara Ayu dan Angga menunggu di luar.
"Maaf. Aku terlambat, tadi ada meeting penting," ucap Angga merasa bersalah.
Ayu hanya menjawab dengan gelengan kepala. Kasihan juga pada Angga yang harus sibuk mengurus urusannya.
Mereka duduk di kursi besi yang mengkilap di depan kamar di mana Ikram dirawat.
Hanan menghampiri brankar kemudian duduk di samping nya. Menatap sekujur tubuh Ikram yang dipenuhi dengan luka, terutama di bagian kepala dan wajah.
__ADS_1
"Maafkan aku, Pa. Aku janji tidak akan cuek lagi sama papa," ucap Hanan lirih.
Meraih tangan Ikram dan menggenggamnya.
Kini otak dan hatinya tak lagi berlawanan dan akan menerima Ikram sepenuhnya. Membuang ego yang selama ini menyelimutinya.
Ruangan yang dominan dengan bau obat-obatan itu terasa mencekam bagi Hanan, ada rasa takut yang mulai melanda. Takut Ikram meninggalkan sebelum mereka saling memaafkan. Pasti penyesalan itu tak akan bertepi.
"Apapun akan aku lakukan asal kan papa bisa sembuh," imbuhnya serius.
Angga dan Ayu yang ada di depan pun ikut cemas dengan keadaan Ikram.
"Aku akan menghubungi mbak Harini."
Ayu mengambil ponselnya dari tas. Lalu menelpon Harini yang dua tahun ini kembali tinggal di luar negeri bersama suaminya.
Mereka bercakap tentang keadaan Ikram sekarang, dan berharap saudara satu-satunya itu cepat datang.
"Apa kata mbak Harini?" tanya Angga.
"Mbak Harini akan segera datang. Menunggu mas Joseph pulang, katanya di luar kota."
Angga manggut-manggut mengerti. Terpaksa ia membatalkan acara hari ini untuk menjelaskan pada Alice tentang hati pernikahannya demi sang putra yang dirundung kesedihan.
"Kok Hanan lama ya? Dia lagi ngapain, jangan-jangan tidur di dalam." Angga beranjak dari duduknya. Mendekati pintu yang tertutup rapat.
Ia membuka pintu lalu masuk, diikuti Ayu dari belakang.
"Sudahlah, kamu jangan sedih lagi. Dokter kan sudah bilang kalau papa gak kenapa-napa. Sebentar lagi pasti sadar." Ayu mengusap bahu lebar Hanan dengan lembut.
"Iya, jangan terlalu larut, nanti papa Ikram juga gak suka kalau kamu seperti ini," imbuh Angga dari samping.
"Tapi ini semua salahku, Ma Pa. Andai saja aku memaafkan papa, mungkin dia gak akan kecelakaan seperti ini," ucap Hanan merasa bersalah.
Tak berselang lama, Adiba dan Alifa datang diantar oleh Ais. Mereka berhamburan naik ke atas ranjang dan duduk di samping ikram.
"Papa kenapa, Ma?" tanya Alifa menyentuh luka kecil di bagian lengan.
"Papa sakit, Nak. Adiba dan Alifa berdoa saja supaya papa cepat sembuh."
__ADS_1
Kedua putri Ayu segera menengadahkan tangan dan berdoa seperti permintaan sang mama. Begitu juga dengan Hanan, Ayu dan Angga mereka mengamini setiap lantunan doa dari Alifa.
Baru saja terdiam, Ikram membuka mata perlahan. Pemandangan yang luar biasa menyongsong kesadarannya dari mimpi buruk.
Bibirnya tertarik membentuk senyum. Di tengah rasa sakit yang dahsyat ada sebuah anugerah yang amat besar. Tak pernah menyangka ia dikelilingi orang-orang tercinta.
"Papa," seru Hanan pertama kali.
Membungkuk memeluk Ikram, kedua adiknya pun melakukan hal yang sama.
Cairan bening berlinang membasahi pelipis Ikram. Kenangan demi kenangan terbesit kembali di benaknya. Selalu mengingatkan pada masa lalu itu.
"Maafkan papa," ucap Ikram dengan suara lirih bahkan hampir tak terdengar.
Kedua tangannya bergerak memeluk kedua putrinya serta Hanan. Kehadiran mereka seolah menjadi obat yang paling manjur di antara obat lainnya.
"Gak perlu minta maaf, Pa. Cepat sembuh," ucap Alifa mencium pipi Ikram, diikuti Adiba yang melakukan hal sama.
Ayu dan Angga pun ikut tersenyum melihat kondisi Ikram yang mulai membaik. Itu artinya hati Hanan pun semakin tenang.
"Mama keluar dulu ya, Kalian puas-puasin bicara dengan papa," pamit Ayu kemudian pergi meninggalkan ketiga anaknya yang bergelayut manja pada Ikram.
"Setelah ini kita jadi pergi kan, Pa?" tanya Hanan pada Angga yang hampir membuka pintu.
Angga mengangguk mengangkat jempolnya tanda setuju.
Ayu mengerutkan alis melihat tingkah mereka berdua yang masih suka main kucing-kucingan di belakangnya.
"Kamu dan Hanan ada janji apa sih, Mas?" tanya Ayu menyelidik.
Gawat, kenapa Ayu tanya segala sih, nanti kalau bilang ke dia pasti Hanan marah, tapi kalau gak bilang dia kecewa.
Angga di ambang kebingungan. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini urusan anak muda, Sayang. Kamu gak usah ikut ikutan." Angga merangkul pundak Ayu, namun alasan itu malah membuat calon istrinya marah.
"Kamu menganggap ku tua." Ayu mengucap dengan nada tinggi hingga beberapa suster yang melintas ikut menoleh.
Angga menggeleng cepat. "Bukan begitu, maksudku ini urusan laki-laki, jadi kamu gak akan ngerti," ralat Angga meyakinkan.
__ADS_1
"Terserah, yang penting tidak membuat Hanan ngelunjak ya, Mas. Aku gak mau dia ketergantungan sama kamu," terang Ayu panjang lebar.
"Siap, aku gak akan ngecewain kamu dan anak-anak."