Janda Tangguh

Janda Tangguh
Bantuan


__ADS_3

''Nyonya Nanda cuma syok saja. Mungkin ada kejadian yang membuatnya terkejut. Tekanan darahnya sedikit naik, tapi masih lumayan normal,'' ucap Dokter yang baru saja keluar dari ruangan.


''Alhamdulillah.''


Melati mengusap kedua pipinya yang masih dipenuhi air mata. Kembali, memeluk Ikram yang ada di sampingnya. Hanya berada di dekapan pria itu bisa membuatnya tenang dan melebur sedikit kecemasan. Tak ayal, jika setelah menikah ia lebih baik dari sebelum nya, pun mereka juga sama-sama merawat ibunya.


''Itu artinya tidak ada yang dikhawatirkan kan, Dok?'' Ikram kembali memastikan keadaan sang mertua.


''Iya, Tuan. Beliau baik-baik saja. Mungkin besok juga bisa pulang, tergantung tekanan darahnya.'' Dokter kembali menjelaskan.


Ikram mengusap lembut punggung Melati yang masih bergetar naik turun. Menenangkan untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan. Sebagai suami, kini ia harus lebih peka. Memberikan perlindungan dan kehangatan di setiap ada masalah dalam keluarganya. Tidak ingin gagal untuk yang kesekian kali.


''Makasih, Dok,'' jawab Ikram lega.


''Kamu sudah dengar penjelasan dokter, kan? Sekarang tenanglah, ibu baik-baik saja. Dia sudah berjanji akan menimang cucu nya nanti,'' canda Ikram berbisik yang membuat Melati terkekeh.


''Bagaimana keadaan oma?'' suara Angga membuat Melati dan Ikram terkejut.


Mereka melepaskan pelukannya dan mendadak gugup, malu karena sudah berpelukan di depan umum.


''Alhamdulillah, ibu baik-baik saja, cuma butuh dirawat sebentar nanti juga bisa pulang.'' Ikram yang menjawab, sedangkan Melati menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang sedikit merona.


Ayu pun ikut lega dan memeluk Melati seperti yang dilakukan pada Ikram.


''Oh ya, aku dengar Ayu hamil lagi, selamat.'' Ikram mengulurkan tangannya di depan Angga yang langsung diterima pria itu.


Angga tersenyum. Meraih pinggang Ayu dan mendekapnya. Memamerkan kemesraanya yang tak pernah terkalahkan oleh pengantin baru di depannya itu.

__ADS_1


''Anak kami kembar.'' Mengusap perut Ayu dengan lembut dan lama.


Ikram bisa melihat pancaran kebahagiaan di mata Ayu. Wanita itu jauh lebih berbeda dari sebelum nya. Wajahnya terlihat semakin muda dan cantik. Namun apa daya, kini ia hanya orang lain yang tak bisa menyentuhnya, apa lagi menggenggamnya.


''Selamat ya, aku juga pengen cepat menyusul.'' Melati pun mengusap perutnya lalu tertawa kecil.


''Sabar, pasti kita pun akan segera memiliki momongan,'' timpal Ikram menimpali.


Bu Nanda sudah dipindahkan ke ruang rawat. Melati masuk ke ruangan menemani sang ibu yang masih nampak lemah, begitu juga dengan Angga dan yang lain.


''Aku mau bicara denganmu, Mas. Ini tentang Hanan,'' ucap Ayu pada Ikram yang didengar langsung oleh Angga dan Melati.


Ikram mengangguk dan keluar lebih dulu. Sementara Ayu berpamitan pada sang suami yang nampak sibuk membantu Melati menyuapi bu Nanda makan.


Ayu dan Ikram berdiri bersejajar menatap ke arah yang sama. Mereka saling tersenyum lalu mengalihkan pandangan.


Seolah tak akan pernah lupa dengan perjalanan panjang yang mereka lewati bersama. Siang malam selalu bersama dan berbagi kasih untuk membesarkan anak-anak. Pernah berjanji akan selalu bersama dalam satu ikatan. Nyatanya, mereka memang tak bisa menerjang badai yang begitu kuat dan besar hingga memilih untuk berpisah dan hidup masing-masing. Melepaskan ikatan suci di hadapan Allah yang berkuasa atas segala-galanya.


''Itulah jodoh, Mas. Aku berterima kasih selama sepuluh tahun kamu menjagaku dan anak-anak. Kamu mengorbankan dirimu mencari nafkah untuk aku dan mereka. Sekarang cintailah Melati. Aku tidak mau dia tersakiti seperti aku dulu karena kamu lebih memilih perempuan lain,'' kata Ayu menohok.


Ikram tersenyum kecut mengingat semua kesalahan yang berawal darinya yang tak mampu menahan nafsu. Dari itulah ia menahan sakit hati dengan apa yang dikatakan Ayu.


''Sekarang Hanan sudah mulai jatuh cinta, Mas. Aku bingung menasehatinya dengan cara bagaimana. Serba salah. Dikasarin kasihan, di lembutin aku takut dia salah paham. Aku mohon bantuanmu,'' ucap Ayu ke inti.


Ikram menoleh ke arah Ayu yang menatap jauh kedepan dan tersenyum. Di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun memang belum saat nya untuk menjalin asmara, namun ia memaklumi apa yang terjadi pada putranya.


''Bantuan apa, aku bukan ayah yang baik. Yakinlah apa yang menurutmu baik juga baik buat dia. Aku yakin kamu bisa. Bukan aku lepas tangan, Yu. Tapi aku takut salah langkah. Selama ini aku hanya memikirkan egoku saja, tak peduli pada mereka. Dan sekarang aku baru belajar menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita dan juga anakku nanti. Tapi aku akan berusaha menasehatinya.'' Ikram menundukkan kepala, malu.

__ADS_1


Sebagai orang tua ia pun seolah belum bisa memposisikan pada tempat yang seharusnya dan lebih memenangkan emosi dan ambisi. Bahkan, mengandalkan amarah untuk mengendalikan anak-anaknya. Mengutamakan emosi daripada kelembutan. Jauh berbeda dengan Ayu yang melakukan sebaliknya saat menghadapi anak-anak. Sekarang ia menyadari bahwa tidak semuanya harus dihadapi dengan kekerasan namun juga dengan kelembutan dan kesabaran.


''Makasih, semoga Melati juga cepat hamil.'' Ayu tersenyum. Berharap wanita itu juga menyusulnya supaya Ikram bisa membuktikan ucapannya.


''Sayang,'' teriak suara berat dari arah belakang.


Ayu menoleh lalu meninggalkan Ikram. Menghampiri masa depannya yang menyambut penuh dengan cinta dan kasih sayang.


''Sudah selesai bicaranya?'' Menatap Ikram yang menyusul sedikit jauh.


''Sudah. Aku hanya meminta mas Ikram ikut menasehati Hanan, itu saja. Mulai sekarang dia harus tahu perkembangan anak-anaknya,'' ucap Ayu jujur.


Angga manggut-manggut meraih tangan Ayu dan menggenggamnya. Kembali, menunjukkan kemesraannya di depan Ikram.


''Aku harus segera balik ke kantor, kata Wendi ada tamu dari Jepang.'' Angga menatap Ikram yang masih berdiri di samping nya.


''Jaga Melati dengan baik. Aku tidak mau dia tersakiti lagi seperti dulu.'' Menepuk pundak Ikram, berharap penuh pada pria itu atas kebahagiaan sang sepupu.


Angga dan Ayu meninggalkan rumah sakit. Mereka langsung kembali ke kantor karena setelah ini akan makan malam bersama tanpa anak-anak. Mungkin dengan begitu Ayu akan lebih happy dan melupakan ketakutannya.


''Mas, berhenti!'' Ayu menepuk tangan Angga yang sibuk mengendalikan laju mobilnya.


''Ada apa?'' tanya Angga serius sambil mencari tempat untuk parkir.


''Aku mau beli itu.'' Menunjuk penjual mangga yang ada di pinggir jalan.


Angga ikut menoleh mengikuti jari Ayu. Nampak seorang pria tua di tepi jalan sedang menghadap dagangannya di meja.

__ADS_1


''Baiklah, aku akan borong mangga itu untukmu, Sayang.'' Angga turun seorang diri untuk memenuhi permintaan sang istri, sedangkan Ayu menunggunya di mobil. Menanti buah tangan yang dibawa Suaminya.


__ADS_2