
Angga menghempaskan tubuhnya di kursi rumah Ayu. Hanan keluar dari kamarnya dan duduk di bawah kaki pria itu.
''Mama belum pulang, Pa,'' ucap Hanan pelan.
Angga mengangguk karena sebelumnya ia sudah menghubungi Ayu dan katanya masih perjalanan menuju rumah.
''Papa tahu, kok. Hanan sudah makan?'' tanya Amgga mengacak rambut tebal sang buah hati.
''Sudah, adik-adik juga sudah kok. Apa Papa mau aku siapin makanan juga?'' tawar Hanan serius.
Angga tersenyum, matanya memang terpejam akan tetapi ia bisa mendengar ucapan dari Hanan.
Ayu masuk bersama dengan Adiba. Meletakkan beberapa oleh-oleh dari Irma di atas meja.
''Pijitin papa, Nak!'' suruh Ayu pada Alifa dan Adiba agar membuka mata, kemudian memeluk ketiga anak Ayu secara bersamaan. Menciumi mereka bertubi-tubi. Menatap Ayu dengan tatapan nanar.
Angga terlihat lemah, seakan tidak ada semangat sedikitpun untuk melakukan sesuatu, bahkan pulang saja Angga tak sanggup. Ia menepuk kursi kosong yang ada di sisinya. Mempersilahkan Ayu untuk duduk. Pekerjaan memang sangat penting, akan tetapi hubungan juga lebih utama.
''Ada apa, Mas? Sepertinya ada masalah?'' tanya Ayu, ia bisa membaca raut wajah Angga yang nampak redup.
''Tepatnya bukan masalah, akan tetapi ini adalah pengorbanan.
''Pengorbanan apa?'' tanya Ayu yang belum mengerti apapun.
Angga menunduk, enggan untuk mengatakannya. Namun, ia juga tak bisa menyimpan apa yang terjadi hari ini.
''Ada tawaran bekerja di Jerman,'' ucap anggap poin pertama
''Bagus dong, itu artinya kamu bisa menunjukkan keahlian di sana. Siapa tahu ini adalah cara Allah melapangkan rizki kamu.''
Seperi digaannya, Ayu langsung setuju.
''Bukan itu yang membuat aku berat, Yu? Akan tetapi kamu dsn anak-ansk, " ungkap Angga penuh kecemasan.
''Kan kamu bisa pulang, Mas? Lagi pula jangan jadikan aku sebagai benteng kesuksesan. Kamu berhak meraih cita-cita setinggi langit. Anggap saja aku ini orang lain. Kesuksesan adalah yang utama, aku yakin kamu pasti bisa melaluinya.''
__ADS_1
Angga memberanikan diri memegang tangan Ayu. ''Aku akan di sana lima tahun, Yu. Dalam waktu itu aku tidak boleh pulang.''
Sama seperti Angga, Ayu pun merasa berat. Namun ia tetap memasang wajah yang tegar seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dalam hatinya ingin protes, itu pun percuma saja nanti hanya akan menimbulkan beban.
"Itu artinya kamu akan meninggalkan negara ini dalam lima tahun ke depan?'' Ayu memastikan dengan bibirnya gemetar. Menggulung sepuluh jarinya yang terasa dingin.
Sekarang apa yang harus ia katakan? Menolak atau menerima?
''Berikan aku jawaban. Menurut kamu apa yang harus aku lakukan?'' tanya Angga seakan memasrahkan jawaban itu pada Ayu dan dialah kunci utama dalam masalah Angga saat ini.
''Aku nggak tahu, Mas. Apapun pilihan kamu aku akan tetap mendukung, tetapi jangan sampai memilih keputusan yang membuat kamu rugi. Harta memang bukan soal cerminan untuk kita bahagia, tapi aku yakin kalau kamu pasti bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tidak hanya masalah pribadi, akan tetapi bisnis kamu.
Yakinlah pada diri kamu sendiri. Ikuti kata hatimu, dimanapun kamu berada, aku akan selalu ada di belakangmu.''
Angga menitihkan air mata. Ini pertama kali ia merasakan hatinya begitu berat untuk meninggalkan seseorang yang bukan miliknya.
''Minta bantuan pada tante Winda, aku yakin beliau juga bisa membantumu. Doa Ibu pasti akan dikabulkan oleh Allah.''
''Apa aku boleh tidur di pangkuanmu?'' pinta Angga konyol.
''Sebentar, Mas.'' Ayu berlari ke kamar. Tak berselang lama ia keluar membawa bantal dan meletakkan di pangkuannya.
''Silakan!'' ucapnya malu-malu. Membiarkan kepala Angga bersandar di atas pangkuannya.
Angga memejamkan matanya. Setidaknya ia mendapatkan tempat nyaman untuk mengurai beban pikiran yang menyelimuti. Beberapa menit kemudian, om Surya datang. Pria itu masuk tanpa bersuara saat melihat Angga memejamkan matanya.
''Sejak kapan Angga tidur?'' tanya om Surya pada Ayu.
''Baru beberapa menit yang lalu, Om. Ada apa ke sini?'' Ayu hanya menjawab lirih, takut mengganggu Angga.
Ketiga anak Ayu hanya duduk bersejajar sembari menatap pria yang nampak gagah. Mereka terdiam.
''Ayo salim sama kakek!'' titah Ayu menyungutkan kepalanya ke arah Om Surya.
Hanan langsung melaksanakan perintah Ayu. Begitu juga dengan Alifah dan Adiba yang mengikutinya dari belakang mereka patuh dengan perintah baik dari sang mama.
__ADS_1
''Apa Angga sudah bercerita tentang pekerjaan di Jerman?'' tanya Om Surya sembari duduk di samping Hanan.
Ayu mengangguk tanpa suara.
''Kunci jawaban ada di tangan kamu, Yu. Angga akan pergi kalau kamu mengizinkan, tapi dia akan menolak Jika kamu melarangnya. Semua tergantung kamu. Berikan pilihan yang terbaik untuk dia. Jangan kecewakan keluarganya. Aku tahu ini sangat berat untuk kalian. Tapi alangkah baiknya jika kalian membicarakan ini sama-sama, kalau perlu kamu ikut saja ke Jerman dan hidup bersama Angga.''
Seketika Ayu menggeleng, tidak mungkin ia pergi sejauh itu dengan ketiga anaknya yang pasti akan menjadi beban buat Angga, itulah menurutnya.
''Aku akan mengizinkan mas Angga pergi. Dan aku akan mendoakan dia semoga sukses seperti apa yang dia inginkan,'' jawab Ayu tanpa ragu sedikitpun. Dengan begitu dia bisa tenang.
''Terima kasih ya, Yu.'' Om Surya mengusap pundak Ayu kemudian meletakkan beberapa barang di atas meja.
Hampir satu jam Angga tidur di pangkuan Ayu, ia merasa itu adalah detik-detik terakhir ia meninggalkan calon istrinya. Sebab, untuk saat ini Angga mulai merasa bahwa ia akan pergi Jerman dengan satu syarat.
''Sayang, aku mau pulang,'' pamit Angga sembari merapikan rambutnya. Menatap Ayu yang terus memukul kakinya.
''Kaki mu kenapa?'' tanya Angga menunduk ke bawah.
''Kakiku kram, Mas.''
Angga tersenyum kecil lalu meraih kedua kaki Ayu dan meletakkan di atas pangkuannya.
''Aku lupa kalau tadi tempat yang aku anggap kasur adalah kakimu.'' Ucapnya sembari tersenyum.
''Tadi om Surya ke sini.''
Angga tak menanggapi. Ia yakin kalau kedatangan pria itu untuk membujuk Ayu supaya mengizinkannya pergi ke Jerman.
''Apa kamu akan menungguku?'' tanya Angga serius.
Ayu mengangguk, sampai saat ini ia pun belum ingin menikah dan tidak ada pria lain yang mampu menembus relung hatinya kecuali Angga.
''Sekarang aku yakin akan pergi. Tunggu aku! Jika aku tidak bisa pulang, maka aku akan menyuruh om Surya untuk mengantarmu ke sana.''
Ayu hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala, karena tak mungkin ia melarang Angga yang sudah mulai bangkit dari kebimbangannya.
__ADS_1
''Sekarang pulanglah, pasti Bu Winda sudah menunggu.'' Ayu merapikan rambut Angga yang lumayan acak-acakan.