
"Selamat datang tuan Louis.'' Angga berjabat tangan dengan pria yang berambut putih itu.
Di sebuah restoran ternama ia menerima undangan dari salah satu pengusaha di Jerman. Tak hayal, namanya dikenal oleh seluruh kalangan.
Sebagai pengusaha muda Angga adalah salah satu klien terbaik bagi mereka.
''Silakan duduk!''
Tuan Louis duduk bersama dengan tamu lainnya. Karena dadakan, ia tak bisa menyambutnya dengan sebuah pesta, akan tetapi Angga sudah menyiapkan penginapan yang istimewa untuk pria tersebut dan beberapa staff yang ikut dalam pertemuan itu.
''Ada apa Tuan datang ke sini?'' tanya Angga ke inti. Karena ia belum tahu tujuan Tuan Louis datang ke perusahaannya.
''Maaf, Tuan. Ini memang mendadak. Sebenarnya tujuan saya datang ke sini ingin mengajak Anda bekerja sama.''
Angga tertawa. Bukankah mereka sudah saling bekerja sama beberapa tahun terakhir. Tapi kenapa Tuan Lois mengatakan seperti itu?
''Maksud saya ada proyek besar di Jerman. Pembangunan ini membutuhkan dana yang sangat besar. Siapa yang berani mengambilnya, saya pastikan dia akan menjadi milyader di tahun kemudian.'' Tuan Louis membuka beberapa sertifikat, juga beberapa file map dan dokumen-dokumen di depan Angga kemudian menjelaskan isi dari formulir-formulir tersebut.
''Maksud anda 5 tahun harus berada di Jerman?'' tanya Angga memastikan.
''Benar, Tuan. Saya hanya mencari orang yang serius dan handal seperti Tuan, dan yang penting belum punya istri atau memang tidak punya istri. Karena saya rasa mereka akan fokus pada pekerjaan bukan yang lain.''
Angga menutup semua file itu dan menumpuknya dengan rapi. Menatap beberapa orang yang ada di hadapannya bergantian. Satu persatu dari mereka memang nampak serius dan penuh harap padanya, akan tetapi Angga merasa berat jika harus meninggalkan Ayu serta anak-anaknya. Meskipun belum sah menjadi suami istri, tetap saja meninggalkan mereka lama seakan meninggalkan jiwa raganya di tempat yang jauh dan hanya nyawanya saja yang melayang.
__ADS_1
''Maaf, Tuan. Tapi saya tidak bisa menerimanya. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.'' Angga menangkap kedua tangannya di depan Tuan Louis. Dalam hati merasa tidak enak karena sudah mengecewakan, akan tetapi banyak hal yang dia pikirkan. Selain Ayu dan anak-anak ia juga punya tanggung jawab besar pada mamanya.
''Sayang sekali, tuan adalah satu-satunya orang yang saya tunjuk. Berikan satu alasan kenapa Tuan menolak ini? Jangan bilang kalau ini hanya karena seorang perempuan. Karena Anda bisa membawanya ke sana.''
Angga tak perlu berpikir kedua kali karena Ayu pasti menolak. Bahkan seandainya Ayu mendengar itu mungkin akan mendorongnya untuk menerima, akan tetapi Angga enggan untuk pergi seorang diri.
''Sekali lagi saya mohon maaf karena tidak bisa menerima ini.'' dengan tegas Angga menolak.
''Tolong pikirkan lagi, karena kesempatan tidak datang dua kali,'' desak Tuan Louis.
Angga mengangguk, seolah-olah ia akan berpikir, padahal dalam hatinya sedikitpun tidak ada niat untuk pergi ke sana.
Angga meninggalkan restoran dan langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Hatinya sekarang bimbang, bukan karena sudah menolak pekerjaan dari Tuan Louis. Akan tetapi tentang pernikahannya yang masih diambang keraguan.
Angga tahu apa yang akan ia dapat jika menerima proyek itu. Pasti sebuah kekayaan yang tidak bernilai. Bahkan ia bisa menjadi orang yang tersohor di seluruh penjuru, akan tetapi nama Ayu adalah segala-galanya dan tidak mungkin ia meninggalkan wanita itu dalam kurun waktu yang sangat lama.
Angga memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Ia turun dan langsung masuk, karena hari ini tidak hanya Tuan Louis yang datang, tapi om Surya juga datang ke kantor untuk membicarakan tentang beberapa proyek yang ada di luar kota.
''Baru datang tapi wajahnya kok lesu?'' tegur om Surya yang sudah berada di ruangan Angga.
''Iya, Om,'' jawab Angga singkat. Ia duduk di kursi kebesarannya. Membuka laptop. Meskipun pikirannya masih melayang ia mencoba untuk fokus pada hari ini dan akan bekerja dengan baik.
''Aku dengar ada tawaran kerja dari Tuan Louis. Kenapa kamu menolaknya?''
__ADS_1
''Om sudah dengar?'' Angga memijat pelipisnya.
Memang tidak sembarang orang yang akan ditawari pekerjaan seperti itu, hanya orang-orang yang penting dan ternama seperti dirinya lah yang mempunyai kesempatan. Sungguh, itu membuatnya sakit kepala.
''Aku nggak mau ninggalin Ayu, Om. Lima tahun itu waktu yang sangat lama. Mana mungkin bisa aku jauh darinya? Nanti aku karatan.''
Om Surya tertawa terbahak-bahak melempar Angga menggunakan beberapa bunga yang ada di meja. Sungguh, keponakannya itu terlalu mesum dan tidak bisa membayangkan bagaimana kalau nanti malam pertama dengan Ayu. Pasti wanita itu tidak bisa berkutik lagi menerima sentuhan dari Angga.
''Jangan terlalu lebay, Ga. Aku yakin seandainya Ayu tahu pasti dia setuju. Lagi pula itu cuma lima tahun saja.'' Om Surya pun juga membujuk.
''Gak, Pokoknya aku nggak mau, titik. Kalau mau silakan Om yang datang.'' Bersikeras Angga menjelaskan bahwa ia benar-benar tidak ingin pergi ke Jerman hanya untuk bekerja. Baginya perusahaan itu sudah cukup membahagiakan mamanya, Ayu dan anak-anak. Tidak perlu lagi ada pekerjaan lain.
''Tapi sayang banget loh, Ga. Kesempatan emas ini nggak mungkin ada dua kali, kalau nanti kamu sukses ini juga bukan hanya untuk kamu, tapi untuk Ayu dan anak-anak. Mereka pasti bahagia dengan keberhasilan kamu. Sekarang aku yakin Ayu akan mendukung dan berdoa untuk kamu.'' Angga memejamkan matanya.
Ia tidak bisa berpikir apa-apa. yang ada di dalam otaknya hanya Ayu Ayu dan Ayu. Tidak ada yang lain lagi.
''Aku akan pikirkan lagi.'' Angga membolak-balikkan hatinya.
''Om tunggu keputusan dari kamu. Semoga kamu tidak mengecewakan Tuan Louis dan Om, karena seorang pembisnis itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas. Dalam berbisnis kita tidak boleh egois dan mencampur aduk dengan masalah pribadi. Aku tahu kamu mencintai Ayu, tapi kamu juga harus memikirkan perusahaanmu,'' tutur Om Surya panjang lebar.
''Iya, Om, aku tahu. Nanti aku akan pikirkan lagi.'' Angga berusaha meyakinkan hatinya.
''Om akan selalu berada di belakangmu sampai meraih kesuksesan seperti impian papamu. Om pergi dulu, ingat! Kesempatan ini tidak datang dua kali,'' terangnya sebelum pergi.
__ADS_1
Angga menatap om Surya yang menghilang di balik pintu tertutup rapat, ia tahu itu akan terjadi. Desakan demi desakan dari semua orang terdekat pasti akan ada, yang membuatnya berat hanya satu yaitu meninggalkan Ayu dan anak-anak. Selama lima tahun itu bukan hal yang mudah. Sehari saja tidak bertemu dengan wanita itu dunia Angga terasa hampa, apalagi ini adalah waktu hampir lima tahun, apa mungkin ia akan bertahan selama itu? Ataukah ada orang lain yang nantinya meminang Ayu?