Janda Tangguh

Janda Tangguh
Mantan


__ADS_3

Chika bergeming. Sekujur tubuhnya terasa lemas seketika hingga ia mencari sandaran untuk tetap bisa berdiri. Menatap punggung Hanan yang mulai menjauh meninggalkan tempat dimana ia diputuskan secara sepihak. 


Tak terima, mungkin begitulah hatinya berbicara. Namun apa daya, ucapan Hanan ada benar nya juga. Mereka baru berumur tujuh belas tahun dan belum sepatutnya menjalin cinta-cintaan layaknya orang dewasa. Meski hati merasakan perih menyayat bahkan hancur berkeping-keping tetap harus menerima keputusan itu. 


''Nona tidak apa-apa?'' Sopir yang mengantarkan Chika pun terpaksa mendekati sang majikan dan memastikan bahwa Nona mudanya baik-baik saja.


Chika menggeleng tanpa suara. Menyerahkan buku dan tasnya lalu kembali masuk dan duduk di jok belakang. 


''Antarkan aku pulang, Pak!'' ucapnya tersendat. 


Anak muda jaman sekarang, kalau putus cinta udah gak mau sekolah.


Sopir itu hanya melihat Chika menangis pilu dari pantulan spion yang menggantung. Kemudian mengangguk setuju. 


Tak ada kata yang terucap di sudut bibir gadis yang berambut panjang bergelombang itu. Namun dari sorot matanya terlihat kacau, bahkan semangatnya memudar dan seolah lenyap ditiup angin pagi. 


''Nanti kalau papa tanya bilang saja aku sakit, Pak,'' pinta Chika sambil memejamkan mata. 


Ia ingin melupakan apa  yang baru saja terjadi. Sulit memang. Perkenalannya selama tiga tahun membuat nya dan Hanan menjadi pasangan kekasih yang terbilang romantis. Bahkan sekalipun tak pernah berdebat dengan hal yang serius, hanya ada tawa yang tercipta. 


Mobil berhenti di depan rumah mewah yang bernuansa klasik. Chika langsung turun. Menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk dan bertemu orang tuanya lagi. 


Baru saja membuka pintu, seorang pria dan wanita berdiri menatap Chika dengan tatapan intimidasi. 


''Kamu kenapa, Chik?'' tanya wanita itu dengan lembut. Dia adalah Mirna, mamanya Chika.


Chika berhamburan memeluk dengan erat. Kembali, menumpahkan air matanya yang tersisa se iprit. 


''Kamu kenapa, Nak?'' tanya nya semakin panik dan mengelus pucuk kepala sang putri yang menangis tersedu-sedu. 


Sedangkan, pria yang memakai jas rapi itu mengangkat kedua pundaknya tanda tak mengerti. 

__ADS_1


''Mungkin uang sakunya kurang,'' ejek nya asal. 


''Ya sudah papa pergi dulu, jangan banyak menangis nanti jelek.'' Mengusap punggung Chika sebelum pergi. 


Mirna mengajak Chika ke kursi ruang tamu. Sebab, tempat itu lebih dekat. Mungkin dengan begitu, gadis itu bisa leluasa untuk bercerita tentang kejadian yang menimpanya.  


''Sekarang kamu cerita sama mama. Ada apa?'' tanya nya mencakup kedua pipi Chika. 


Ya, anak satu-satunya itu memang manja karena perlakuan kedua orang tuanya yang hampir tak pernah memarahinya. Bahkan Chika selalu dielu-elukan sebagai putri tercantik di keluarga besarnya. 


''Hanan mutusin aku, Ma. Dia gak mau lagi pacaran denganku,'' ucapnya masih terputus-putus. 


Mirna menahan tawa. Menganggap pengaduan putrinya itu sangat lucu, namun juga kasihan. Tak menyangka, di balik dandanannya setiap hari yang nampak cantik jelita, ada laki-laki yang merasuki ruang hatinya dan bersemayam di sana. 


''Ya sudah gak papa, lagipula kamu kan masih SMA, gak baik pacaran,'' tukas Mirna santai. 


Ya, mungkin bagi mereka yang tidak merasakan cukup ringan. Tinggal bicara saja, namun bagi Chika itu adalah masa terberat dalam hidupnya. 


''Tapi aku mencintainya, Ma.'' Chika masih ngotot dan tetap mengutarakan isi hatinya. Walau saat ini tidak ada harapan lagi. Ia tetap ingin bersama, bahkan tidak ingin putus seperti yang diucapkan Hanan. 


Terdengar helaan napas panjang. 


''Cinta tak harus memiliki, bukan? Itu artinya kamu bebas mencintai siapapaun. Tapi ingat, di tengah hubungan sepasang lawan jenis itu ada Allah yang menentukan. Kalian tidak bisa menerjang takdir dan jodoh, karena sedekat apapun jika Allah tidak menghendaki maka kalian akan tetap berpisah, jadi mama harap kamu mengerti. Jika Hanan itu jodohmu, maka suatu saat nanti Allah akan mendekatkan kalian, untuk saat ini fokuslah belajar. Katanya pengen jadi dokter,'' goda Mirna panjang elnar. 


Chika mengangguk. Hatinya mulai sedikit tenang. Walaupun masih terluka, setidaknya tak terlalu putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya seperti satu menit setelah mendengar kata putus dari bibir Hanan tadi. 


''Sekarang renungkan, apa yang harus kamu lakukan dan apa yang tidak. Maksud Hanan itu baik, kalian kan masih bisa berteman.''


Chika langsung ke kamar untuk menenangkan diri. Menyiapkan hati untuk menyapa hari esok saat bertemu dengan Hanan. Laki-laki yang saat ini hanya menjadi mantan.


Di ruangan 11B terlihat biasa saja. Seperti hari sebelum nya, berisik mewarnai tempat yang dipenuhi dengan mereka yang akan menimba ilmu. 

__ADS_1


Namun ada yang berbeda dengan Hanan, lelaki itu lebih banyak diam dan sesekali menjawab pertanyaan dari teman-temannya. 


''Kamu kenapa sih? Dari tadi diam saja?'' tanya salah satu laki-laki sambil menepuk lengan Kanan. 


''Gak ada apa-apa,'' jawab Hanan malas. Seolah tak ada semangat untuk belajar. Membuka buku untuk mengurangi rasa gelisahnya. 


Semoga Chika baik-baik saja, itulah yang terlintas dalam otaknya saat melihat bangku kosong di depannya. 


''Chika kemana nih, apa dia gak masuk lagi?'' tanya yang lainnya. 


''Iya, Nan. Kalau kemarin sama kamu, sekarang dia ke mana?'' Mereka menatap Hanan tatapan intens. Menunggu jawaban dari nya. 


Hanan membisu. Ia tak punya nyali untuk memberi jawaban yang jujur. Sudah dipastikan bahwa saat ini pasti Chika tidak masuk karena ucapannya tadi pagi. 


''Selamat pagi semuanya.''


Sapaan Bu Guru dari ambang pintu menyelamatkan ketegangan Hanan. Kini ia bisa bernapas lega, setidaknya mereka tak memberondongnya lagi dengan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. 


''Pagi, Bu.'' Mereka menjawab serempak.


Aku juga mencintaimu, Chik. Bahkan aku sangat nyaman saat berada di dekatmu, tapi aku sayang sama mama. Aku tidak mau dia kecewa dengan hubungan ini. Kalian dua wanita yang baik, tapi aku tidak bisa memilih Kalian berdua, harus ada hati yang tersakiti. 


Hanan mengusap air matanya yang sempat lolos. Ia pun tak sanggup jika harus bertatap muka dengan sang mantan suntuk saat ini. 


Hanan berdiri dari duduknya. Menenteng tas dan berjalan ke belakang. 


''Ray, kita ganti tempat yuk! Katanya kamu suka dengan Chika,'' ucap Hanan pada salah satu temannya yang juga menyukai Chika. Meski sedikit tak rela melihat gadis pujaan hatinya dekat dengan laki-laki lain, tetap Hanan lakukan demi kebaikan mereka berdua. 


Mata Ray berbinar seolah mendapatkan hadiah terindah. Laki-laki itu segera duduk di tempat Hanan, begitu juga sebaliknya. 


Maaf, Chik. Kalau kita sekarang hanya menjadi teman biasa. Tapi aku akan tetap mencintaimu dalam diam. 

__ADS_1


__ADS_2